Cyber dakwah: Era baru penyebaran nilai-nilai islam

Tak bisa dipungkiri bahwa beberapa tahun belakangan sebagian besar orang lebih memilih ber-internet untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan ketimbang membuka buku yang begitu tebal. Begitu banyak alasan mengemuka seiring hadirnya fenomena ini. Alasan efisiensi waktu dan tenaga mengambil porsi terbesar. Hal ini seharusnya membuka jalan baru bagi menyebarnya nilai-nilai Islam. Terbuka lagi satu jalan. Kalau dulu kita harus menghadiri tabligh atau membaca buku yang begitu tebal dan banyak, sekarang bisa lebih mudah dengan hadirnya teknologi bernama internet.

Dengan menggunakan search engine, kita tinggal mengetikkan kata kuncinya dan terpaparlah sekian juta informasi yang kita butuhkan.

Sudah banyak organisasi ataupun kelompok Islam yang memanfaatkan teknologi ini untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Dan sekarang semakin berkembang lagi dengan hadirnya personal website.

Website adalah situs dimana situs tersebut tersambung dengan jaringan internasional sehingga bisa diakses kapanpun dan dari penjuru dunia manapun. Isinya bisa berupa tulisan, gambar, ataupun gambar bergerak. Beberapa tahun yang lalu, hal semacam ini biasanya hanya dimilki atau dikelola oleh sebuah organisasi ataupun perusahaan. Namun, seiring perkembangan zaman dan tingginya kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, maka berkembanglah website yang dimiliki oleh perorangan.

Beberapa keuntungan tentu saja didapatkan dengan hadirnya personal website.

Pertama, bagi para dai yang belum begitu mumpuni dalam ilmu-ilmu Islam bisa menuangkan ide sesuai dengan kapasitasnya. Tidak ada tuntutan besar seperti layaknya ulama yang ingin menulis buku. Ilmunya harus mendalam dan komprehensif.

Kedua, situs yang kita buat bisa diakses kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja. Tidak ada batasan waktu dan wilayah. Selama kata kunci yang dimasukkan adalah kata kunci yang spesifik, maka ketika seseorang mengetikkan kata kunci tersebut pada search engine pasti tulisan kita akan terpapar.

Ketiga, kita bisa membuka forum dengan visitors yang mengunjungi situs milik kita. Forumnya bisa macam-macam. Bisa opini, saran, kritik, informasi, atau hanya sekedar sharing pengalaman. Hal ini tentu saja bisa membuat simpul baru silaturahim. Walaupun awalnya di dunia maya, namun selalu ada harapan untuk terus berlanjut ke dunia nyata.

Keempat, kita bisa membuat situs tanpa biaya. Sekarang banyak yang menyediakan domain gratis. Bagi yang berkantong tipis tapi ingin mengepakkan sayap dakwah di dunia maya, bisa menggunakan fasilitas ini. Kita bisa menggunakan .co.cc, . info, .tk dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kelima, bagi yang ingin mendulang dollar juga bisa memanfaatkan sarana ini. Kita hanya tinggal menyediakan space di halaman website kita. Selanjutnya kita apply website kita ke situs semacam Google Adsense atau yang lokal juga banyak. Kalau website apply kita di-approve, maka akan ada iklan yang terpampang di halaman website kita. Dan setiap klik iklan ada kompensasi dollarnya. Setiap kelipatan 10 dollar cek akan dikirimkan ke alamat kita dan bisa dicairkan di bank manapun.

Dengan keuntungan yang begitu banyak, ironisnya, masih begitu banyak dai yang tidak memanfaatkan sarana ini. Padahal kalau sarana ini dimanfaatkan dengan maksimal dan optimal, mungkin hasilnya juga akan luar biasa.
Kemudian, ada kendala bahasa. Kalau website kita menggunakan bahasa Indonesia, tentu saja yang membacanya hanya orang-orang yang mengerti bahasa Indonesia. Yang tidak mengerti bahasa Indonesia, minggir dulu!!
Kelemahan yang ketiga adalah ketidakhadiran ikatan emosional yang kuat. Karena forum yang terbentuk bukan forum yang berada dalam satu majelis. Walaupun ada teknologi skype yang memungkinkan tatap muka secara langsung tapi suasana emosionalnya akan berbeda dengan pertemuan langsung.

Lepas dari segala keunggulan dan kekurangannya, personal website tetap memberikan peran kontribusi bagi dunia dakwah. Tersebarnya nilai-nilai Islam adalah hal yang niscaya terjadi. Kita bisa menggiring opini menuju citra dunia Islam yang positif melalui sarana semacam ini.

Maka, saya rasa sangat penting bagi para dai untuk mencoba memanfaatkan sarana ini. Ada beberapa hal yang bisa jadi bahan pertimbangan supaya sarana ini bisa memberikan hasil yang maksimal bagi poerkembangan dakwah.

Pertama, kontinuitas atau keistiqomahan dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Islam itu sendiri baik berupa tulisan, gambar, ataupun gambar bergerak. Up date informasi harus sering dilakukan agar website kita tidak menjadi website yang ‘basi’ dan tidak ada yang mengunjungi.

Kedua, kemampuan berbahasa juga sangat mendukung terdongkraknya jumlah visitors. Selain bahasa Indonesia, mungkin bahasa Inggris dan Arab bisa menjadi prioritas bahasa selanjutnya. Hal ini dimaksudkan untuk memperluas cakupan objek dakwah.

Ketiga, untuk bisa mengelola website dengan baik dan berkualitas isinya, kita tentunya harus rajin membaca dan menggali ilmu. Sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit.
Akhirnya, semoga sarana apapun yang kita gunakan dapat membuat nilai-nilai Islam makin menjalar di muka bumi dan menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Amin.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *