Lima Kesalahan Dalam Meminta

Manusia sangat memerlukan sandaran yang dapat memberikan kekuatan kepada dirinya pada saat dia lemah, ketika segala kekuatan di luar dirinya tidak mampu lagi menopang dan menunjang dirinya, di waktu semua jalan keluar serasa tertutup baginya.

Pada saat seperti itu tiada jalan bagi manusia untuk dapat menentramkan diri, menenangkan hati, dan menjernihkan pikirannya, selain hanya mengadukan nasib dan keadaannya kepada Yang Maha mutlakmengatur dan menentukan jalan hidupnya. Dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Yang Mahamutlak ini adalah dengan meminta, memohon, dan berdoa.
Meminta dan berdoa itu, berfungsi sebagai sarana pengaduan rnanusia yang tengah tercekam oleh kemelut, kesusahan, dan penderitaan. Meminta tidak semata-mata dimaksudkan untuk memohon pertolongan kepada Allah agar Dia melepaskan kita dari kesulitan dan penderitaan. Tetapi meminta juga sebagai sarana memohon kepada Allah untuk mening-katkan kualitas dan kemampuan diri kita, sehingga dapat melakukan segala tugas yang kita emban dengan baik dan berhasil.

Untuk mencapai maksud ini, kita tidak mampu bersandar pada kekuatan diri sendiri atau pertolongan sesama manusia, sebab rintangan yang kita hadapi ternyata jauh lebih besar dari kekuatan yang kita miliki dan kekuatan manusia secara keseluruhan. Sayangnya, permintaan dan doa kita kepada Allah seringkali tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, padahal kita merasa telah melakukannya di banyak waktu dan kesempatan. Mungkin penyebabnya, karena kita melakukan banyak kesalahan di saat meminta. Dan kesalahan-kesalahan itu luput kita kenali sehingga hasilnya jauh dari harapan. Di sini, mudah-mudahan kita bisa mengenali seba-gian dari kesalahan-kesalahan itu. Lima di antaranya sebagai berikut.

1. Tidak Bersabar Menunggu jawaban

Keimanan seorang mukmin akan tampak jelas tatkala ia ditimpa musibah atau cobaan. la rajin berdoa dan meminta, namun terkadang tidak ada jawaban, tapi hal itu tak pemah membuatnya putus harapan, meskipun alasan untuk itu sangat kuatir. Itu karena ia meyakini bahwa Yang Mahabenar lebih mengetahui maslahat bagi hamba-Nya.
Tertundanya jawaban dimaksudkan agar si hamba bersabar dan semakin kuat imannya. Allah tidak akan berlaku dernikian kecuali Dia menginginkan hati si hamba pasrah dan melihat sampai sejauh mana kesabarannya, atau agar ia banyak berlindung dan meminta kepada-Nya.

Adapun orang yang menginginkan jawa¬ban yang cepat dan sangat gelisah jika jawa¬ban itu tertunda, itu adalah tanda lemahnya iman. la menganggap dirinya berhak mendapatkan jawaban dari Allah, bahkan, ia seakan-akan menuntut jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan.
Tidakkah kita mendengar kisah Ya’kub as yang dicoba selama 80 tahun, namun harapannya kepada Allah tidak pernah bergeser? Saat anaknya, Bunyamin, tidak ada di sampingnya pun, sebagaimana yang terjadi pada diri anaknya, Yusuf, harapannya kepada Allah tetap kokoh. Dia berkata, “Mudah-rnudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku.”(QS. Yusuf : 83)

Makna ini sejalan dengan firman Allah yang lain, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditim¬pa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (QS, Al-Baqarah:214)

Nabi Musa as juga mengalami penderitaan yang lama ketika menghadapi Fir’aun dan kaumnya. Setiap kali memaparkan bukti-bukti kebenaran, mereka mendustakannya. Dan setiap kali bertambah kekuasaannya bertambah pula kerusakan di muka bumi. Merasa kehabisan cara, ia pun meminta kepada Allah, “Ya Tuhan Kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (QS. Yunus : 88)
Doa Musa tersebut adalah doa atas orang yang menyombongkan diri di bumi yang telah mengambil nikmat-nikmat Allah untuk memerangi agama Allah dan menyebarkan kekufuran di bumi serta menganggap dirinya sebagai tuhan. Waktu yang terbentang antara doa Musa hingga terjadinya peristiwa tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya lebih dari 40 tahun.
Kisah ini mengisyaratkan agar kita tidak tergesa-gesa menunggu karena sesung-guhnya Allah tidak membiarkan permintaan berlalu, tetapi menangguhkan. Tentu karena Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk diri seorang hamba.
Ibnu Qayyim mengatakan, di antara hal yang menjadi penghalang diterimannya doa adalah tergesa-gesa ingin segera dikabulkan, Sehingga membuatnya putus asa jika ternyata doanya belum terkabul, bahkan membuatnya tidak lagi berdoa.

Perumpamaan orang ini ibarat orang yang menanam biji; pada awalnya ia giat mengurus tanaman itu, namun ketika hasilnya kurang sempurna, ia rnerasa enggan melanjutkan. Kemudian ia tinggalkan tanaman tersebut.
Rasulullah mengingatkan, “Seorang akan dikabulkan doanya selama tidak berdoa dengan kemaksiatan atau sesuatu yang memutuskan silaturahim dan jika tidak tergesa-gesa. Rasu¬lullah saw ditanya, “Apa yang dimaksud de¬ngan tergesa-gesa, ya Rasulullah?” beliau menjawab, “Seseorang tergesa-gesa jika ia berkata, “Aku sudah berdoa dan berdoa tetapi belum juga dikabulkan,” sehingga ia merasa putus asa dan meninggalkan berdoa.” (HR. Muslim)

2. Setengah Hati dan tidak Bersungguh-sungguh

Penyakit yang sering hinggap di hati ketika kita sedang beribadah adalah lalai, kehilangan konsentrasi dan kekhusyuan. Terkadang di dalam shalat, misalnya, tanpa kita sadari imam yang berdiri di depan kita ternyata telah duduk di tahiyat akhir untuk mengakhiri shalat. Rakaat-rakaat shalat kita lewati seakan begitu cepat dan tanpa terasa. Bacaan-bacaan shalat di setiap rakaatnya pun menguap begitu saja, terbang bersama khayalan-khayalan yang berkecamuk di pikiran kita.
Hal yang sama juga kerap terjadi ketika kita sedang duduk berdzikir dan berdoa. Ketika itu ingatan kita terkadang tidak sejalan dengan lafazh-lafazh yang kita ucapkan. Mulut yang terlihat berkomat-kamit, ternyata tidak lebih dari sekedar gerakan bibir dan lidah yang tidak memberi bermakna pada hati dan jiwa. Entah berapa kali kejadian seperti itu teruiang dan terus teruiang, sedang kita tidak juga berusaha mengubahnya untuk melakukan yang lebih baik.
Sungguh ini bukanlah penyakit yang sederhana, melainkan sebuah malapetaka yang tidak sekadar merusak ibadah dan doa kita, tetapi juga tidak mendatangkan manfaat dab keuntungan apa-apa. Karena itu barangkali, kita melihat banyak orang yang rajin beribadah tetapi maksiatnya juga tetap jalan. Atau orang-orang yang rajin meminta dan berdoa, tetapi jawaban untuk permintaannya tak kunjung datang.

Meminta kepada Allah hendaknya dilakukan tidak hanya dengan mulut yang berko¬mat-kamit. Tetapi diperlukan keseriusan dan kesungguhan hati. Mengapa? Karena ketika seorang sedang meminta hakekatnya ia sedang bersimpuh di hadapan DzatYang Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Pengasih, dan Maha Sempurna. Maka, sewajarnya jika kita serius dan bersungguh-sungguh. Bukankah ketika seseorang menghadap majikannya ia begitu takzim dan hormat di hadapannya? Di hadapan Allah kita hendaknya lebih serius.

Ibnul jauzi, suatu kali pernah menasehati jiwanya karena permintaan-permintaanya yang belum terkabulkan. la berkata, “Bisa saja doamu tertolak, wahai jiwaku, karena aib yang kamu simpan dalam dirimu. Mungkin saja da-lam makananmu ada sesuatu yang syubhat atau hatimu lalai saat berdoa. Mungkin saja kamu tidak bersungguh-sungguh bertaubat kepada Allah, karena tidak segera meninggalkan dosa. Itulah siksaan yang kamu alami. Hendaknya kamu melihat, wahai jiwaku, dimana letak kekuranganmu.”

Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan merasa penuh yakin adalah satu kunci diperkenankannya doa dan permohonan kita. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw, “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin diperkenankan dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai serta tidak sungguh-sungguh.”

3. Cepat Bosan dan Merasa Cukup dengan yang Telah Dilakukan

Meminta kepada Allah berbeda dengan meminta kepada sesama manusia. Allah swt sangat senang mendengar lantunan doa-doa dan permohonan hamba-Nya yang berulang-ulang dan tiada henti. Sedang manusia terka-dang marah, bosan, bahkan enggan memberi jika dimintai terus-menerus. Karena itu, sebuah kesalahan fatal jika seorang hamba yang sangat butuh kepada pertolongan Rabbnya, justru merasa bosan melantunkan kalimat-kalimat yang berulang kali di saat sedang memin¬ta, atau merasa cukup dengan yang telah ia lakukan.

Tentang hal ini, Rasulullah saw pernah bersabda, “Wahai sekalian manusia, lakukan-lah amal-amal sebatas kalian mampu. Karena Allah swt tidak akan bosan sampai kalian yang bosan. Dan sesungguhnya amal-amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR, Bukhari)

Yahya Al Bakka’ mengisahkan pengalaman-nya meminta dan berdoa kepada Allah swt. Katanya, suatu malam ia bermimpi berdialog dengan Tuhan. Dalam mimpinya ia berkata, “Wahai Tuhanku, mengapa aku berdoa kepada-Mu namun tak kunjung Engkau kabulkan permintaanku?” Tuhan berkata kepadanya, “Wahai Yahya, aku ingin mendengar suaramu.” Kisah Yahya ini menegaskan bahwa Allah senantiasa senang mendengar rintihan hamba-Nya dengan doa-doa yang ia lantunkan.
Ibnu Rajab mengisahkan pula, bahwa seo¬rang pemuda pernah kehabisan bekal sewaktu berada di Makkah. Kelaparan pun rnenimpanya hingga hampir merenggut nyawanya. Ketika sedang berjalan di sekitar Makkah, dia rnenemukan seuntai kalung mahal. Kalung tersebut ia masukkan dalam saku dan segera melangkah ke masjid.

Beberapa langkah berjalan, ia berjumpa dengan seorang laki-laki yang sedang mencari kalungnya yang hilang. Ternyata kalung itu adalah milik si lelaki. Pemuda tersebut lantas menyerahkan kalung yang baru saja ia temukan kepada laki-laki pemiliknya sambil berlalu.

Satu ketika, dalam sebuah perjalanannya di laut dengan menaiki perahu kecil, si pemu¬da tenggelam karena terpaan ombak yang begitu keras. la pun terdampar di sebuah pantai yang belum pernah dikenalnya. Di sana, ia menemukan sebuah masjid yang dipenuhi dengan orang-orang yang sedang shalat berjamaah. Dia pun bergabung dan tinggal bersama mereka.

Suatu hari, mereka menawari pemuda tersebut untuk menikahi seorang gadis yang telah ditinggal ayahnya yang tergolong orang shalih. Pemuda itu setuju, lalu menikahinya. Malam pertama pernikahannya, ia melihat istrinya memakai kalung persis yang pernah ia temukan dulu. la pun bertanya tentang ka¬lung itu. Istrinya menjawab, bahwa ayahnya pernah kehilangan kalung tersebut di Makkah. Lalu seorang pemuda menemukan dan me-ngembalikannya. Sejak saat itu ayahnya tidak pernah berhenti meminta kepada Allah agar putrinya mendapatkan suami yang jujur seperti pemuda itu. “Akulah pemuda yang diceritakan itu,” tukas si pemuda setelah mendengar cerita istrinya.

Dari kisah ini, kita hendaknya mengambil pelajaran bahwa jawaban Allah yang tertunda bisa jadi karena Dia ingin berlama-lama men-dengarkan lantunan doa-doa kita. Dan karena itu, ketika kita bosan lalu berhenti berdoa, berhenti pulalah Allah mendengarkan permintaan kita.

4. Meminta ketika Sedang Perlu Saja

Manusia, di saat senang atau sedang dalam keadaan aman dari terpaan masalah dan kesulitan, kerap menjauh dari Allah swt. Ketika itu, manusia terkadang merasa tidak mem-butuhkan pertolongan dari siapapun, bahkan dari Allah sekalipun. Sehingga ia tidak perlu meminta atau memohon pertolongan dan perlindungan dari-Nya.

Allah swt menegaskan hal ini dalam firman-Nya, “Dan apabila manusia ditimpa bahaya Dia berdoa kepada Kami dalam keada¬an berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, Dia (kembali) rnelalui (jalannya yang sesat), seolah-olah Dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus : 12)

Begitulah watak manusia. la terkadang lupa, sombong dan angkuh ketika roda kehidupannya menempatkannya di atas. la akan kem¬bali tersadar setelah sebuah bencana menim¬panya. Atau karena desakan sebuah kebutuhan di luar jangkauan kekuatan yang dimilikinya.

Kehidupan keseharian kita selalu menampilkan orang-orang dengan watak seperti itu. Ada pelajar atau mahasiswa yang beg itu tekun meminta di saat sedang menghadapi ujian, karena ia butuh lulus. Ada orang yang tiba-tiba begitu khusyuk berdzikir karena pesawat yang ditumpanginya sedang diguncang awan. Ada banyak lagi kasus-kasus lain di rnana manusia terlihat begitu dekat dengan Allah karena situasi sulit yang menimpanya, dan setelah itu ia berlalu seperti tidak pernah meminta apa-apa.

Allah swt tentu mendengar setiap rintihan hamba-hamba-Nya dalam keadaan apapun mereka meminta. Tetapi sebagai hamba yang tidak akan pernah bisa lepas dari pertolongan Tuhannya, hendaknya kita beretika ketika meminta. Dan diantara etika yang baik senantiasa menjaga hubungan kedekatan dengan-Nya baik ketika kita senang ataupun susah, atau di saat sedang butuh maupun tidak.

Rasulullah saw saja, yang doanya tidak pernah ditolak oleh Allah, tak ada waktu luang bagianya kecuali terus berdoa kepada Allah swt. Hingga Abu Umamah pernah berkata, “Rasulullah saw membaca doa yang banyak sekali. Kami tidak rnarnpu membacanya semua. Maka kami mengadukan hal itu kepada beliau, “Wahai Rasulullah, Engkau banyak membaca doa yang kami tidak mampu menghafalnya.”

Beliau lantas berkata, “Maukah kalian aku tunjukkan satu doa yang dapat menghimpun seluruh doa tersebut?” Kalian membaca, “Ya Allah aku memohon dari kebaikan yang diminta kebaikan itu oleh Nabi-Mu Muhammad saw, dan aku berlindung dari kejahatan yang dimin-ta perlindungannya oleh Nabi-Mu Muham¬mad saw, Engakulah ya Allah tempat kami meminta dan menyampaikan permohonan, tiada daya dan kekuatan selain Engkau.” (HR.Tirmidzi)

5. Pesimis dan Berburuk Sangka

Meminta itu, bagi seorang hamba adalah sebuah kewajiban. Sedang diterimanya permintaan adalah hibah atau hadiah dari Allah swt. Artinya, dalam segala keadaan kita ditun-tut untuk selalu meminta, tetapi tidak boleh menuntut, apalagi memaksa, agar tuntutan kita diterima. Mengabulkan sebuah permin-taan adalah mutlak hak preoregatif Allah swt. Sedang yang mesti kita lakukan adalah, percaya dan yakin bahwa Allah akan menerima per-mintaan kita.

Kebaikan Allah itu begitu dekat. Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan doa dari orang yang meminta. Pesimisme dan buruk sangka janganlah pernah menyertai permohonan kita, misalnya dengan mengatakan, “Sepertinya, Allah enggan menerima doaku,” atau “Aku bukan orang yang pantas mendapatkan perto-longan.” |angan. Sekali-kali jangan. Karena persangkaan itulah yang didengar dan akan dijawab oleh Allah swt.

Suatu saat, Ibnu jauzi ditimpa sesuatu yang memaksa dirinya untuk segera meminta kepada Allah, la pun berdoa. Namun tiba-tiba jiwa-nya berbisik, “Kamu tak pantas meminta seperti itu, Yang pantas adalah orang lain yang belum mendapat derajat sepertimu.” Ibnul jauzi menjawab, “Aku lebih tahu daripada kamu tentang dosa-dosa dan kelalaianku yang mungkin akan rnenghambat doa-doaku. Aku pun tahu bahwa akulah yang seharusnya selalu merapatkan jiwa kepada-Nya. Aku tahu bahwa dengan terus meminta dan berdoa kepada-Nya dengan segala kesungguhan, akan terbelah juatah kesulitan yang membelengguku,”

Cara Ibnul Jauzi menundukkan bisikan jiwanya semoga bisa menginspirasi kita untuk melakukan hal serupa, karena seringkali kita berhenti dari meminta lantaran pengakuan-pengakuan jiwa terhadap banyak kekurangan dan kelalaian yang pernah kita lakukan, me-nambah pesimisme dalam diri, Mungkin saja pengakuan itu perlu di saat-saat tertentu, tetapi ia tidak boleh menguasai jiwa kita sehingga merasa bahwa doa kita sulit untuk dikabulkan.
Ada seorang Muslim datang ke sebuah negara sebagai pengungsi. la meminta kepada orang-orang yang berwenang di negara itu untuk memberinya kewarganegaraan, Namun, semua pintu seakan tertutup baginya. Segala upayanya tidak membawa hasil.

Suatu hari ia bertemu dengan seorang alim. Kepadanya, ia menceritakan kesulitan-nya. Si alim berpesan, “Mintalah kepada Tuhanmu, karena Dialah yang memudahkan segala sesuatu.” Pesan ini mirip dengan sabda Rasulullah, “Jika kau meminta, mintalah kepada Allah. Jika kau mencari pertolongan, mintalah pertolongan dari Allah. Ketahuilah, jika suatu bangsa bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka mereka tidak akan membawakan keuntungan, kecuali apa yang telah dituliskan Allah untukmu.”

Pesan singkat itu begitu membekas di hati si lelaki. Seketika optimisme keberhasilan memenuhi relung jiwanya. la mulai meminta ke¬pada Allah pada sepertiga malam terakhir, seperti yang disarankan si alim. Selang beberapa hari setelah itu, ia mendapat panggilan untuk mengambil berkas permohonan kewarganegaraannya yang telah distempel tanda disetujui.
Setiap permintaan hendaknya disertai dengan optimisme dan baik sangka, karena kata Allah, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”

Kesalahan-kesalahan kita dalam meminta tidak hanya sebatas ini. Para ulama memberikan kita panduan secara teknis bagaimana meminta yang baik. Kepada merekalah seharusnya kita mengacu, agar permohonan-permohonan kita mendapatkan jawabannya.

Tarbawi Edisi 157 Th. 8/Jumadil Akhir 1428 H/22 Juni 2007 M

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *