Najis – An najasah

Najis adalah kotoran yang setiap muslim wajib untuk menyucikan diri darinya dan menyucikan setiap sesuatu yang terkena kotoran najis tersebut. QS. 74:4, 2:222

Jenis-jenis Najis

Najis terbagi menjadi dua jenis, yaitu (1) najis hakiki, najis seperti ini dapat diraba dan dapat dilihat, seperti kencing (2) Najis hukmi, kebalikan dari najis hakiki yaitu tidak dapat diraba dan dilihat seperti junub.

a. Bangkai, merupakan binatang yang mati begitu saja tanpa disembelih menurut ketentuan agama. Namun ada beberapa yang dikecualikan dari binatang yang mati tanpa dimasukan kedalam kategori bangkai.

1. Bangkai ikan dan belalang, Rasulullah bersabda: ada dua jenis bangkai dan darah yang dihalalkan kepada kita, yaitu bangkai ikan dan belalang. Sedangkan dua jenis darah yang dihalalkan kepada kita itu adalah hati dan limpa. HR. Ahmad, Syafi’I, ibnu majah, baihaqi dan duruquthni.

2. Bangkai binatang yang tidak mempunyai darah yang mengalir, seperti semut, lebah, dll. Jika ia jatuh kedalam sesuatu dan mati maka ia tidaklah menyebabkan tempat itu najis.

3. Tulang bangkai, tanduk, bulu, rambut, kuku dan kulit serta sejenis, maka ia dikategorikan suci. Majikan maimunah bersedekah seekor kambing kepadaku. Tiba-tiba ia mati. Kebetulan Rasulullah saw lewat dan bersabda: Mengapa anda tidak mengambil kulitnya untuk disamak dan kemudian dimanfaatkan? Bukankah itu bangkai? Ujar mereka. Nabi Saw bersabda, Yang diharamkan adalah memakannya saja. HR. Jama’ah. Demikian juga air susu bangkai tetap dikategorikan suci. Sebab ketika para sahabat menaklukkan negeri irak, mereka memakan keju orang-orang majbat menaklukkan negeri irak, mereka memakan keju orang-orang majusi. Padahal keju dibuat dari susu, sedangkan hasil sembelihan mereka dianggap sama dengan bangkai.

b. Darah, semua jenis darah adalah diharamkan, baik darah yang mengalir maupun tertumpah. Misalnya darah yang mengalir dari hewan yang disembelih ataupun darah haidh. Akan tetapi darah yang sedikit dimaafkan. Aisyah berkata: kami makan daging sedangkan darahnya masih tampak jelas bagaikan untaian benang didalam periuk. Hasan mengatakan, Kaum muslimin tetap melakukan shalat meskipun mereka luka-luka. HR. Bukhori. Begitu juga darah nyamuk dan darah yang menetes dibisul, maka ia dimaafkan berdasarkan atsar atau riwayat dari para sahabat seperti yang disebutkan tadi.

c. Daging Babi, QS. 6:145

d. Muntah, Kencing dan kotoran manusia, semuanya najis. Akan tetapi, jika muntahnya hanya sedikit maka ia dimaafkan. Begitu pula kencing bayi laki-laki  yang hanya minum air susu. “Ia pernah mendatangi nabi saw. Sambil membawa bayi laki-lakinya yang belum mencapai usia makan. Dengan kata lain, bayi tersebut hanya meminum air susu ibunya, lantas bayi itu kencing dalam pangkuan Nabi Saw. Kemudian Nabi Saw meminta air, lalu memercikkannya. Maksudnya adalah, sebagaimana yang telah disebutkan pada riwayat-riwayat lainnya, menebarkan dengan jari-jari keatas obyek air kencingnitu, tetapi tidak sampai air tersebut mengalir dan tidak perlu mencucinya.” Hadits ini disepakati kesahihannya. Rasulullah bersabda: kencing bayi laki-laki cukup dipercikkan air keatasnya sedangkan kencing bayi perempuan hendaklah dicuci. Qatadah berkata: ini selama kedua jenis bayi tersebut belum diberi makan. Akan tetapi jika sudah diberi makan sebagaimana layaknya orang dewasa maka kencing mereka wajib dicuci. HR. Ahmad dan Ashabus Sunan kecuali Nasa’i.

e. Wadi, adalah air putih kental yang keluar mengiringi air kencing. Ia adalah najis tanpa ada perbedaan pendapat para ulama.

f. Madzi, adalah air putih bergetah yang keluar sewaktu teringat senggama atau ketika sedang bercumbu rayu. Kadang-kadang keluar tidak terasa. Keluar dari laki-laki dan perempuan, tetapi biasanya perempuan lebih banyak mengeluarkan madzi. Hukumnya najis menurut kesepakatan Ulama. Ali Ra berkata: aku adalah seorang laki-laki yang banyak mengeluarkan madzi. Lalu aku suruh seseorang kawan supaya menanyakan tentang hal ini kepada Nabi Saw. Aku malu bertanya mengingat aku kawin dengan putrinya. Kawan itu pun menanyakan, maka jawab Nabi Saw, berwudlulah dan cucilah kemaluanmu. HR. Bukhari dll

g. Mani, sebagian ulama berpendapat bahwa ia najis. Tetapi, menurut pendapat yang kuat ia adalah suci. Walaupun demikian, disunnahkan mencucinya bila masih basah dan mengoreknya bila sudah kering.

h. Kencing dan kotoran binatang ternak yang tidak dimakan dagingnya. Keduanya adalah najis. Mengenai kencing atau kotoran hewan yang dimakan dagingnya, Malik, Ahmad, dan segolongan ulama mazhab Syafi’I berpendapat bahwa ia suci.

i. Binatang Jallalah, adalah binatang-binatang yang memakan kotoran, baik berupa unta, sapi, kambing, ayam dan itik, sehingga bau binatang tersebut berubah. Akan tetapi, jika ia dikurung dan terpisah dari kotoran-kotoran itu dalam beberapa waktu yang lama kemudian ia kembali memakan makanan yang baik, hingga dagingnya tidak berbau dan jallalah tidak lagi menjadi sebutan binatang tersebut halal dimakan. Rasulullah melarang meminum air susu binatang jallalah. HR. Bukhari dan Muslim

j. Khamar dan Arak, jumhur ulama berpendapat ia adalah najis. QS. 5:90 sebagian ulama lagi berpendapat bahwa ia suci, sebab kata-kata najis pada ayat tersebut ditafsirkan sebagai najis maknawi, karena kata najis itu merupakan predikat dari arak serta segala yang dihubungkan dengannya. Padahal semua itu tidak dapat dikatakan najis. QS. 22:30 ternyata berhala ini dikatakan najis, tetapi najis maknawi yang apabila disentuh tidak menyebabkan kita bernajis. Dalam kitab subulus salam dinyatakan, pendapat yang benar, asal semua benda tersebut adalah suci. Jadi pengharaman atas benda-benda itu tidak berarti najis. Akan tetapi benda najis, selamanya ia berarti haram. Keterangannya ialah menetapkan sesuatu sebagai najis, berarti melarang menyentuhnya dengan cara apapun juga. Oleh karena itu, menetapkan sesuatu barang sebagai najis berarti menetapkan keharamannya. Lain halnya dengan menetapkan hokum haramnya. Misalnya memakai emas dan sutera. Padahal keduanya merupakan benda suci berdasarkan syara’ dan ijma. Nah bila masalah seperti ini dapat anda pahami maka pengharaman berbagai jenis arak, tuak, dan khamar seperti yang telah dijelaskan dalil-dalil yang sahih, maka tidak berarti bahwa ia merupakan benda najis.

k. Anjing, adalah najis dan wajib mencuci apa saja yang dijilatnya sebanyak 7 kali. Pencucian yang pertama harus menggunakan tanah. Rasulullah bersabda: sucikanlah bejanamu yang terkena jilat anjing, yaitu mencuci sebanyak 7 kali. Dan cucian yang pertama harus menggunakan tanah. HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Baihaqi. Jika anjing menjilat ke dalam bejana yang berisi makanan kering maka makanan yang terkena jilat harus dibuang. Sementara sisanya suci dan boleh dimakan. Mengenai bulu anjing, pendapat yang lebih kuat adalah suci.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *