Lo Kan Jelek, Mbak

Pada pertengahan tahun 2006, saya suka mengirimkan atensi ke sebuah acara malam salah satu stasiun radio di Jakarta. Atensi saya sering dibacakan. Maklum, namanya juga stasiun radio yang belum lama berdiri. Jadi, pendengarnya masih sedikit.

Suatu kali saya mencoba untuk menelepon radio itu. Saya memberanikan diri untuk bisa on-air bersama sang penyiar (Adrian Martadinata). Ternyata, berhasil. Saya bisa on-air bersama Adri.

Beberapa malam kemudian, saya kembali mengirimkan atensi ke acara tersebut. Tak berapa lama, Adri, sang penyiar, menelepon saya dan meminta saya untuk on-air bersamanya. Saya sangat setuju. Saya pun on-air untuk yang kedua kali. Bahkan Adri sempat mengajak saya untuk siaran bareng.

Keesokan harinya, adik perempuan saya berkata pada saya, “Mbak, lo tau nggak kenapa si Adri ngajakin lo siaran?”

“Nggak.” Jawab saya.

“Gue bilangin ya, Mbak. Suara lo tuh kalo di telepon beda. Bagus. Lembut. Gue yakin kalo si Adri ngajak lo siaran gara-gara suara lo itu. Kalo si Adri ngeliat lo, bisa pingsan dia.” Adik saya menambahkan lagi.

Dahi saya mengkerut. Bingung.

“Emang kenapa?” Tanya saya lagi.

“Lo kan Jelek, Mbak.”

Itu jawaban yang diberikan oleh adik perempuan saya.

Saya menghela nafas yang panjang. Dalam otak saya berputar pertanyaan, ‘Memangnya tampang penting ya untuk menjadi penyiar radio? Bukankah salah satu bekal untuk menjadi penyiar radio adalah suara yang empuk? Lagian kan tampangnya nggak kelihatan’.

Saya tidak terlalu memusingkannya. Sampai pada suatu saat saya kembali dihadapkan pada situasi yang memungkinkan adik perempuan saya untuk kembali berkata, ‘Lo kan jelek, Mbak’.

Saya sedang menulis sebuah buku. Ceritanya seputar dunia jurnalistik. Kehidupan para jurnalis sampai pada bagaimana situasi ruang redaksi. Tentu saja saya membutuhkan seorang narasumber. Dan narasumber itu pastinya adalah seorang jurnalis.

Saya memilih Bima Marzuki sebagai narasumber saya. Tak ada alasan khusus. Hanya karena dia pernah tenggelam saat meliput di atas bangkai kapal Levina I Februari silam.

Komunikasi dan diskusi lebih banyak dilakukan lewat telepon dan e-mail. Sampai pada suatu hari kami sepakat bertemu langsung untuk berdiskusi.

Sepulang dari pertemuan saya dengan Bima, adik perempuan saya kembali menghampiri saya. Dia pun mulai memberondong saya dengan berbagai pertanyaan seputar sang narasumber. Dan pertanyaan pamungkasnya adalah, “Gimana reaksi Bima waktu ngeliat lo, Mbak?”

“Biasa aja. Emang kenapa?” Kata saya.

Dan, dia pun mengeluarkan kalimat favoritnya pada saya.

“Dia nggak kaget? Lo kan jelek, Mbak.”

Setelah, entah untuk yang keberapa kalinya, dia mengatakan itu pada saya, saya kembali menghela nafas. Nafas panjang yang sama ritmenya setiap kali dia mengucapkan ‘Lo kan jelek, Mbak’ pada saya.

Ingatan saya kembali ke masa lalu. Dulu, waktu masih SD, saya sering mematut-matut diri di cermin. Memperhatikan dengan seksama wajah saya. Termasuk kategori yang manakah wajah saya? Cakep, cantik, manis, setengah manis, jelek, atau menjijikkan?

Sekarang pun saya masih suka mematut-matut diri saya di depan cermin besar di kamar tidur saya. Bukan untuk memastikan masuk kategori yang manakah muka saya. Tapi, untuk bersyukur. Bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan wajah yang begitu sempurna.

Mata saya memang tak sebulat Luna Maya. Hidung saya tak semancung Dian Sastrowardoyo, Bibir saya tak seseksi Titi Dj. Kulit wajah saya tak semulus Julie Estelle. Tapi, semuanya terpadu sempurna.

Hidung, mata, alis, bibir, semuanya berpadu dengan sempurna. Dan, saya yakin bahwa wajah ini adalah wajah terbaik yang diberikan Tuhan pada saya.

Saya teringat satu buku milik adik perempuan saya. Mr. And Mrs. Twitt, itu judulnya. Di dalam buku itu diceritakan bahwa Mrs. Twitt sebenarnya adalah wanita yang cantik.

Kemudian, Mr. dan Mrs. Twitt memiliki seorang tetangga wanita. Tetangga Mrs. Twitt ini memiliki badan yang gemuk, wajah yang bulat, dan lipatan yang jumlahnya sangat banyak di dagu. Yang jelas, Mrs. Twitt jauh lebih cantik daripada tetangga perempuan Mrs. Twitt.yang gemuk itu.

Tapi, apa yang dikatakan orang-orang di sekitar mereka? Orang-orang bilang tetangga perempuan Mrs. Twitt yang gemuk itu jauh lebih cantik ketimbang Mrs. Twitt. Mengapa bisa begitu? Tetangga perempuan Mrs. Twitt yang gemuk selalu mengisi hari-harinya dengan senyum dan kasih sayang. Sementara Mrs. Twitt, walaupun sebenarnya Mrs. Twitt tercipta dengan paras yang cantik, tapi hatinya penuh kebencian dan wajahnya selalu cemberut. Itulah yang membuatnya terlihat seperti monster.

Dari sini kita bisa tarik satu kesimpulan bahwa cantik yang sesungguhnya adalah cantik yang memancar dari dalam hati kita. Bahasa kerennya, inner beauty. Paras yang cantik bisa berubah menjadi monster ketika tidak diimbangi dengan attitude yang cantik juga.

Buat saya, apa yang dikatakan adik perempuan saya hanya angin lalu yang sekedar lewat tak meninggalkan jejak.    Ketidakcantikan wajah kita tidak akan menghalangi kita untuk membuat karya terbaik bagi bangsa. Lagipula, ketika kita tua kita akan sama-sama keriput. Keriput tak hanya menyerang mereka yang tidak cantik. Tapi, yang cantik pun juga.

So, cantikkan dirimu dengan mencantikkan hatimu.

2 Comments

  1. Saya nggak sengaja menemukan tulisan ini.. 🙂 makasih. inspiring bgt……. mengingatkan saya bahwa saya harus bersyukur karena semua organ tubuh saya bekerja dengan baik.. Saya nggak buta, nggak bisu, nggak tuli, dan saya juga nggak gila. Terimakasih Tuhan, atas karuniaMu yang selama ini terlupakan olehku.. 🙂 Tuhan bersama penulis. Amin <3

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *