Kaidah Fiqh Ketiga: Kesulitan itu bisa mendatangkan Kemudahan

Al-masyaqqoh tajlibu al taisir

Kesulitan itu bisa mendatangkan kemudahan

Qa’idah ini merupakan dasar penting dari sumber syariah, dispensasi syariah didasari qaidah ini. Qaidah ini memiliki sifat qath’iy karena dalil-dalil yang menjadi landasan sangat sempurna. Qaidah ini menjelaskan bahwa hukum-hukum berpihak kepada kemudahan, syariah tidak  menuntut seseorang untuk melakukan sesuatu diluar kemampuannya, dan yang menjatuhkannya pada kesulitan, atau sesuatu yang tidak sesuai dengan karakter dan hati nuraninya.

A.      Dalil-dalil

QS. 2:185, 2:286, 4:28, 5:6,  7:157, 22:78, 24:61 ayat-ayat ini seluruhnya menunjukan bukti-bukti konkrit bahwa syariat islam menginginkan hilangnya kesulitan dari umatnya. Prinsip-prinsip dalam ayat tersebut menyatakan bahwa dalam hukum-hukum syar’i tidak akan didapati tuntunan yang melewati batas kemampuan hambanya, seluruh amal ibadah tidak dibebankan oleh Allah kecuali semua itu sudah sesuai dengan kadar kemampuan mukallaf.

“Agama yang paling dicintai Allah adalah agama yang simpatik (lurus) dan yang mudah (fleksibel). HR. Bukhari

“Ambillah jalan yang mudah dan jangan mempersulit, berikanlah kebahagiaan dan jangan menakut-nakuti. HR. Bukhari

Jika Rosulullah memerintahkan melakukan sesuatu, maka beliau selalu memerintahkan melakukan hal-hal yang mampu dilakukan umatnya. Ketika Rasulullah melihat seorang laki-laki yang dikerubuti banyak orang, Rosulullah bertanya, “Ada apa ini?”. Para sahabat menjawab, “Lelaki ini sedang kepayahan karena berpuasa”. Kemudian Rosulullah menjawab, “Bukan kebaikan melakukan puasa dalam perjalanan”. Hadits ibnu Mas’ud al-anshari menceritakan seorang lelaki yang mengadu kepada Rasulullah mengenai shalat panjang yang dilakukan seorang imam, Nabi berkata: “Bagi yang menjadi Imam shalat bersama masyarakat, maka hendaklah mempercepat shalatnya, karena diantara mereka ada yang sakit, ada yang lemah dan ada yang memiliki kesibukan.

“Kalian semua dihidupkan dalam keadan dipermudah dan bukan dihidupkan dalam keadaan dipersulit.” HR. Bukhor dan Muslim

Seluruh ayat dan hadits diatas menjadi landasan kuat atas terbentuknya qaidah Al masyaqo tajlibu al taisir beserta qaidah-qaidah furu’nya.

B.      Pengertian Qa’idah

Al masyaqqah dari segi bahasa adalah kesusah payahan dan kesukaran. (QS An nahl:7), tidak mampu melakukan kecuali mengalami kepayahan dan kesukaran pada dirinya. Bisa juga berarti: susah payah, beban sempit, kesulitan, berat dan kesukaran.

Maksud Al masyaqqah dalam qaidah ini adalah kesulitan yang bisa menghilangkan tuntutan syar’i (taklifat al-syar’iyah), tetapi  tidak bisa untuk menghilangkan tuntutan syar’i  yang seperti: kesukaran dalam jihad, berat menerima had, dan sakit ketika di rajam bagi pezina, maka semua itu tidak berpengaruh dalam meringankan hukum syar’i.

Al taisir dari segi bahasa adalah: kemudahan, kelenturan.

Dari pengertian secara bahasa tersebut bisa dipahami bahwa kesulitan dan kesukaran bisa menjadi sebab kemudahan.

Secara terminologi syar’i adalah “hukum-hukum yang menimbulkan kesusahan atas mukallaf yaitu kesulitan pada diri dan hartanya maka syariah meringankannya dengan cukup melakukan sesuatu yang berada dalam kemampuannya”  seluruh kemudahan yang diberikan oleh syar’i berdasarkan qaidah pokok ini. Kemudahan tersebut para ulama fiqh disebut rukhsah. “Rukhsah secara bahasa adalah keluasan dan kemudahan, menurut istilah ulama fiqh adalah Hukum yang telah ditetapkan pemeberlakuannya untuk merespon kesulitan-kesulitan, dalam rangka meleluasakan serta memudahkan kondisi yang sebelumnya dalam keadaan sempit dan sulit”.

Al masyaqqah bisa timbul dari sebab tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pokok (al hajat). “Al hajat adalah sampainya seseorang pada kondisi yang sekiranya tidak terpenuhi (apa yang dibutuhkan), maka tidak menimbuklan kerusakan, namun menyebabkan kepayahan atau kesulitan yang berat”.

Bila kebutuhan pokok tidak terpenuhi disebut Musyaqqah, dan bila kebutuhan darurat tidak terpenuhi disebut dlarar. Musyaqqah  mengakibatkan kesulitan, kepayahan, keberatan, kesukaran dan ketidakleluasaan, sedangkan Dlarar mengakibatkan kerusakan, kematian.

Kaitannya dengan ibadah, Masyaqqah dibagi menjadi dua:

  1. Masyaqqah yang melekat pada ibadah, Ibadah yang dilaksanakan tidak jarang mendatangkan masyaqqah, misal: kepayahan akibat dingin saat wudlu dan mandi wajib, puasa siang hari yang panjang dan panas, perjalanan haji dan jihad, kesakitan karena menerima hukuman had atau rajam, dan lain-lain. Msyaqqah-masyaqqah tersebut meskipun sangat berat akan tetapi tidak bisa menyebabkan keringan, dan tidak bisa menghilangkan kewajiban ibadah.
  2. Masyaqqah diluar ibadah, yaitu Masyaqqah yang disebabkan oleh faktor lain yang mengakibatkan seseorang merasa berat melaksanakan ibadah. Misalnya masyaqqah yang berupa sakit pada kaki, maka berat melakukan shalat dalam keadaan berdiri.

Masyaqqah diluar ibadah ini dibagi 3:

  1. Masyaqqah adzimah, adalah masyaqqah yang dirasa amat berat, yang dikhawatirkan akan merusak jiwa, anggota tubuh atau menghilangkan fungsi anggota tubuh. Kesulitan atau kepayahan ysng demikian disamakan dengan al dlarirat dan berhak mendapatkan rukhsah. Tidak boleh memaksakan melakukan aktivitas ibadah, yang menyebabkan seseorang tidak mampu sama sekali pada ibadah-ibadah yang setingkat atau bahkan diatasnya. Misalnya: memaksakan menggunakan air untuk berwudlu, padahal jika menggiunakan air maka tangan dan kakinya akan hilang/rusak fungsinya, maka haram baginya menggunakan air dan ia harus mengganti dengan tayammum.
  2. Masyaqqah khafifah, kesulitan ringan yang biasa di alami setiap orang. Misalnya, sedikit pusing, capek ringan, dan lainnya. Masyaqqah semacam ini tidak mendapatkan keringanan/rukhsah.
  3. Masyaqqah mutawasithoh, yaitu yang berada diantara masyaqqah diatas.nmasyaqqah yang mendekati adzimah maka bisa mendapatkan rukhsah, jika mendekati khafifah maka tidak bisa mendapatkan rukhsah.

 C.      Aplikasi Qaidah

Maksud dari qaidah ini adalah kesulitan yang tidak ditimbulkan oleh tuntutan syar’i(Masyaqqah jenis ke2).

Kesulitan atau kepayahan yang dimaksud syar’i, selalu ada pada 7 hal berikut. Sehingga 7 hal ini pula yang berhak mendapatkan keringan/rukhsah.

  1. 1.       Sebab bepergian (Safar)

Menurut Imam Nawawi, rukhsah yang diberikan pada musafir ada 8:

  1. Pada perjalanan jauh, yaitu 1. boleh mengqashar shalat, 2. meninggalkan puasa, dan 3. mengusap sepatu bagi yang memakai lebih dari sehari semalam.
  2. Tidak harus perjalanan jauh, yaitu 4. boleh meninggalkan shalat jumat dan 5. memakan bangkai.
  3. Pada perjalanan jauh (lebih kuat pendapatnya daripada tidak harus perjalanan jauh), yaitu 6. Menjama’ shalat.  Yang dua lagi diperselisihkan yaitu, 7. Shalat sunat diatas kendaraan dan 8. Gugurnya shalat fardlu dengan menggunakan bersuci tayamum.

2.       Sebab sakit (Maridl)

rukhsah yang disebabkan sakit banyak sekali, diantaranya:

  1. Boleh tayammum ketika sakitnya tidak memungkinkan menggunakan air.
  2. Boleh meminta bantuan orang lain untuk membasuhkan air pada anggota wudlu.
  3. Boleh duduk dalam shalat fardlu dan khutbah, boleh shalat dalam tidur miring dan posisi yang memungkinkan.
  4. Boleh tidak puasa ramadhan, dan bagi manula cukup dengan membayar fidyah.
  5. Boleh mencari pengganti dalam melaksanakan haji dan melempar jumrah.
  6. Boleh berobat menggunakan khmar dan perkara yang najis.
  7. Boleh melihat aurat, bahkan kemaluan dan anus untuk kepentingan pengobatan.
  8. Boleh mengakhirkan pelaksanaan had selain rajam bagi orang sakit sampai sembuhnya.
  9. Boleh bagi istri tidak melayani suaminya(berhubungan intim) jika menyebabkan bertambah sakit. Demikian juga sebaliknya.

 

3.       Sebab paksaan (al ikrah)

Paksaan (ikrah) secara terminologi fiqh adalah “Menekan (memeras) seseorang dengan menggunakan cara, ancaman yang menakutkan untuk memaksakan orang tersebut agar mau melakukan atau meninggalkan sesuatu.

Ikrahan muljian/tam adalah ancaman dari orang yang mampu membuktikan ancaman tersebut, baik dengan pukulan yang membahayakan, atau dengan membunuh dan merusak anggota badan, menahan, mengikat, atau dengan cara yang lebih ringan dari semua, namun digunakan untuk memaksa orang yang memiliki kelas sosial.

Ikrahan ghairu mulji, adalah paksaan yang menggunakan cara lebih ringan dari yang telah disebutkan diatas dan hanya mengakibatkan kesedihan dan keprihatinan saja.

Dua jenis paksaan tersebut bisa terjadi pada akad, pengguguran akad dan pada larangan. Akad dan penggugurannya kadangkala sah dengan bercanda. Sementara ada larangan yang dibolehkan dan ada kalanya tetap tidak diperbolehkan.

  1. Contoh akad dan penggugurannya tidak sah dengan bercanda adalah akad jualbeli, ijarah, gadai, hibah, ikrar dan pembebasan tanggungan. Jika seseorang dipaksa melakukan akad-akad tersebut dengan paksaan ilja (paksaan dengan ancaman) atau dengan paksaan ghairu ilja dan kemudian orang itu melakukannya, maka jika paksaan itu hilang ia berhak memilih antara meneruskan akad atau membatalkannya.
  2. Contoh akad dan penggugurannya sah dengan bercanda adalah akad nikah, talak, dan pemaafan atas hukuman tindak pidana. Maka jika seseorang dipaksa untuk melakukan akad-akad tersebut, maka paksaan tersebut tidak memiliki pengaruh apa-apa. Maka akad-akad tersebut tetap sah, meskipun melakukannya dalam keadaan dipaksa. Maka…..

bersambung

4.       Sebab Lupa (Nisyan)  dan 5. Sebab tidak tahu (jahil)

6.       Sulit menghindar/umum terjadi (umum al balwa)

7.       Memiliki sifat kurang (al naqshu)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *