Aku sedang membangun peradaban

Beberapa tahun yang lalu ada seorang teman yang berkata pada saya, “Seseorang menjadi besar karena dia memiliki visi yang besar. Bermimpilah besar maka engkau akan menjadi orang besar. “Beberapa teman menanggapi dengan celetukan, “Nggak mau ah. Siapa juga yang mau jadi orang segede Pretty Asmara hahaha….”Beberapa yang lain menanggapi dengan, “Gue sih mau jadi orang yang biasa-biasa aja lah.  Gue bukan orang yang ambisius. Ntar kalo nggak nyampe… sakit ati boooo!!!!”

httpv://www.youtube.com/watch?v=eB3cMV70qSw

Dan sebagian kecil, yang mana -syukurlah- saya menjadi salah satu anggotanya, mencoba mencerna dan mulai merangkai impian dan visi yang besar itu. Siapa sih yang tahu kalau suatu hari nanti kami, yang sedikit ini, betul-betul menjadi orang ‘besar’ walaupun badan kami tentu saja tak sebesar Pretty Asmara.

Lambat laun, selepas kuliah saya menjejakkan kaki dalam lautan manusia beraneka karakter yang kita sebut MASYARAKAT, saya semakin menyadari bahwa betul apa yang dikatakan teman saya tentang kebesaran visi orang-orang besar.

Saya melihat secara langsung dengan mata kepala saya sendiri betapa orang yang tidak memiliki visi hidup yang jauh ke depan hanya menjadi orang-orang kerdil dalam masyarakatnya. Sebagian besar tak bisa memberikan kontribusi dalam masyarakat dan beberapa, sangat ironis, menjadi sampah masyarakat.

Berbeda dengan mereka yang selalu memandang jauh ke depan, memiliki gambaran tentang bagaimana memuliakan diri mereka di hadapan yang Maha Kuasa lewat hidup ini. Lewat visi.

Mengapa akhirnya jadi berbeda antara orang yang hidup dengan visi dengan orang yang hidup dengan slogan ‘Let it flowww aja…’??

Visi atau yang disebut oleh David J. Schwartz sebagai kemampuan untuk berpikir besar adalah sebuah master plan kehidupan kita. Kita mengkonstruksi dengan jelas akan mengalir ke arah mana kehidupan yang kita arungi. What will I am next year?? Five years later?? Twenty years later?? Atau sampai pada pertanyaan tentang bagaimana kita akan mati. Semua sudah tergambar jelas.

Masih menurut David, si Empunya pikiran besar ini, setelah mengkonstruksi apa yang akan dia lakukan sepanjang hayatnya, maka secara otomatis anggota-anggota tubuhnya akan bergerak bagaimana mewujudkan apa yang menjadi visi hidupnya. Tangannya mulai menulis beragam rencana yang akan dia kerjakan. Otaknya pun mulai bekerja. Memikirkan bagaimana caranya melaksanakan program-program yang telah tangannya tulis. Otaknya mulai mencari alternatif yang kreatif. Orang-orang seperti ini selalu tahu apa yang akan mereka kerjakan.

Di sisi yang bersebrangan, orang-orang yang tidak memiliki visi, hanya menjalani hidup apa adanya. Sebagian besar mungkin hanya hidup untuk mengenyangkan perutnya saja. “Udah ada yang buat makan juga udah sukur” dalihnya.

Mereka menjalani hidup yang tak jelas arahnya. Mereka tidak tahu akan kemana hidup mereka mengalir. Meresap naik atau terjun bebas.  Beberapa orang dari mereka mengalami stress dan penuaan dini. Sebagian lagi, parahnya, menyalahkan Zat Paling Agung yang sudah menciptakan mereka.

Jauh sebelum generasi kita hidup, Rosulullah sudah mengajarkan bagaimana pentingnya menjadi visioner, bagaimana pentingnya memiliki visi untuk masa depan.

Kita semua tentunya ingat bagaimana perjuangan beliau ketika berjuang di Tho’if. Beliau dengan ditemani Zaid bin Haritsah harus berjalan kaki sejauh sekitar 60 mil (sekitar 96 kilometer) ke Tho’if. Sesampainya di Tho’if, bukan hal ‘manis’ yang beliau dapatkan. Tetapi timpukan batu dan cacian. Kita semua tahu bagaimana akhirnya kaki beliau harus terluka dan mengeluarkan darah. Zaid yang mencoba melindungi Rosulullah pun akhirnya mengalami luka yang cukup parah pada bagian kepala.

Pada kondisi demikian Rosulullah pergi ke kebun anggur dan berdoa di sana.

Rosulullah pun keluar dari kebun dalam keadaan murung, sedih, dan teriris-iris menuju Makkah. Setelah berjalan beberapa saat , Allah mengutus malaikat Jibril disertai seorang malaikat penjaga gunung dan menanyakan pada Rosulullah untuk meratakan Akhsyabaini (dua gunung di Makkah yaitu gunung Abu Qubais dan gunung di seberangnya Qa’aiqa’an).

Nabi yang kita cintai itu menjawab, “Bahkan aku berharap kepada Allah agar Dia mengeluarkan dari kalangan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.”

Inilah manusia visioner. Rosulullah melihat jauh ke depan bahwa pasti masih ada kemungkinan bahwa orang-orang Tho’if mau beribadah kepada Allah. Padahal bisa saja dia meminta Malaikat untuk mengubur orang-orang Tho’if dengan meratakan Akhsyabaini. Dan seorang Ustadz dalam salah satu kuliahnya menyebutkan bahwa memang setelah kejadian Rosulullah didzolimi di Tho’if, anak cucu mereka menjadi ahli ibadah yang taat pada Allah. Bayangkan apa yang terjadi kalau Rosul betul-betul meminta Malaikat menghancurkan orang-orang Tho’if. Seseorang yang punya visi selalu punya harapan.

Seorang yang memiliki visi besar juga selalu malakukan introspeksi terhadap dirinya. Mari sama-sama kita simak doa yang Rosulullah panjatkan ketika beliau berada dalam kebun anggur milik Utbah dan Syaibah.

“Ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Paling Pengasih di antara para pengasih, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah. Engkaulah Rabb-ku, kepada siapa hendak kuserahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang menguasai urusanku? Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku. Sebab teramat luas afiat yang Engkau anugerahkan kepadaku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan dan yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjdi baik, agar Engkau tidak menurunkan kemarahan-Mu kapadaku atau murka kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau Ridho. Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan-Mu.”

Look at those words!! Dalam keadaan yang sangat tertekan pun beliau tidak menyalahkan siapa-siapa. Beliau malah menelusup dalam dirinya sendiri. Mengoreksi barangkali ‘kegagalan’ tersebut adalah kesalahan beliau sendiri.

Visi selalu memberikan hasil yang berbeda. Lihatlah perbedaan antara dua orang ibu hamil berikut ini. Ibu-ibu hamil yang dihadapkan pada pertanyaan yang berbeda tapi memiliki jawaban yang jauh berbeda atas pertanyaan tersebut.

Marilah kita berikan pertanyaan, “Lagi hamil, ya?” pada mereka. Dan kita akan mendapatkan jawaban yang berbeda. Saya sudah mempraktekkannya.

Ibu yang kurang bervisi menjawab dengan ,”Yaaa… begitu deh…”

Bu yang bervisi menjawab dengan, “Alhamdulillah… calon mujahid nih.”

Jawaban yang berbeda akan menunjukkan cara mendidik anak yang berbeda pula. Cara mendidik anak akan menghasilkan anak yang berbeda juga. Visi membedakan orang besar dan orang kerdil.

Buruh bangunan yang memiliki visi pun akan memberikan hasil yang berbeda juga. Beberapa buruh bangunan melakukan pekerjaan yang sama, memasang batu bata untuk membangun masjid. Ketika ditanya ,”Lagi ngapain, Pak?” mereka pun memberikan jawaban yang berbeda-beda. Ada yang bilang, “Yah.. begini lah.” Ada yang menjawab, “Lagi masang bata nih.” Ada lagi jawaban yang mengejutkan, “Saya lagi membangun peradaban Islam.” Jawaban yang terakhir bikin saya kagum. Motivasinya untuk membangun peradaban Islam pasti akan mendorongnya untuk antusias untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Bukan hanya cepat selesai saja, tapi juga rapi. Dan mungkin suatu hari buruh bangunan tersebut yang akan menghidupkan masjid yang dia buat.

Pilihan ada di tangan kita. Kita mau jadi ibu bervisi “Yaaa… begitu deh….” Sehingga anak-anak-anak kita menjadi anak-anak yang “Yaaa… begitu deh….” Atau kita mau jadi ibu yang bervisi membangun peradaban sehingga anak-anak kita menjadi anak-anak penerus peradaban Islam.

Pilihan ada di tangan kita. Kita mau jadi mahasiswa bervisi “Yaaa… begitu deh….” Sehingga melahirkan kontribusi yang “Yaaa… begitu deh….” Atau kita mau jadi mahasiswa bervisi membangun peradaban sehingga kontribusi kita akan mempercepat bangkitnya peradaban Islam.

Pilihan ada di tangan kita.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *