Saya = Kambing =Conge’

Sebetulnya kalimatnya tidak sesederhana itu. Begini lengkapnya :

“Apa persamaan antara Tina dan Kambing ??” Jawabannya adalah: “SAMA-SAMA CONGE’!!!!”
Saya menyangkal dengan keras kalau saya punya conge’ atau, dalam bahasa yang lebih halus, menderita ketulian dalam tingkat yang tidak begitu mengkhawatirkan. Hal diatas terlontar dari seorang teman yang sedang kesal pada saya. Sebuah kejadian menjelang akhir tahun 2003.
Ketika itu kami semua sedang dihadapkan pada Ujian Akhir Semester. Saya bukan mahasiswa yang sangat pintar. Tapi, untuk mata kuliah yang satu ini, rasanya saya tak perlu belajar terlalu keras. Dengan modal banyak diskusi dan baca Koran saja pasti sudah cukup. Tak perlu alat hitung macam kalkulator merek Casio yang bisa menampilkan grafik ‘SINCOSTANGEN’ atau kertas coretan untuk menghitung hasil kali dengan nominal enam angka di belakang koma. Ini ujian yang sangat sederhana. Ini ujian mata kuliah Pancasila. Dan selama masa perkuliahan, saya adalah yang paling jago dalam mata kuliah ini HAHAHA……
Kursi ujian telah diatur renggang-renggang untuk meminimalisasi kemungkinan mahasiswa untuk mencontek. Walaupun namanya Universitas Indonesia, nggak ada jaminan bahwa semua mahasiswa nggak akan mencontek.
Saya pun mengambil kursi dekat meja pengawas dengan harapan bahwa nggak akan ada yang mengusik saya untuk meminta jawaban tentang soal apa bunyi sila-sila dari Pancasila.
Ujian dimulai. Semua berjalan lancar. Apalagi ternyata soal yang dimunculkan sebagian besar berasal dari paper yang saya buat. Mungkin sang dosen kehabisan bahan ujian atau memang saya lebih PANCASILAIS daripada dosen itu sendiri. Only GOD knows.
Menjelang akhir ujian, mulai terdengar suara ‘Sssstttt’ berkali-kali dari belakang, kanan, dan kiri saya. Saya mencoba mengabaikan dengan terus menuliskan jawaban-jawaban pada lembar jawaban yang telah disediakan.
Suara-suara ‘Sssstttt’ masih bergemuruh saat saya mulai berdiri untuk mengumpulkan lembar jawaban saya. Saya ingin segera keluar dari ruangan ujian dan terbebas dari berisiknya orang-orang yang meminta jawaban dari saya.
Ketika waktu ujian telah habis, mahasiswa pun berhamburan keluar dan beberapa langsung menghampiri dan memberondong saya dengan pertanyaan, “Lo denger nggak sih tadi gue panggil-panggil?”
Saya nggak mau bilang ‘Nggak’ karena saya dengar. Namanya bohong. Akhirnya saya jawab dengan, “Sorry, gue lagi konsen ngisi jawaban.”
Dan di penghujung berondongan tadi ada sebiah teka-teki yang kita sama-sama bisa baca di awal tulisan ini.
Hal tersebut tentu saja tidak membuat siapapun kesal, termasuk saya. Kami semua hanya tertawa. Karena kalau kesal pun tak ada gunanya. Toh ujian sudah selesai dan tidak ada ulangan kecuali bagi mereka yang mendapat nilai C- ke bawah. Ulangannya, tahun depan bersama adik kelas.
Mencontek adalah hal yang lumrah bagi sebagian pelaku dunia pendidikan. Mereka tentu saja hanya berorientasi hasil bukan proses. Yang penting lulus dengan nilai bagus.
Saya, bukan orang yang seperti itu. Saya mengukuhkan diri untuk tidak mencontek sejak kelas 1 SD. Karena di TK nggak ada ujian kan. Mencontek buat saya nggak pernah ada untungnya. Mencontek adalah sebuah perilaku menjatuhkan harga diri sendiri. Karena mereka yang mencontek lebih senang menuliskan jawaban orang lain ketimbang jawabannya sendiri. Kasihan.
Mau tahu hal yang lebih ekstrem lagi. Seorang ustadz pernah berkata sebagai pembuka ujian mata kuliah bahwa mereka yang mencontek disamakan dengan pengkhianat.
Maraknya fenomena mencontek di kalangan generasi muda merupakan hal yang patut menjadi keprihatinan dan harus segera dicari obatnya. Karena tongkat estafet perjalanan bangsa ini akan sampai di pundak generasi muda di kemudian hari. Apa jadinya kalau mereka yang memimpin bangsa ini adalah mereka yang suka mencontek?? Membuat bangsa ini tidak punya harga diri. Atau yang lebih parah justru mereka yang dipilih langsung oleh rakyat agar bekerja untuk rakyat dan digaji oleh rakyat malah berkhianat pada rakyat dan negaranya. Wallahu ’alam.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *