Menjadi Pengusaha

Menurut yang pernah saya baca, ada tiga jenis usaha yang bisa kita lakukan agar berada dalam posisi yang aman secara ekonomi.

Aman secara ekonomi adalah kondisi dimana kita tidak perlu khawatir tentang bencana PHK yang selalu menghantui para karyawan atau mereka yang menunggu gaji bulanan dari si bos. Intinya, uang mengalir sendiri.

Kebanyakan orang bekerja untuk menghasilkan uang. Kemudian, uang-uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini adalah posisi yang bahaya. Bahaya ketika perusahaan bangkrut dan pekerjaan melayang. Apalagi yang bisa diandalkan untuk menghasilkan uang.

Orang-orang yang bekerja hanya untuk menghasilkan uang juga rawan stress. Karena mereka harus menukar waktu sekitar 8-9 jam per hari dengan uang gaji yang rasa-rasanya nggak sepadan-suami saya berangkat jam 7.30 pagi dan pulang jam 6 sore, lima hari seminggu dengan gaji 5juta saja. Bersyukur sih dengan gaji yang lumayan, tapi berapa banyak moment berharga yang dia lewatkan dengan anak???-.

Pola aman yang bisa kita terapkan adalah bekerja untuk menghasilkan uang yang mana uang tersebut kita sisihkan sebagian untuk kebutuhan sehari-sehari, sebagian lagi untuk membangun ASET.

ASET adalah inti dari keamanan ekonomi yang saya maksud diatas. Ketika kita sudah memiliki aset berharga yang berjalan dengan sistem tertentu, maka hantu PHK dan kehilangan waktu bersama keluarga akan lenyap.

Ada tiga sistem membangun aset. Pertama, konglomerasi atau membangun usaha sendiri, dengan modal sendiri, menentukan produk sendiri, membangun sistem sendiri, semuanya mulai sendiri.

Konglomerasi bisa dimulai dengan modal yang kecil. Namun, sebagian besar jenis usaha ini dimulai dengan modal yang nilainya fantastis. Bisa sampai puluhan bahkan ratusan miliar.

Memulai usaha jenis ini dibutuhkan usaha dan ketekunan. Sistem yang dicoba belum tentu berjalan mulus. Trial&error berlaku pada jenis usaha ini. Konglomerasi rawan gagal. Tapi, sekali kita berhasil menjalankan sistemnya, maka keuntungan yang diraih juga akan besar, we’ll never imagine before.

Kedua adalah franchise atau waralaba. Ini adalah jeenis usaha yang minim resiko tapi, rasa-rasanya hanya orang-orang kaya saja yang bisa menjalankan bisnis jenis ini.

Kita hanya cukup membeli lisensi yang didalamnya juga sudah termasuk manajemen karyawan, pengadaan barang dan jasa, pokoknya semua sistem yang menyangkut alur kelangsungan usaha sudah terjamin. Kita juga harus menyediakan tempat.

Mudah, karena sistem yang akan dijalankan sudah terbukti berhasil. Kita tidak usah capek-capek mencoba berbagai macam cara yang belum tentu berhasil seperti pada jenis usaha konglomerasi.

Merek-merek besar yang menyediakan sistem franchise atau waralaba misalnya adalah berbagai resto cepat saji seperti Mc.D, KFC, dan lain-lain. Ada lagi minimarket semisal Indomaret atau Alfamart.

Namun, berapakah harga lisensinya?? Pada tahun 2006, lisensi sebuah resto cepat saji bisa mencapai 8milyar. Minimarket bisa mencapai 500juta-1milyar. Itu lisensinya saja. Belum tempat dan gedungnya.

Tapi, kalau kita punya satu saja resto cepat saji, rasa-rasanya setiap hari akan jadi hari libur untuk keluarga.

Yang ketiga, dan ini yang sepertinya sedang banyak digandrungi adalah personal franchise atau network marketing atau lebih dikenal dengan nama multi level marketing atau MLM.

Eeeiiitttssss, jangan alergi dulu dengan kata yang satu ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, memang banyak yang berhasil jalani bisnis jenis ini.

Kita yang nggak punya modal besar tapi punya semangat segede gajah, biasanya cocok jalani bisnis seperti ini. Tapi, buat nggak bisa konsisten, rasa-rasanya kan mundur di tengah jalan alias menyerah.

Pilihan ada di tangan kita. Apa pun pilihannya, kerja keras dan kerja cerdas tetaplah hal paling penting yang harus dikerjakan. Tanpa itu, kita tetap bisa jadi orang kaya sih. Tapi, hanya dalam mimpiiiii…. :):)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *