Betapa nikmatnya mengasuh si buah hati

Seorang teman pernah bercerita pada saya. Dia pernah menemukan kasus ‘Anak Yang Tidak Mengakui Orang Tuanya’. Ini tidak terjadi di sinetron dan, tentunya, tidak se hiperbolis akting para bintang muda karbitan yang membintanginya.

Ini adalah cerita tentang anak yang hidup bersama pengasuhnya sejak kecil. Kemana bapak dan ibunya? Sibuk bekerja mengejar karier dengan dalil, ‘Aku bekerja untuk menghidupi anakku’.

Sang anak nyaris tidak mengenal bapak dan ibunya. Sang orang tua yang merasa pahlawan selalu pergi pagi ketika sang anak masih tidur dan pulang malam ketika sang anak sudah tidur. Akibatnya, perhatian untuk si anak hanya didapat dari si Mbok.

Dan benar saja. Ketika kebetulan suatu hari sang orang tua pulang lebih cepat dan langsung menemui si anak, anak itu pun tidak mau dan langsung memanggil ‘orang tua’nya, “MBBOOOOKKKK!!!!”

Duuuhhh…. Orang tua mana yang nggak miris kalau diperlakukan seperti itu oleh anak mereka. Tapi, memang itulah konsekuensi yang harus diterima para orang tua yang menyerahkan pengasuhan anak mereka pada pengasuh, nanny, baby sitter, si Mbok, atau apalah namanya.

Salah satu alasan kenapa ada seorang bijak yang mengatakan bahwa syurga ada di telapak kaki ibu adalah beratnya menjalankan kewajiban mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Kita bisa menemukan dengan mudah ibu-ibu muda yang mempercayakan pengasuhan anaknya pada orang lain.

Padahal, kalau mereka tahu, betapa nikmatnya mengasuh si buah hati, mereka pasti bersikeras untuk mengauh anak-anak dengan tangan mereka sendiri.

Saya bukanlah orang yang ahli dalam mendidik anak. Saya masih belajar memahami anak saya. Tapi, baru dalam 7 minggu kehidupan anak saya, saya menemukan banyak hal luar biasa yang terjadi setiap detiknya.

Mulai dari wajah damainya ketika tidur yang membuat semua masalah hidup seakan menghilang bersama angin sampai ketakjuban mendengar ‘Haaooohhhh….’ Yang pertama kali keluar dari mulutnya diiringi sunggingan senyum. Masya Allah, syurga serasa pindah ke bumi.

Walaupun pada awalnya merasa repot dengan segala kebiasaan luar biasa si kecil, mulai dari BAB dan BAK dengan frekuensi yang fantastis sampai kebiasaannya bangun malam dan tidur pagi. Belum lagi rasa sakit pada puting payudara ketika masa awal menyusui, Masya Allah. Tapi, semuanya menjadi nikmat ketika mengingat bahwa semua kerepotan ini memiliki kedudukan dan nilai yang tinggi di hadapan Allah. Bukan hanya di dunia. namun akan terus terbawa sampai kita meninggalkan dunia ini dan bertemu dengan-Nya.

Semenjak belum menikah, saya selalu bertekad untuk tidak menggunakan jasa nanny. Saya tidak mau melewati setiap moment perkembangan anak saya tercinta. Saya ingin mendengarnya bicara mulai dari ‘Haaoooo’ sampai nanti ketika dia berbicara di hadapan banyak orang tentang nilai-nilai kebaikan.

Saya ingin melihatnya mulai berguling sampai nanti dia bisa menggulingkan siapa saja yang berlaku dzolim.

Saya ingin melihatnya mulai tertatih berjalan sampai nanti dia akan melebarkan langkahnya menjemput masa depannya yang gilang-gemilang.

Saya ingin ada terus, mendampingi putra-putri saya semenjak lahir, sekarang, nanti, dan selamanya sampai Allah menentukan waktunya. Semoga Allah mendengar doa setiap ibu yang mengasuh anaknya dengan penuh cinta. Amin.

Wallahu’alam.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *