Hilangkan Khawatirmu!!

Suatu hari ada seorang teman yang meminta saya menjadi tempat curhat-nya. Saya setuju. Kami pun mencari satu tempat yang tidak cukup banyak dilalui banyak orang.

Setelah kami menemukan posisi duduk paling pas bagi kami masing-masing, dia pun mulai bercerita dan saya mendengarkan dengan seksama.

“Saya merasa seperti seorang pecundang. I feel like a looser.” Dia berkata dengan kepala tertunduk dan suara yang pelan.

Dahi saya mengkerut. Dalam hati, saya mencoba menerka-nerka tentang sebab yang membuat teman saya ini menjadi begitu ciut. Dan, saya berkeyakinan bahwa sebab itu pastilah sebab yang besar.

Kemudian teman saya ini melanjutnya curhat-nya.

“Saya sudah membuat sahabat terbaik saya merasa tersinggung. Dan, itu sangat cukup untuk membuat saya merasa seperti pecundang.”

Saya menghela nafas panjang demi mendengar perkataannya. Saya diam sejenak. Menanti kata apa lagi yang akan mengalir dari mulutnya.

Sekian menit saya menunggu. Tak ada ucapan yang terlontar dari teman saya ini. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk bertanya padanya.

“Memangnya dia bilang apa sama kamu soal ketersinggungannya sampai-sampai kamu merasa seperti pecundang?” Tanya saya.

Saya menunggu jawaban dari teman saya.

Dia menggelengkan kepala sambil berkata, “Dia nggak bilang apa-apa. Tapi, saya merasa dia tersinggung dengan perkataan saya. Saya takut dia nggak mau berteman dengan saya lagi.”

Dahi saya kembali mengkerut. Tentu saja dengan jumlah kerutan yang jauh lebih banyak daripada sebelumnya.

Sebagian dari kita tentu pernah, bahkan sering, mengalami kejadian yang baru saja saya ceritakan. Atau malah kita sendiri yang menjadi objek penderitanya.

Seringkali kita atau orang-orang di sekitar kita dipusingkan oleh hal-hal yang sebetulnya tidak terlalu besar. Kita bisa tiba-tiba merasa begitu tak berguna karena hal-hal yang remeh. Dan, yang lebih parah lagi adalah kadang hal-hal yang membuat kita merasa tak berguna adalah hal-hal yang hanya ada dalam kepala kita. Hanya sangkaan kita.

Denis Waitly dalam bukunya Seeds Greatness(1983) memaparkan satu hasil penelitian yang mengejutkan. 60% kekhawatiran kita sebetulnya tidak mendasar. Ketakutan itu tidak pernah menjadi kenyataan. 20% kekeliruan kita terfokus pada masa lalu. 10% kekhawatiran kita disebabkan pada hal-hal sepele sehingga tidak menghasilkan perbedaan dalam hidup kita. 10% sisanya, hanya empat sampai lima persen ketakutan yang dianggap beralasan.

Statistik Denis ini sekaligus menunjukkan bahwa setiap waktu atau energi yang kita serahkan kepada kekhawatiran itu sama sekali sia-sia dan 95% tidak produktif. Bahkan hal itu pula yang membuat kita enggan untuk melakukan sesuatu. Kita sibuk berkutat dengan kekhawatiran semu yang berputar di otak kita.

Dan, tahukah kita bahwa bahwa sesuatu yang berputar dalam otak kita itu bisa menjadi suatu kenyataan manakala kita betul-betul meyakininya.

David J. Schwartz dalam bukunya yang sangat laris dan fenomenal, The Magic Of Thinking Big, menuliskan bahwa tiga dari empat tempat tidur di rumah sakit diisi oleh mereka yang sebetulnya sehat. Mereka hanya khawatir tentang kesehatan mereka dan mereka merasa diri mereka sakit. Akhirnya, mereka betul-betul sakit dan terbaring di rumah sakit.

Kita lihat, begitu hebatnya perasaan khawatir hingga mampu membuat kita sakit dan terbaring di rumah sakit. Begitu hebatnya perasaan khawatir hingga mampu membuat hidup kita menjadi begitu tidak produktif.

Saya juga mengenal beberapa orang pegiat Multi Level Marketing(MLM) yang sukses luar biasa. Banyak dari mereka yang berangkat dengan perasaan khawatir. Khawatir gagal. Khawatir ditolak. Khawatir produknya tidak laku. Khawatir bisnis mereka tidak berkembang. Banyak kekhawatiran yang lainnya. Namun, mereka bercerita dengan mata yang begitu berbinar, kekhawatiran itu hanya sedikit saja yang  menjadi kenyataan. Dan, mereka bilang, mereka tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi pada hidup mereka ketika mereka menuruti rasa khawatir mereka dan mundur dari bisnisnya.

Kita kembali pada cerita teman saya. Dalam beberapa hari setelah curhat. Saya menemukannya begitu murung setiap hari. Akhirnya, saya katakan padanya untuk bertanya langsung pada sahabatnya.

Beberapa waktu kemudian, dia datang lagi kepada saya. Dengan wajah yang bahagia. Senyum yang tersungging dan mata yang berbinar.

“Dia nggak marah kok.” Katanya.

Lihatlah!! Betapa rasa khawatir tak memberikan kita banyak hal positif.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada teman saya jika dia terus berkutat dengan rasa khawatir yang hanya ada dalam kepalanya. Mungkin teman saya ini akan mendiamkan sahabatnya karena sesuatu yang tidak jelas. Membuatnya murung setiap hari dan enggan melakukan banyak hal produktif.

Mulai dari sekarang, mari kita sama-sama melawan rasa khawatir dalam diri kita. Kekhawatiran dalam hal apapun. Kekhawatiran tidak diterima di sekolah favorit, kekhawatiran gagal dalam bisnis, kekhawatiran akan nilai ujian. Kekhawatiran dalam hal apapun.

Mari kita sama-sama tinggalkan rasa khawatir kita. Rasa khawatir yang hanya membawa kita pada prasangka tak baik. Rasa khawatir yang membawa kita pada kehidupan yang tidak produktif. Rasa khawatir yang membuat kita mengisi tiap menit kita dengan kemurungan.

Dan, mari kita ucapakan SELAMAT TINGGAL pada rasa khawatir kita.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *