Khawarij dalam tinjauan historis dan pemikiran

Menurut Syahrastani Khawarij adalah setiap orang yang memberontak kepada Imam yang disepakati kaum muslimin, baik ia keluar pada masa sahabat di bawah pimpinan imam yang rosyidin, atau pada masa tabi’in, ataupada masa imam mana pun di setiap masa.

TINJAUAN HISTORIS
Terbunuhnya Utsman bin Affan telah memunculkan berbagai fitnah pada masa Ali bin Abi Tholib, Dimulai dari perang jamal yang melibatkan Ummul Mukminin Aisyah ra, Tholhah, dan Zubair bin awam, sampai perang Shiffin yang melibatkan Muawiyah bin Abu Sufyan.Tidak diragukan lagi bahwa pembunuhan Utsman dilakukan oleh kaum pemberontak yang didalangi yahudi dibawah pimpinan Abdulloh bin Saba’ Dia adalah seorang yahudi yang berasal dari Yaman.
Setelah di bai’at oleh para sahabat muhajir dan Anshor, Ali bin Abi Tholib mengutus Jurair bin Abdulloh al-Bajli kepada Muawiyah di Syam guna mengajak bergabung dan memberitahukan bahwa para Muhajirin dan Anshor telah sepakat untuk membabatnya. Akan tetapi Muawiyah berpendapat bahwa bai’at itu tidak akan dinyatakan syah kecuali dengan kehadiran mereka semua. Karena itu, Muawiyah tidak bersedia memenuhi ajakan Ali sampai para pembunuh Utsman diqishos kemudian kaum muslimin sendiri memilih imam mereka.
Karena tidak dicapai Ishlah, terjadilah pertempuran. Ketika pasukan Muawiyah terdesak, Muawiyah dan Amr ibnul Ash berunding. Amr ibnul-Ash mengusulkan supaya Muawiyah mengajak penduduk Irak untuk bertahkim kepada Kitab Alloh. Muawiyah lalu memerintahkan kepada orang-orang untuk mengangkat mushof di ujung tombak. Ketika pasukan Ali melihat hal ini, terjadilah perselisihan, diantara mereka. Ada yang setuju dan ada yang tidak.
Ali kemudian mengutus al-Asy’ats bin Qaia kepada Muawiyah guna menanyakan apa sebenarnya yang dikehendakinya. Muawiyah menjelaskan agar masing-masing memilih wakilnya untuk berunding dan memutuskan sesuai dengan apa yang diperintahkan Alloh. Dari pihak Ali memilih Abu Musa al-Asy’ari dan dari pihak Muawiyah memilih Amr ibnul-Ash.

kasar seperti lutut unta. Mereka memakai gamis yang murah dan dalam keadaan tersingsing. Wajah mereka pucat karena banyak begadang diwaktu malam. Kemudian aku ucapkan salam kepada mereka. Maka mereka berkata: “Selamat datang Ibnu Abbas. ada apakah?” Maka aku katakan kepada mereka: ” Aku datang dari sisi kaum Muhajirin dan Anshar dan dari sisi menantu Nabi Kepada mereka Al Qur’an turun dan mereka lebih tahu tentang tafsirnya daripada kalian.” Maka sebagian mereka berkata: “Jangan kalian berdebat dengan orang Quraisy karena Allah telah berfirman : ” Tapi mereka adalah kaum yang suka berdebat” (Az Zukhruf: 58) Maka ada tiga orang yang berkata : “Kami akan tetap berbicara dengannya.” Maka kukatakan kepada mereka: “Keluarkan apa yang membuat kalian benci kepada menantu Rasulullah, Muhajirin, dan Anshar! Kepada mereka Al Qur’an turun. Dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ikut bersama kelompok kalian. Mereka adalah orang yang lebih tahu tentang tafsir Al Qur’an.”
Mereka berkata : “Ada tiga hal.” Aku berkata : “Sebutkan!” Mereka berkata: “Pertama, dia (Ali) berhukum kepada manusia dalam perintah Allah, sedangkan Allah telah

mereka sebuah tulisan yang berbunyi: Ini apa yang telah disepakati oleh Muhammad Rasulullah. Maka kaum musyrikin berkata: “demi Allah kami tidak mengaku i mu sebagai Rasulullah. Kalau kami mengakuimu sebagai Rasulullah, untuk apa kami memerangimu?” Maka beliau berkata: “Ya Allah, Engkau yang tahu aku adalah RasuIMu. Hapuslah kata itu hai Ah!” (HR. Bukhari & Muslim) dan tulislah ini apa yang disepakati oleh Muhammad bin Abdullah.
Maka demi Aliah, tentu Rasulullah lebih baik dari Ali, tapi beliau sendiri menghapus gelar itu dari dirinya hari itu.
Ibnu Abbas berkata : “Maka bertobatlah dua ribu orang dari mereka dan selainnya tetap memberontak, maka merekapun akhirnya dibunuh.”
Dari kisah diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa diantara sifat orang Khawarij adalah:
1. Jahil terhadap fiqih dan syariat islam
“Mereka membaca Al Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka.” (HR. Bukhari & Muslim)
Rasulullah menyatakan bahwa mereka banyak membaca Al Qur’an tetapi tidak paham tentang Al Qur’an. Mereka mencoba memahami sendiri Al Qur’an dengan akal-akal mereka. Mereka enggan belajar kepada para sahabat. Maka dari itu Ibnu Abbas berkata “Aku datang dari sisi kaum Muhajirin dan Anshar serta menantu nabi, Al Qur’an turun kepada mereka dan mereka lebih tahu tentang tafsirnya dari kalian. Tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang ikut bersama kelompok kalian.”
Al Hafidh Ibnu Hajar berkata : “Imam An Nawawi berkata : Yang dimaksud adalah mereka tidak mendapat bagian kecuali hanya melewati lidah mereka saja dan tidak sampai kepada kerongkongan mereka, terlebih lagi hati-hati mereka. Padahal yang dimaukan adalah mentadaburinya agar sampai ke hati.” (Fathul Bari)
2. Mereka adalah orang-orang yang melampaui batas dalam beribadah

Ini tampak dalam keterangan Ibnu Abbas tentang mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang hitam jidatnya, pucat wajahnya karena seringnya begadang di waktu malam.
Juga diterangkan oleh hadis Rasulullah saw :
Akan datang suat u kaum pada kalian yang kalian akan merendah bila shalat kalian dibandingkan dengan shalat mereka, puasa kalian dibandingkan dengan puasa mereka, amal-amal mereka dibanding dengan amal-amal mereka. Mereka membaca Al Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka lepas dari agama ini seperti lepasnya anak panah dari buruan. (HR. Bukhari & Muslim)
3. Menghalalkan darah kaum muslimin dan menuduh mereka sebagai orang yang telah kafir
Diantaranya mereka telah membunuh Abdullah bin Khabbab dan istrinya yang sedang hamil. Merekalah juga yang telah membunuh Ali bin Abi Thalib.
4. Mereka beranggapan bahwa pelaku dosa besar dan yang tidak sesuai dengan mereka menjadi kafir
Mereka bertentangan dengan firman Allah surat An Nisa’: 48
“Sesungguhnya Allah tidak mengampunidosa orang yang menyekutukan Allah. Dan Dia mengampuni yang selain itu bagi siapa yang dia kehendaki.” (An Nisa* : 48 )
Sikap seperti itu merupakan korban dari ekstrimisme semata. Kaum Khawarij berasal dari orang-orang Arab Badui yang berwatak kasar dan emosional. Mereka tidak mengenal sama sekali kaidah-kaidah ilmu pengetahuan sehingga lahirlah pandangan yang mengkafirkan semua orang yang melakukan dosa besar. Sebagian mereka bahkan mengkafirkan orang yang melalaikan maksiat apapun bentuknya
Akidah dan perilaku islam hanyalah didasarkan pada prinsip wasathiyah. Sementara itu, batasan – batasan tentang wasathiyah ini hanya bisa dipahami melalui kaidah-kaidah ilmu. Siapa yang menimba ilmu dari sumber-sumbernya serta memperhatikan kaidah dan konsekuensinya dengan penuh kesabaran, niscaya akan selamat dari sikap ekstrim yang tercela.

FIQRAH – FIQRAH KHAWARU
1. AI Azrakiyah
Mereka berkata : “Kami tidak tahu seorang pun yang mukmin.” Dan mereka mengkafirkan kaum muslimin, kecuali yang sepaham dengan mereka.
2. Ibadiyah
Mereka berkata siapa yang menerima pendapat kita adalah orang yang mukmin dan siapa yang berpaling adalah orang munafik
3. Ats-Tsa’labiyah
Mereka berkata sesungguhnya Allah tidak ada menetapkan qadha dan qadhar
4. Al Hazimiyah
Mereka berkata kami tidak tahu iman itu. Dan semua mahluk akan diberi uzur
5. Khalafiyah
Mereka berkata pria atau wanita yang meninggalkan jihad berarti telah kafir. Dan banyak lagi yang lainnya
Harakah- harakah islam dewasa ini juga banyak terkena fiqrah seperti ini. Mereka menganggap kaum muslimin yang tidak sepaham dengan mereka sebagai orang yang telah murtad dari agama Allah.
Semoga kita senantiasa beritiba’ kepada Rasulullah saw dan dijauhkan dari fiqrah-fiqrah yang menyimpang.

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *