Palestina di Piala Dunia 2010

Palestina tentu saja tidak menjadi peserta ajang paling bergengsi dalam dunia sepak bola yang dihelat setiap empat tahun sekali itu. Tapi, ada satu hal yang tidak kalah menarik daripada dua gol Thomas Müller ketika saya menyaksikan big match antara Jerman versus Inggris pada Mingggu (27/6).

Hadirnya bintang rock legendaris Inggris, Mick Jagger tentu saja membuat lensa kamera para pemburu berita terus merekam gerak-gerik vokalis The Rolling Stones itu. Ulah para supporter yang hadir dengan berbagai tatanan rambut dan face painting pun tak lepas dari buruan para pencari berita. Semua itu adalah hal yang lumrah terjadi dalam setiap even akbar sepak bola dunia.

Hal yang menurut saya tidak umum dan termasuk salah satu kejadian luar biasa adalah ketika kamera menyorot beberapa penonton –yang entah dari mana Negara asalnya- yang membentangkan bendera Palestina bertuliskan ‘FREE GAZA’. Ini adalah kali pertama saya menyaksikan ‘aksi damai’ membela Palestina di arena sepak bola. Setidaknya sejak tahun 1998, saat dimana saya mulai menggilai permainan kulit bundar ini.

Hal ini menarik karena aksi mereka ditayangkan di seluruh dunia, disaksikan miliaran pasang mata –mungkin termasuk Benyamin Netanyahu, Barrack Obama, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Walaupun hanya sekian detik saja masa penayangannya, saya optimis bahwa hal ini bisa menjadi pemicu bagi banyak orang untuk melakukan hal serupa dalam ajang sepak bola dunia.

Bukan hanya melulu tentang Palestina. Saya selalu berharap bahwa ada ikon yang kuat dari seorang pemain bola muslim yang hadir di lapangan hijau. Setelah Zinedine Zidane, kita kini boleh berharap pada seorang Mesut Özil.

Özil adalah pemain muda tim nasional  Jerman keturunan Turki. Usianya baru genap dua puluh dua tahun pada Oktober tahun ini. Di usianya yang masih begitu muda, Özil berhasil memikat dunia lewat kepiawaiannya mengolah si kulit bundar di lapangan hijau.

Di balik sinar bintangnya yang mulai berpendar di dunia sepak bola profesional, Özil memiliki keistimewaan yang lain. Gelandang serang yang kini bermarkas di klub Werder Bremen ini punya ritual khusus sebelum memulai tiap pertandingannya.

Tilawah Qur’an. Ya, Özil selalu mengawali setiap pertandingannya dengan membaca kitab suci umat Islam itu. Maka, bukanlah hal yang mengherankan ketika Özil selalu tampil gemilang dalam setiap laganya. Karena bukan hanya kekuatan nasionalisme yang ada dalam dadanya. Tapi, kekuatan dari Tuhan.

Ada lagi Sami Khedira. Rekan Özil di tim Nasional Jerman ini juga merupakan keturunan muslim Tunisia. Dari Perancis kita bisa menyebut nama-nama pemain muslim seperti Nicholas Anelka ataupun Franck Riberry. Dan yang tak kalah tenar adalah bomber turunan Bosnia berkewarganegaraan Swedia , Zlatan Ibrahimovic.

Ternyata banyak juga muslim yang berkiprah sebagai pemain bola kelas dunia. Saya pun sebagai calon ibu tidak lagi khawatir kalau nantinya anak laki-laki saya ingin menjadi pemain sepak bola kelas dunia asal dia punya kebiasaan tilawah Qur’an sebelum tanding seperti Özil.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *