kali gongseng

Dukun bukan orang Pintar

Nah, baru-baru ini salah seorang tetangga saya mengalami musibah. Putri sulungnya hanyut terbawa arus sungai kecil yang berujung ke sungai Ciliwung yang sangat deras. Kondisi hujan yang lebat makin mempersulit pencarian.

Anak tersebut hanyut pada hari Sabtu tanggal 10 Desember 2011. Menurut saksi mata yang melihat kejadian tersebut, musibah itu terjadi sesaat menjelang adzan maghrib berkumandang. Anak perempuan tersebut, kita sebut saja inisialnya DN, naik motor berboncengan dengan seorang teman perempuannya.

Dalam perjalanannya, mereka harus melewati jembatan untuk bisa mencapai tujuan. Namun, jembatan yang akan mereka lewati adalah jembatan yang sangat kecil dan tidak ada pegangan di samping kanan dan kirinya.

Keinginan untuk tetap melewati jembatan tersebut semakin menguat ketika DN melihat seorang lelaki yang juga mengendarai motor sukses melewati jembatan maut itu. Sebagai informasi tambahan, aliran air sungai kecil ini telah meluber melewati batas jembatan. Jadi, air sudah membanjiri jembatan. Jembatan sudah tak terlihat lagi karena sudah terendam air. Memaksa melewati jembatan itu, sudah barang tentu menantang maut-menurut logika saya.

DN akhirnya nekat melewati jembatan ini. Untung tak dapat ditebak, malang tak dapat ditolak-rencana Allah hanya Dia yang tahu. Lelaki yang nekat melewati jembatan, sukses melewatinya. Tapi, tidak dengan DN. Ketika DN melintasi jembatan tersebut, sebatang pohon pisang yang hanyut terbawa arus melintas kencang menabrak motor yang dikendarai DN. Motor oleng dan terpeleset. Tidak butuh waktu lama untuk arus menyeret motor dan tubuh DN serta temannya.

Malam harinya, motor, handpone, dan jam tangan DN ditemukan. Tapi, jasad DN dan teman perempuannya tidak juga ditemukan sampai esok paginya.

Tetangga mulai heboh dan ngeriung di sekitar kediaman keluarga DN. Entah karena alasan apa-mungkin karena ingin segera mengetahui nasib anaknya-mereka pun mengundang ‘orang pintar’ atau saya lebih senang memanggilnya dukun. Menurut dukun, jasad DN berada tak jauh dari lokasi kejadian. Tapi, DN diumpetin oleh nenek berusia 200 tahun. Tempat tinggalnya di pohon-pohon bambu dekat lokasi kejadian.

Saya langsung nyeplos, ‘Lah, tinggal dijemput aja kalo bener ada mah. Lagian tuh nenek-nenek bukannya lapor rt rw kalo dia nyelametin bocah.’

Tante saya langsung menyela, ‘Ih si Tina… Mana ada coba nenek-nenek jaman sekarang umurnya 200 tahun. Diumpetin dedemit itu maksudnya. Katanya kalo DN mau dilepas, boleh aja. Tapi kondisinya udah nggak bernyawa.’

Saya manyun aja. Saya bilang, ‘Percaya sama dukun. Percaya tuh sama Allah. Sibuk ngubek-ngubek kali yang deket pohon bambu. Jago dah kalo ketemu orang airnya kenceng banget.’

Suami saya juga bilang, ‘Tungguin aja di pintu air Manggarai. Pasti arahnya kesana. Soalnya kan arus deras.’

Tiga dukun telah didatangkan termasuk sesajen berupa kembang dan telur. Pencarian semakin tak membuahkan hasil. Seorang yang putus asa melakukan pencarian sampai berkata, ‘Apa perlu pake tumbal kepala kebo biar ketemu.’

Saya geleng-geleng. Kan gampang aja caranya biar ketemu. Sebelum mencari korban, wudhu, sholat, berdoa bersama sebentar, minta sama Allah biar dimudahkan, baru deh berangkat. Insya Allah, Allah mudahkan. Ini mah, pake manggil dukun segala, nggak ada yang ngaji, yah tambah susah ketemunya.

Allah tuh maha pencemburu. Allah nggak suka kita nih, hambaNya ngeduain Dia sama yang lain. Apalagi disamaain sama dukun. Jangan deh. Allah bisa marah. Kalau Allah udah marah, kita mau ngapain.

Saya utarakan kegalauan hati saya ini kepada tante saya. Dan beberapa orang mulai menggelar pengajian. Saya bilang, ‘Serahkan pada Allah. Minta saja sama Dia, jangan sama yang lain apalagi dukun, Allah nggak suka. Bisa jadi tuh anak nggak ketemu-ketemu karena Allah nggak suka kita minta sama dukun. Pasrah saja, ikhlas apapun hasilnya entah itu ditemukan hidup atau meninggal. Kalau memang DN diumpetin jin sampai mata kita nggak bisa ngeliat dimana jasadnya, Allah maha berkuasa atas jin dan manusia, Allah akan memrintahkan jin itu untuk tidak mengganggu kita.’

Selang dua hari kemudian, jasad DN ditemukan. Tepat seperti perkiraan suami saya. Jasad DN ditemukan di pintu air Manggarai. Sunnatullah berjalan sesuai logika manusia yang pikirannya bersih. Tidak ditemukan apapun di dekat pohon-pohon bambu.

Yang masih mau percaya dukun, rugi banget. Pertama, kita terjebak dalam kemusyrikan. Sebuah dosa yang sangat besar. Kedua, rugi material karena harus bayar banyak ke si dukun. Dan banyak kerugian lainnya. Masih percaya dukun??? Berarti Anda telah menghalalkan jasad Anda dibakar di neraka.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *