Kebangkitan Nasional : Esensi atau seremoni

Kemarin, tanggal 20 Mei 2010, kalau kita saksikan dengan cermat berbagai acara di televisi, maka banyak konser musik yang ditayangkan dengan tema Kebangkitan Nasional. Beberapa acara kuis juga dibuat lebih meriah, ada pawai sepeda yang ditayangkan secara langsung lewat layar kaca, bahkan ada talkshow dengan selebritis sebagai bintang tamu tak mau kalah mengangkat tema Kebangkitan Nasional.
Berbagai iklan pun mengangkat tema Kebangkitan Nasional. Instansi pemerintah  turut menyelenggarakan upacara memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Murid-murid di sekolah juga diajarkan tentang  Hari Kebangkitan Nasional dan siapa tokoh yang berdiri di belakangnya. Kemarin, tanggal 20 Mei 2010, semua serba berbau Kebangkitan Nasional.

Hari ini, setelah tanggal 20 Mei 2010, hari berjalan seperti biasa. Kemeriahan peringatan Hari Kebangkitan Nasional pun menguap bersama teriknya sinar mentari yang hadir mengawal pagi. Semua hilang. Lenyap. Yang ada hanyalah sisa acara konser musik, kuis, pawai sepeda, dan talkshow. Yang terserak hanyalah sampah.

Peristiwa semacam ini tentu saja tidak hanya terjadi di tahun 2010. Masih lekat dalam ingatan kita peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada tahun 2008. Peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan besar-besaran dihelat oleh pemerintah di GELORA Senayan dengan dihadiri oleh Kepala Negara dan jajarannya. Luar biasa mewah dan tentu saja menelan jumlah rupiah yang tidak sedikit.

Upacara, upacara, dan upacara. Berbagai seremoni selalu digelar setiap tahun untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional tanpa menyadari bahwa seremoni tak pernah berbuat banyak untuk negeri ini.

Apakah seremoni Hari Kebangkitan Nasinal bisa membebaskan negeri ini dari hutang luar negeri yang tidak akan habis dibayar oleh lima generasi mendatang? Apakah seremoni Hari Kebangkitan Nasional bisa menetralisir angka pengangguran yang makin membumbung di negeri ini? Apakah seremoni Hari Kebangkitan Nasional bisa menurunkan angka bayi dan ibu melahirkan yang meninggal di negeri ini? Meningkatkan kualitas pendidikan? Mengurangi jumlah koruptor? Mari kita sama-sama menggelengkan kepala. Karena, jawabannya pasti tidak. Kalau iya, kita tentu sudah bebas dari semua masalah yang melilit urat nadi bangsa ini.

Para pendiri bangsa ini telah memberikan lebih dari contoh nyata bagaimana caranya  bangkit bersatu dari sifat kedaerahan yang membuat Indonesia terpecah belah. Orang –orang tua kita telah memberikan kerja nyata tentang bagaimana caranya memerdekakan Indonesia dari penjajah bernama Belanda. Mereka yang telah mendahului kita telah memperlihatkan bagaimana caranya membuat bangsa ini menjadi besar dan berdiri tegak tanpa bayang-bayang dominasi negeri-negeri utara.

Yang harus kita lakukan sekarang hanya meneruskan tongkat estafet dari tangan mereka.  Sekedar seremoni tentu tak bisa memberikan apa-apa bagi negeri ini. Ada esensi yang harus ditangkap dan dilanjutkan oleh para pewaris negeri lewat Kebangkitan Nasional 1908.

Sejatinya, bangkit adalah bergerak meninggalkan keterpurukan. Indonesia yang kita cintai ini tengah dirundung badai yang tak berkesudahan. Mulai dari badai politik, ekonomi, hukum, sosial, dan pendidikan. Hal ini tentu saja mengharuskan semua komponen bangsa bergerak mencari solusinya. Karena bumi pertiwi bukan hanya milik presiden dan jajarannya. Bukan juga milik para anggota dewan. Indonesia miliki kita, milik rakyat Indonesia. Maka kitalah yang harus bergerak membangunkannya agar segera lepas dari berbagai macam krisis yang melanda.

Seremoni Hari Kebangkitan  Nasional memang telah usai dengan membawa pergi segenap suasana gegap gempitanya. Namun,  hari ini dan seterusnya adalah sebuah pembuktian, sebuah kerja dan langkah nyata bahwa Indonesia akan benar-benar bangkit dengan segala kebesarannya.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *