2 Tahun : Baru Atau Sudah???

3 Januari 2011, dua hari yng lalu bertepatan dengan ulang tahun pernikahan kami yang kedua. kami means saya dan suami tentu saja.

kadang saya bergumam, “Hah, nggak berasa udah dua tahun.” dan ketika gumaman ini saya surakan lebih lantang kepada teman-teman ataupun keluarga saya, mereka malah bilang, “Haallaaahhh….. baru juga dua tahun.”

saya jadi merenung karena jawaban yang ‘baru juga dua tahun’. Bicara lama atau sebentar adalah bicara tentang sesuatu yang sangat relatif. siapapun berhak punya ukuran sendiri-sendiri dan berhak menilai orang lain berdasarkan standar ukurannya tersebut.

akhirnya, bukan masalah lama atau sebentar. saya lebih senang menengok kembali perjalanan dua tahun saya bersama suami. bernostalgia sambil senyum-senyum sendiri. ternyata, dalam kurun waktu dua tahun, yang kata orang cuma sebentar, saya dan suami telah melewati banyak hal. banyak hal yang kadang nggak masuk akal tapi bisa kita lewatin dengan sukses sambil menata kesabaran kira-kira akan ada hal seru apa lagi kedepannya.

saya dan suami, menurut saya, adalah dua pribadi yang sangat berbeda secara karakter. saya orang yang tidak suka bicara dengan suara besar dan keras. sementara suami saya kebalikannya.

minggu pertama menikah, saya sering nangis. bukan karena suami saya kasar. tapi, karena memang begitulah orangnya. saya butuh waktu untuk memahami karakternya yang satu ini. belum lagi emosinya yang suka meledak-ledak tapi nggak berbilang menit sudah hilang. hah, ada-ada saja. kalau sekarang suami saya bicara agak keras, cuma saya anggap angin lalu. sebentar lagi juga baek… hehehe….

awal pernikahan harusnya menjadi masa-masa yang paling berbunga-bunga. kata seorang teman, masa berbunganya penganten baru tuh paling nggak ya tiga bulan. tapi, kami nggak.

selang dua bulan sejak pernikahan kami, kantor suami collapse karena human error, tepatnya boss error. dan mulai saat itu, suami saya nggak gajian. eng ing eng….

sebagai istri, saya mulai stres. karena orang yang seharusnya menjadi tulang punggung, kini tulang punggungnya ‘patah’.

saya harus bekerja, adalah solusinya. minta dari orang tua jelas nggak mungkin dan menurut saya adalah hal yang memalukan. buat saya, berani berumah tangga artinya berani menanggung segala masalah hidup rumah tangga berdua dengan suami. minta sama orang tua, NO WAYYYY!!!!

mulailah saya mengajar dengan jumlah jam terbang yang fantastis. dlam sehari saya bisa memberikan les privat di tiga sampai empat rumah. suami saya bertindak sebagai penyedia bahan ajar dan jasa antar jemput.

alhamdulillah, suami saya adalah orang yang senang berselancar di dunia maya. dia tahu persis dimana harus mengunduh bahan ajar untuk saya dengan berbagai macam latihan soal yang berbeda dengan buku ajar murid saya.

keadaan ini berlangsung terus sampai suatu ketika saya merasa kalau saya hamil. ternyata tidak. seperti yang sudah saya ceritakan di blog saya terdahulu, saya ‘sakit’. hormon berantakan karena stress. akhirnya saya harus berobat ke dokter kandungan. siklus haidh harus diperbaiki supaya teratur. kalau tidak, akan menyulitkan kalau mau memiliki keturunan.

dan biayanya, nggak sedikit. saya dan suami kembali kelimpungan. makin stress??? SO PASTIIII……

tunggu lanjutan ceritanya ya. si kecil baru pup. harus dibersihkan dulu 🙂

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *