She is my new friend

She is my new friend. Tidak…. Tidak…. Sebetulnya nggak baru-baru banget sih. Mungkin sekitar hampir dua tahun saya mengenalnya. Mari, kita samarkan nama aslinya dengan APR.

APR adalah lulusan UI yang sekarang melanjutkan sekolahnya di Negeri Kincir Angin, Belanda. Studinya akan selesai dalam waktu………….. yang belum ditentukan. Karena kegiatannya yang padat yaitu tiga bulan di Belanda dan tiga bulan di Indonesia (???). Mari sama-sama kita doakan agar temanku yang pintar ini bisa segera menyelesaikan studinya.

Setiap dia pulang ke Indonesia selalu saja ada cerita yang membuat air liur menetes tentang kemudahan berburu Euro di negara yang bangsanya pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun itu. Kita mulai cerita kali ini dengan ceritanya tentang gaji seorang kuli cuci piring di sana.

Suatu pagi, sambil sarapan bubur ayam dan teh hangat, setelah sibuk membantu anak perempuannya menyelesaikan tugas kliping (Ya!!! Saya mengalami ‘kecelakaan’ hingga menjadi pengajar privat untuk anak perempuannya. Sebetulnya saya melamar untuk menjadi guru di sekolah dimana ibu dari APR menjadi kepala sekolahnya. Tapi, waktu itu saya nggak diterima jadi guru di sekolah itu. Saya malah diterima untuk menjadi guru privat anak perempuan APR. ‘Kecelakaan’ membawa berkah sebetulnya).

Percakapan pagi itu dimulai dengan, “Di Belanda tuh enak banget lho, Bu Tina. Bayangin aja!!! Temenku itu cuma jadi tukang cuci piring gajinya 6 juta sebulan!!!”

Saya langsung bergumam dalam hati, “Kalo di sini sih, tukang cuci piring gajinya 6 juta sebulan, bisa sampe bongkok-bongkok cuci piring kejar setoran.”

“Udah gitu, Bu Tina, cuci piringnya nggak kayak di sini. Pake abu gosok, ribet. Kan kalo di sana sih enak, ada mesin pencuci piring. Kotorannya tinggal dibersihin, disusun di rak pencuci piring, tinggal pencet deh tombolnya. Abis itu tunggu sampai selesai. Enak, santai, bisa sambil baca Koran.

Seminggu cuma dua kali dateng, sekali dateng paling cuma dua atau tiga jam, 6 juta sebulan. Asik kan??”

Saya hanya mengangguk bego. Enak banget ya.

“Itu, Bu Tina, temenku yang jadi tukang cuci piring tuh kandidat DOKTOR lho!!!”

Dan perbincangan di pagi hari itu berjalan dengan sangat timpang. Dimana APR berperan sebagai pembicara tunggal dan saya berperan sebagai pendengar yang fokus menganggukkan kepala.

“Ada juga yang tukang pos. Seminggu cuma dua hari kerja, sehari cuma tiga jam.”

She is my new friend. Tidak…. Tidak…. Sebetulnya nggak baru-baru banget sih. Mungkin sekitar hampir dua tahun saya mengenalnya. Mari, kita samarkan nama aslinya dengan APR.

APR adalah lulusan UI yang sekarang melanjutkan sekolahnya di Negeri Kincir Angin, Belanda. Studinya akan selesai dalam waktu………….. yang belum ditentukan. Karena kegiatannya yang padat yaitu tiga bulan di Belanda dan tiga bulan di Indonesia (???). Mari sama-sama kita doakan agar temanku yang pintar ini bisa segera menyelesaikan studinya.

Setiap dia pulang ke Indonesia selalu saja ada cerita yang membuat air liur menetes tentang kemudahan berburu Euro di negara yang bangsanya pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun itu. Kita mulai cerita kali ini dengan ceritanya tentang gaji seorang kuli cuci piring di sana.

Suatu pagi, sambil sarapan bubur ayam dan teh hangat, setelah sibuk membantu anak perempuannya menyelesaikan tugas kliping (Ya!!! Saya mengalami ‘kecelakaan’ hingga menjadi pengajar privat untuk anak perempuannya. Sebetulnya saya melamar untuk menjadi guru di sekolah dimana ibu dari APR menjadi kepala sekolahnya. Tapi, waktu itu saya nggak diterima jadi guru di sekolah itu. Saya malah diterima untuk menjadi guru privat anak perempuan APR. ‘Kecelakaan’ membawa berkah sebetulnya).

Percakapan pagi itu dimulai dengan, “Di Belanda tuh enak banget lho, Bu Tina. Bayangin aja!!! Temenku itu cuma jadi tukang cuci piring gajinya 6 juta sebulan!!!”

Saya langsung bergumam dalam hati, “Kalo di sini sih, tukang cuci piring gajinya 6 juta sebulan, bisa sampe bongkok-bongkok cuci piring kejar setoran.”

“Udah gitu, Bu Tina, cuci piringnya nggak kayak di sini. Pake abu gosok, ribet. Kan kalo di sana sih enak, ada mesin pencuci piring. Kotorannya tinggal dibersihin, disusun di rak pencuci piring, tinggal pencet deh tombolnya. Abis itu tunggu sampai selesai. Enak, santai, bisa sambil baca Koran.

Seminggu cuma dua kali dateng, sekali dateng paling cuma dua atau tiga jam, 6 juta sebulan. Asik kan??”

Saya hanya mengangguk bego. Enak banget ya.

“Itu, Bu Tina, temenku yang jadi tukang cuci piring tuh kandidat DOKTOR lho!!!”

Dan perbincangan di pagi hari itu berjalan dengan sangat timpang. Dimana APR berperan sebagai pembicara tunggal dan saya berperan sebagai pendengar yang fokus menganggukkan kepala.

“Ada juga yang tukang pos. Seminggu cuma dua hari kerja, sehari cuma tiga jam.”

“Kalo di café, tipnya gede, bisa sampe 1000 Euro.”

Silahkan dikonversi sendiri ke dalam rupiah!!  Jumlahnya pasti banyak.

“Ada lagi yang kuliah nggak kelar-kelar gara-gara jualan tape di Belanda. Dia disuruh sama emaknya kuliah jauh-jauh di Belanda biar jadi dokter, eh dia malah jualan tape. Apalagi kalo KBRI ngadain acara. Laris banget. Nggak jadi dokter tuh sampe sekarang. Tapi, jadi juragan tape di Belanda, tajir!!!”

“Pokoknya sih kalo di Belanda,lowongan banyak, Bu Tina. Orang yang pake cadar aja masih bisa dapet kerjaan di sana.

Bu Tina tau kan orang yang pake cadar itu, yang sampe matanya ditutup sama kain tipis??”

Saya mengangguk.

“Iya. Dia aja bisa diterima kerja di Belanda. Jadi Vallet Parking. Walaupun kadang-kadang dia suka dikejar-kejar karena disangka ekstrem.”

Bubur ayam tandas. Tapi cerita masih berlanjut.

“Pokoknya kalo masalah materi mah di Belanda gampang deh, Bu Tina. Sekarang di sana lagi butuh banget tenaga medis, kayak perawat. Gajinya bisa 5000 Euro sebulan. Enak deh, Bu Tina. Apa-apa gampang. Harga barang kebutuhan murah.

Bu Tina nih misalnya mau naik haji, nggak usah repot nunggu jatah berangkat. Nggak kayak di sini, disuruh nunggu sampe tahun depan atau tahun depannya lagi. Kalo di Belanda, daftar hari ini, besok berangkat juga bisa.”

Dahi saya mengernyit, dua alis bertaut. “Kok bisa??”

“Ya iyalah. Di sana kan muslimnya sedikit, nggak kayak di sini. Jadi, kalo di sana nggak perlu ngantri.

Trus, kalo ongkos naik haji dari Indonesia kan mahal ya. Kalo di Belanda, dibayarin sama pemerintahnya. Karena dihitung tunjangan liburan. Asik kan?? Pokoknya Eropa tuh makmur banget, Bu Tina.

Bayi yang baru lahir itu langsung dapet tunjangan kalo di sana. Pengangguran, orang yang belum dapet pekerjaan, kalo di sana dapet tunjangan, Bu Tina. Sekolah gratis sampe SMA. Kalo di Jerman, sampe kuliah gratis. Di Belanda, yang dapet beasiswa emang yang bener-bener pinter. Tapi, karena biaya kuliah mahal, mereka dipinjemin dana kuliah oleh pemerintahnya, jadi ngutang gitu maksudnya. Bayarnya nanti kalo mereka udah pada lulus kuliah dan kerja.

Nanti, gajinya dipotong sedikit-sedikit untuk bayar utang uang kuliahnya. Tapi, itu juga nggak bakal ngebebanin. Soalnya cicilannya keciiillll banget. Paling sebulan cuma berapa puluh Euro. Sementara gaji mereka bisa 7000 Euro sebulan. Gak bakal berasa kan?”

Saya membayangkan uang yang banyak itu kalau dibelikan cendol bisa menutupi danau Toba di Sumatera sana hingga berganti nama menjadi danau Cendol.  Saking banyaknya. Tapi, yang merayapi hati saya bukan nilai material dari uang itu. Tapi, apa yang bisa kita lakukan dengan uang sebanyak itu.

Saya ingat ketika APR cerita bahwa dia baru makan di Blok M atau S, saya lupa. Kemudian dia melihat seorang bapak dengan tampang desperate menjual buku tulis yang jumlahnya masih sangat banyak. Mungkin sejak pagi jualan belum ada yang membelinya.

Kemudian APR memanggil dan menanyakan harga buku-buku itu. Pertanyaan APR selanjutnya pada bapak penjual buku itu adalah, “Masih ada lagi, gak?”

Tentu saja si bapak dengan semangat mengangguk dan mengatakan masih ada.

Semua buku si bapak diborong oleh APR. kontan. Lunas. Tunai.

Esoknya APR memanggil saya. Dia mengatakan bahwa dia baru saja memborong banyak buku. Dia minta saya menyalurkan buku-buku itu pada anak-anak yang memang sangat membutuhkannya. Alhamdulillah, kebetulan saat itu saya sedang memabantu seorang teman untuk menghimpun bantuan bagi anak yatim atau dhuafa yang kurang mampu. Matching.

Belum lagi zakat profesi yang dia keluarkan dari gajinya yang sangat besar untuk ukuran orang Indonesia. Belum lagi kegiatannya untuk ber qurban pada hari raya Idul Adha. Belum lagi infaq dan sodaqohnya. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan uang yang banyak.

Jadi orang yang punya uang banyak itu tidak salah selama uangnya mengalir ke tempat yang benar dan tepat sasaran. Bukan mengalir ke kantong oknum polisi atau oknum kejaksaan untuk kegiatan suap-menyuap.

Tak inginkah kita menjadi seperti seorang Utsman r.a. yang hartanya digunakan untuk membebaskan tanah guna membangun kompleks masjid Nabawi?? Bayangkan pahala jariyah yang mengalir untuk Utsman r.a. mulai dari semenjak masjid Nabawi dibangun sampai dengan hari ini!!

Atau masih ingatkah kita tentang kisah perang Tabuk dimana Utsma r.a. menyumbangkan total 900 ekor unta dan 100 ekor kuda belum termasuk uang kontan??? Abu Bakar r.a. yang menyerahkan 4000 dirham (1 dirham  nilainya sekitar Rp. 40.000)??

Banyak yang bisa kita lakukan dengan uang yang banyak. Kita bisa bantu semakin banyak orang dengan uang yang kita miliki.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *