Beda Orang, Beda-Beda……

Ketika kehamilan saya memasuki usia 7 bulan dan perut saya mulai melentung, orang-orang mulai bertanya, “Dah berapa bulan?”

Setelah saya jawab bahwa usia kandungan saya memasuki usia 7 bulan, komentar yang datang pun beraneka ragam. Berikut adalah petikannya,

“Mbak Tina kan badannya tinggi besar. Kok hamilnya gede banget sih??”

“Kok udah gede ya baru 7 bulan??”

(Saya langsung bingung. Baru 7 bulan?? Dua bulan lagi saya bakal melahirkan dan si mbak yang berkomentar ‘baru 7 bulan’ mengatakan ‘baru 7 bulan’ seperti mengatakan ‘Kok perutnya gede banget ya? Padahal kan cuma kekenyangan’)

Ada lagi seorang nenek-nenek yang memiliki reputasi rese seantero komplek yang saban hari ketemu saya dan bertanya, “Berapa bulan, Mbak?” dan ketika saya jawab, dia selalu berkomentar “Kecil banget ya!!!!”

Berbagai jenis orang dengan berbagai macam latar belakang boleh berkomentar apa saja tentang besar-kecilnya perut saya. Saya nggak akan ambil pusing. Urusan yang begini sih seharusnya tanya sama ahlinya alias dokter kandungan. Selama dokter kandungan bilang bahwa semuanya normal-normal saja, maka saya pun akan mengucap syukur sambil terus berdoa mudah-mudahan kondisi si dede akan normal-normal saja.

Kita, sebagai seorang individu yang hidup dalam sebuah kumpulan masyarakat yang heterogen, sering sekali terjebak dalam hal bagaimana caranya membuat semua orang berkomentar baik tentang diri kita. Akhirnya, kita pusing tentang bagaimana caranya membuat mata orang tertarik, membuat telinga orang senang, dan membuat bibir orang tersenyum.

Suatu ketika ada seorang teman yang bercerita tentang konflik di keluarganya. Seluruh anggota keluarga bersatu padu melawan dirinya karena dia adalah satu-satunya orang yang menentang pernikahan adik perempuannya.

Banyak alasan yang dia kemukakan. Dan semuanya sangat logis juga masuk akal. Apalagi saya sangat mengenal kondisi keluarganya.

Kemudian saya bertanya pada teman saya ini, “Emang nggak takut dimusuhin sama keluarga?”

Dia kemudian menjawab, “Aku mah nggak peduli, Mbak, orang pada ngomong apa. Yang penting, mudah-mudahan Allah Ridho. Terserah deh pada mau nilai aku apa!!!”

Kita pun tentu sama-sama ingat gelar yang diberikan oleh orang-orang Quraisy pada Rasulullah sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Al-Amin, ya, julukan yang begitu mulia.

One Comment

  1. ini tulisannya belum selesai….
    si abi udah maen upload aja…eh,apa umi yang upload…
    *wah gejala penuaan nih*

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *