Ketika Kita Memakai Batik

Industri pakaian jadi adalah industri dengan nafas yang tak pernah berhenti. Pakaian digunakan oleh semua manusia. Mulai dari lahir hingga masuk dalam liang kubur.
Industri pakaian jadi, apabila digeluti sebagai sebuah bisnis, akan menghasilkan nominal yang menggiurkan. Dan yang tak kalah penting adalah penyerapan banyak angkatan kerja. Hal ini tentu saja mengurangi jamlah pengangguran. Apalagi sekarang banyak berdiri industri-industri pakaian jadi skala kecil alias rumahan. Ini berimbas langsung pada penyerapan angkatan kerja di masyarakat.
Tapi,sekarang banyak pakaian jadi merupakan barang import. Terutama dari negeri tirai bambu, Cina. No wonder, bahannya memang lebih bagus. Dan harganya sangat kompetitif. Kadang-kadang harga barang-barang Cina jauh lebih murah ketimbang barang lokal. Ngurut dada? Pasti. Tapi pilihan kan ada di tangan konsumen. Apalagi buat pedagang seperti saya ini. Tentunya akan menjual barang-barang yang lebih digandrungi masyarakat dong supaya mereka mau beli ke saya.
Namun, dipikir-pikir, nggak adil rasanya kalau saya memberikan ruang begitu besar terhadap barang-barang import dengan alasanbarang-barang tersebut lebih laris. Saya berpikir, pasti ada barang lokal yang oke juga. Yang murah, laris dijual di toko saya, dan mampu membantu mengembangkan industri pakaianjadi di tanah air.
Pilihan saya jatuh kepada batik. Ya, Cina tidak memproduksi pakaian jadi seperti batik. Korea juga tidak. Apalagi Amerika. Batik ada di Indonesia. Dengan beragam corak dan motif yang atraktif. Dan, terima kasih kepada pemerintah yang kali ini membuat kebijakan ‘pake otak’, hari jumat adalah hari wajib menggunakan seragam batik. Yuhuuuu….
Saya langsung pergi ke Pekalongan untuk berburu batik. Masya Allah, luar biasa. Hampir setiap rumah adalah penggiat industri batik. Mulai dari juragan batik yang memiliki banyak toko sampai tukang pasang kancing kemeja batik.
Saya terkagum-kagum dengan cara bisnis batik ini. Tidak ada monopoli, semua dibagi-bagi. Hirarki industri yang sangat apik. Ada bagian masyarakat yang hanya mengerjakan pembuatan motif kain batik nya sajal dengan warna-warna alami lho. Sehingga tidak mencemari lingkungan. Ada lagi bagian yang mengerjakan proses jahit-menjahit. Yang menggunting pola, beda. Yang menjahit pola, beda. Yang membuat lubang kancing, beda lagi orangnya. Kebayang kan berpa banyak jumlah angkatan kerja yang terserap. Belum lagi tenaga penjaga toko batiknya. Tidak heran kalau hampir seluruh masyarakat di daerah Pekalongan memiliki keterkaitan dengan industri batik.
Dan, batik yang senantiasa kita pakai, mulai dari daster sampai kemeja, akan terus menjaga nafas industri batik ini untuk tetap terus berjalan. Dengan memakai batik, secara tidak langsung kita telah membantu membangun ekomomi bangsa Indonesia, walau hanya sedikit saja.
Semoga menggugah dan memberi inspirasi 🙂

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *