Syi’ah

Definisi Syi’ah
Syi’ah secara bahasa memiliki arti pengikut, penolong, pembela atau golongan maka Syi’ah Ali adalah pembela atau pendukung Ali. Dalam Tahdzibul luqhoh al Azhari berkata ASyi’ah adalah para penolong dan pengikut seseorang dalam kitabnya Az Zubaidy berkata setiap kaum yang berkumpul atas suatu perkara disebut Syi’ah. Dalam Al-Qur’an kata ” Syiah ” memiliki beberapa arti sebagai berikut;

  • Golongan atau ummat atau jamaah seperti pada surat Maryam :69, Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah.
  • Serupa seperti pada QS. Al-Qomar: 51, Dan Sesungguhnya lelah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka Adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
  • Pengikut, penganut dan penolong. Seperti pada QS. Al-Qoshos :15, Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

Secara Terminologi Syiah adalah kelompok yang menganggap Ali bin Abi Tholib lebih afdhol atas semua kholifah Ar Rosyidin sebelumnya, dan yang berhak menjadi kholifah hanyalah dari ahlul bait Selain ahlul bait kekhalifahannya dianggap batal.

Sejarah lahirnya Syi’ah
Syiah adalah mazhab politik yang pertama lahir dalam islam. Mazhab mereka timbul pada akhir masa pemerintahan Utsman, kemudian tumbuh dan berkembang pada masa Ali. Setiap kali Ali berhubungan dengan masyarakat, mereka semakin mengagumi bakat-bakat, kekuatan beragama, dan ilmunya. Karena itu para propagandis Syi’ah mengeksploitasi kekaguman mereka terhadap Ali untuk menyebarkan pemikiran pemikiran mereka tentang dirinya . Inti mazhab Syi’ah , sebagaimana diuraikan Ibnu Khaldun adalah ” Sesungguhnya masalah imamah bukanlah bagian dari kemaskahata umum yang dapat diserahkan kepada pendapat umat untuk menetukan siapa yang akan memegangnya. Imamah merupakan sendi agama dan prinsip islam. Seorang Nabi tidak boleh melalaikan dan menyerahkannya kepada  umat tetapi wajib menentukan imam untuk mereka, sedangkan imam itu sendiri bersifat ma’shum (terpelihara) dari dosa-dosa besar maupun kecil.

Ketika Ali wafat pemikiran ke Syi’ah -an berkembang menjadi mazhab-mazhab Sebagiannya menyimpang dan sebagian lagi lurus. Namun keduanya sama-sam fanatic terhadap keluarga Nabi.
Masa pemerintahan Muawiyah merupakan masa yang kondusif bagi pengkultusan Ali karena Muawiyah telah menciptakan tradisi buruk pada masanya yang berlanjut pada masa anaknya, Yazid dan para penggantinya sampai masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tradisi buruk itu adalah mengutuk Ali bin abi thalib pada setiap penutup khutbah jum’at.

Mazhab Syi’ah timbul di mesir untuk pertama kali pada masa pemerintahan Utsman , karena disana para propagandis menemukan lahan yang subur, kemudian tersebar luas di Irak yang dalam perkembangan berikutnya menjadi markas dan tempat menetap para penganutnya. Syi’ah tumbuh di Irak karena beberapa yang saling mendukung . Ali bin abi thalib menjadikan Irak sebagai kediamannya pada masa kekhalifahannya. . Disamping itu Irak merupakan tempat pertemuan peradaban-peradapan kuno.disana terdapat bebagai pengetahuan Persia dan Kaldan serta sisa-sisa peradaban kedua bangsa itu. Filsafat Yunani dan Hindu pun masuk ke Irak. Berbagai peradapan dan pemikiran itupun bercampur di Irak sehingga menjadi tempat tumbuhnya berbagai golongan dalam islam, khususnya yang berhubungan dengan filsafat . Itulah sebabnya Syi’ah banyak dipengaruhi oleh pemikiran filosofis yang telah beradaptasi dengan alam pikiran Irak.

Sebagian sarjana Eropa seperti Prof. Douzy berkesimpulan bahwa mazhab syi’ah berasal dari Persia , karena sebagian orang Arab bersifat merdeka sedangkan keberagamaan orang Persia mengikut raja atau dengan cara pewarisan dari istana raja dan tidak mengenal pemilihan kholifah. Karena Nabi Muhammad wafat tanpa meninggalkan anak laki-laki, maka yang paling dekat dengannya (menurut jalan pikiran syi’ah ) adalah anak pamannya Ali bin Abu Thalib. Atas dasar itu orang yang merampas jabatan khalifah , seperti Abu Bakar, Umar bin Khatab dan Utsman bin Affan berarti merampas jabatan itu dari orang yang berhak menerimanya . Dalam tradisi Persia , raja dipandang memiliki kesucian. Mereka memandang Ali dan keturunannya dengan pandangan yang demikian. Mereka berpendapat bahwa mematuhi imam adalah wajib, karena mematuhinya berarti mematuhi Allah.

Kesesatan dan Penyimpangan Syi’ah
1. Syi’ah memandang imam itu ma’shum
2. Syiah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan (imamah) adalah rukun agama
3. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul bait
4. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhlaifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman
5. Syi’ah menghalalkan nikah Mut’ah (kawin kontrak)yang sudah di haramkan oleh Nabi Muhammad shalailahii alaihi wa sallam
6. Para imam dianggap ma’shum , itu bertentangan dengan islam Karen ayang ma’shum hanyalah nabi Muhammad saw.
7. Syi’ah menggunakan senjata taqiyyah yaitu berbohong dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya untuk mengelabuinya

Aliran-aliran Syi’ah

1. Syi’ah Zaidiyyah Adalah salah satu sekte Syi’ah yang paling dekat dengan ahlu Sunnah wal Jamaah I Aliran ini termasuk moderat, tidk ekstrim dan tidak berlebih-lebihan. Nama Zaidiyyah dinisbatkan kepada pendirinya yaitu Zaid bin Ali Zainal Abidin yang telah menyusun teori politik dan pemerintahan Syi’ah sendiri dan terbunuh dalam menegakkan aliran ini.

Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali Ra. Pernah memimpin satu revolusi Syi’ah di Irak melawan Umawiyyun pada masa Hisyam bin Abdul Malik. Tak lama kemudian setelah ia maju memimpin pemberontakan , ia ditinggikan dan dihinakan oleh penduduk Syi’ah Kuffah karena diketahui Zainal Abidin menghormati dan meridhai Abu Bakar dan Umar Ra serta tidak mengutuk keduanya.
Zaidiyyah memperbolehkan semua keturunan dari Fathimah untuk menjadi Imam, baik dari Hasan ataupun dari Husein. Menurut mereka Imamah tidak dengan nash. Karena itu tidak disyaratkan Imam terdahulu menunjuk Imam yang akan datang. Secara umum hampir tidak ada perbedaan antara Zaidiyyah dengan Ahlu Sunnah Wal Jamaah, khususnya dalam masalah ibadah, masalah -masalah yang fardhu . Mereka berpegang teguh terhadap beberapa hal yang diyakini Syi’ah. Misalnya ahlul bait lebih berhak menjadi imam dan khalifah , hadits-hadits yang diriwayatkan ahlul bait kedudukannya lebih utama, taqlid kepada ahlul bait, zakat seperlima dsb.
Negara Zaidiyyah pertama kali didirikan oleh Hasan bin Zaid tahun 250 di Dailam dan Thabristan. Al Hadi ila al-Haq kemudian mendirikan Negara Zaidiyyah ke-2 di Yaman pada abad ke-3 H. Zaidiyyah tersebar ke Timur samapi ke Negara-negara Hazr (Afghanistan), Dailam, Thabristan, dan Jailan. Sedangkan ke barat tersebar sampai Negara-negara Hijaz dan Mesir. Yaman tergolong pusat Zaidiyyah.

2. Syi’ah Imamiyah Dua Belas, Adalah sebuah kelompok ummat Islam yang berpegang teguh kepada keyakinan, bahwa Ali lah yang berhak mewarisi khalifah, bukan Abu Bakar, Umar, Utsman Ra. Diyakininya ada 12 Imam . Imam yang terakhir kata mereka menghilang , masuk dalam goa di Samara. Aliran inilah yang bertentangan dengan Ahlu Sunnah Wal Jamaah dalam pemikiran dan ide-idenya yang spesifik.

Dua belas yang dijadikan Imam oleh dan untuk mereka adalah :
1. Ali bin Abi Thalib r.a digelari denga Al-Murthadha
2. Hasan bin Ali r.a
3. Husein bin Ali r.a.
4. Ali Zainal Abidin bin Husein
5. Mohammad Baqir bin Ali Zainal Abidin
6. Ja’far Shodiq bin Mohammad Baqir
7. Musa Kadzim bin Ja’far Shadiq
8. Ali Ridha bin Musa Kadzim
9. Muhammad Jawwad bin Ali Ridha
10. Ali Hadi bin Muhammad Jawwad
11. Hasan Askari bin Ali Hadi
12. Muhammad al Mahdi bin Muhammad Askari (Hasan Askari)

Diantara tokoh-tokohnya yang menonjol ialah Abdullah bin Saba, seorang Yahudi dari Yaman, yang berpura-pura masuk Islam. Ditranfernya apa-apa yang ditemukannya dalam ide-ide yahudi kepada Syi’ah seperti raj’ah (munculnya kembali imam), tidak mati, menjadi raja dibumi.
Diantara pemikiran dan doktrin-doktrinya adalah imamah, Ishmah, Ilmu, Al-gahibah (menghilang), Roj’ah (muncul kembali), Taqiyah , mut’ah, berlebih-lebihan dan hari besar Ghadir khom (hari dimana Rosulullah mengangkat Ali secara langsung. Aliran Syi’ah Imamiah dua belas ini tersebar di Iran, dan berpusat dinegara ini. Sebagian pula terdapat di Irak.

3. Isma’iliyyah adalah sebuah kelompok kebatinan yang dinisbatkan kepada Imam Isma’il bin Ja’far Shadiq. Secara lahiriah Isma’iliyyah cenderung kepada Syi’ah yang mengagungkan Ahlu al-Bait. Tetapi hakikatnya kelompok ini menghancurkan ‘aqidah Islamiyyah. Isma’iliyyah terpecah-pecah menjadi berbagai kelompok dan berkembang sepanjang zaman sampai hari ini.

Pertama: Isma’iliyyah QaramithahMereka muncul pertama kali di Bahrain dan Syam setelah melakukan pemberontakan terhadap Imam Isma’iliyyah dan merampok harta kekayaannya. Imam yang diberontak kemudian melarikan diri dari Salmiyyah, Suriah ke negeri Transoxiana, karena takut akan kekejaman orang-orang Qaramithah.

Kedua: Isma’iliyyah Fathimiyyah, adalah gerakan Isma’iliyyah asli yang telah bertahan sampai beberapa periode.

  1. Periode tertutup, Yaitu dimulai sejak kematian Isma’il tahun 143 H sampai munculnya Abdullah Mandi. Selama ini nama-nama Imam mereka berbeda-beda disebabkan kerahasiaannya
  2. Periode awal kemunculan, Yaitu dimulai dengan adanya seruan Hasan bin Hausyab, pendiri negara Isma’iliyyah di Yaman, tahun 266 H. Kemudian kegiatannya berkembang sampai ke Afrika Utara dan mampu mempengaruhi syaikh-syaikh Kutama *). Diikuti dengan kemunculan rekannya Ali bin Fadhal yang mengaku Nabi dan membebaskan pendukung pendukungnya dari shiyam dan shalat.
  3. Periode kemunculan, Periode ini dimulai dengan tampilnya ‘Ubaidillah al-Mandi yang telah bermukim di Salmiyyah, Suriah dan melarikan diri ke Afrika Utara. Ia minta perlindungan kepada pendukungnya dari suku Kutama.

Ketiga: Isma’iliyyah Assasin, Mereka adalah Isma’iliyyah keturunan Nizzar di Syam, Persia dan negara-negara sebelah Timurnya. Ketika Nizzar dilarang naik tahta di Mesir, seorang Persia yang bernama Hasan bin Shabah memprotes Imam Mustanshir.

Keempat: Isma’iliyyah Syam, Mereka adalah Isma’iliyyah Nizzari. Dalam waktu lama mereka tetap berpegang teguh kepada keyakinannya. Di dalam benteng pertahanan mereka akan terlihat keteguhan mereka dalam mempertahankan keyakinan dan mengamalkannya secara terangterangan. penganut-penganutnya meyakini adanya reinkarnasi, di samping ‘aqidah Isma’iliyahnya.

Kelima: Isma’iliyah Bahrah, adalah Isma’iliyyah musta’liyyah. Mereka mengakui Imam Musta’li dan penggantinya Imam Amir, kemudian putranya Thayyib. Karena itu mereka menyebutnya dengan Thayyibiyyah. Juga dikatakan sebagai Isma’iliyyah India dan Yaman. Pada mulanya mereka meninggalkan politik dan berusaha sebagai pedagang sampai mereka tiba di India dan berbaur dengan orang-orang Hindu . yang masuk Islam.

Keenam : Isma’iliyyah Agha Khaniyyah, Kelompok sempalan Isma’iliyyah ini muncul di Iran pada dasa warsa kedua abad ke-I9 M. Ketujuh: Isma’iliyyah Waqifah, Sebuah kelompok Isma’iliyyah yang berhenti kepada keimaman Muhammad bin Isma’il yang merupakan Imam pertama dari para imam yang tersembunyi. Golongan ini berpendapat bahwa imam pertama ini akan muncul kembali setelah menghilang.

Keharusan adanya Imam Ma’shum, yang terjaga dari kesalahan dan dosa, adalah yang termaktub sebagai keturunan Muhammad bin Isma’il. Dalam ketentuannya dinyatakan bahwa vang berhak menjadi imam pengganti adalah keturunannya, yang tertua. Namun berkali-kali cjiereka mengabaikan ketentuan ini. Pengertian ‘ishmah bagi mereka bukan ketiadaan melakukan ma’shiyat dan kesalahan, tetapi bagi mereka kesalahan dan ma’shiyat itu harus dita’wilkan dengan apa yang sesuai dengan kepercayaan mereka. Mereka berkeyakinan barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak mengenal imamnya dan belum pernah berbai’at, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah. Di kalangan kaum Isma’iliyyah berkembang satu anggapan bahwa imamnya memiliki sifat sangat tinggi sampai mendekati sifat Tuhan. Imam mengetahui ilmu ghaib. Pengikutnya diwajibkan membayar seperlima hasil usahanya untuk Imam. Mereka meyakini taqiyyah dan sirriyyah serta menerapkannya ketika terjadi banyak kesulitan.

Madzhab Isma’illiyah pertama tumbuh di Iraq kemudian pindah ke Persia. Khurasan dan kawasan-kawasan Transoxiana seperti India dan Turkistan. Lalu bercampur dengan kepercayaan-kepercayaan Persia kuno dan pemikiran-pemikiran Hindu. Seterusnya penyimpangan dan ketidakjelasan aqidah ini diperkeruh oleh orang-orang yang ingin memuaskan nafsunya. Aqidah mereka tidak bersumber kepada Qur’an dan Sunnah. Di dalamnya telah dimasuki berbagai filsafat dan kepercayaan yang membekas kepada keyakinan mereka dan menyebabkan mereka keluar dari ajaran Islam.

4. Syi’ah Ghrobiyyah, Aliran ini tidak sampai mempertuhankan Ali, tetapi lebih memuliakan Ali daripada Nabi Muhammad SAW. mereka beranggapan bahwa risalah kenabian seharusnya jatuh kepada Ali, tetapi Jibril salah dan menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad . Mereka disebut Al-Ghurobiyyah karena mereka berpendapat bahwa Ali mirip dengan Nabi Muhammad, sebagai mana miripnya burung gagak ( al-ghurab ) dengan burung gagak lainnya. Pandangan itu muncul disebabkan oleh ketidak-mengertian tentang sejarah dan keadaan yang sebenarnya. Pada waktu Muhammad diangkat menjadi Rasul, Ali masih menjadi kanak-kanak, belum pantas untuk mengemban risalah Kenabian. ia belum mencapai usia mukallaf dan akil baligh, karena baru berumur sembilan tahun. Bagaimana mungkin Jibril salah dalam membedakan antara antara seorang pria dewasa dengan anak-anak.

5. Syi’ah Hakimiyyah dan Druz, Penyebab timbulnya aliran hakimiyah yaitu orang-orang yang ekstrim dan berlebihan serta telah melampaui batas-batas ajaran islam. Mereka telah jauh menafsirkan pengertian pelimpahan cahaya ilahi sehingga menimbulkan pemikiran bahwa Allah bertempat di dalam diri seseorang imam dan menyerukan untuk menyembahnya. Tokoh aliran ini adalah al-Hakim bi Amrillah al-Fathimi, dia mengatakan bahwa Allah telah bersemayam dalam dirinya dan dia mengajak orang lain untuk menyembahnya. Dia menghilang dan mati secara wajar atau terbunuh, sejalan dengan beberapa riwayat yang berbeda yang menceritakan nasibnya di kemudian. Menurut riwayat yang terkuat dia dibunuh oleh sebagian keluarganya. Murid-murid dan penganut pahamnya yang timbul setelah kematiannya mengingkari kenyataaan bahwa dia telah mati. Mereka berkeyakinan bahwa dia hidup dalam keadaan bersembunyi j dan akan kembali lagi nanti. Penganut paham inilah yang dinamai aliran hakimiyyah.
Adapun Druz, penganut paham ini banyak berdiam di Syam serta mempunyai hubungan erat dengan aliran hakimiyyah. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa orang yang telah mnghembuskan pemikiran kepada al-Hakim untuk menyatakan pendapatnya yang ekstrim itu kepada masyarakat adalah seorang pria Persia bernama Hamzah al-Darazi. Besar kemungkinan nama aliran ini dinisbahkan kepada nama al-Darazi.

6. Syi’ah Nashiriyyah, Adalah aliran yang mencabut akarnya dari ajaran Islam dan mengikuti jejak aliran Hakimiyah di Syam. Penganut aliran ini pada mulanya mendiami daerah Syam. Mereka memiliki beberapa persamaan dengan aliran Imamiyah dua belas. Mereka percaya bahwa keluarga Ali diberi Allah ilmu pengetahuan yang sempurna. Mereka juga percaya Ali tidak mati, dan Ali adalah Tuhan atau yang mendekati Tuhan . Secara umum bahwa aliran ini bercampur dengan pendapat-pendapat aliran Aliran yang yang dikelompokkan kedai am nazhab Syi’ah , tetapi sebagian besar orang syi’ah melepaskan hubungan dengan mereka.

Aliran ini mencabut akar-akar Islam dan memutarbalikkan maknanya. Aktivitas mereka meluas ketika Daulah Fathimiyyah berkuasa di Mesir dan Syam. Dalam diri al-Hakim mereka menemukan orang yang sama keinginan nafsunya dengan mereka. Karena ittu pada masa berkuasanya al-Hakim muncul tokoh bernama al-Hasan ibn al-Shabah. Al-Hasan menimbulkan fitnah dalam menentang Daulah Abbasiyyah pada waktu yang bersamaan dengan munculnya seruan al-Hakim untuk mempertuhankan dirinya. Al-Hasan menyebarkan para propagandisnya di syam untuk mengajak masyarakat mengikuti ajaran-ajarannya.

Setelah itu jumlah pengikut mereka menjadi banyak di Syam. Mereka menjadikan daerah gunung al-Saman ,yang sekarang dinamakan gunung al-Nashiriyyah , sebagai markas. Sebagian pemimpin mereka meninabobokan para murid mereka dengan mengisap candu. Karena itulah dalam sejarah meraka dinamai dengan al-Hayasyin (pengisap candu).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *