Bisa Matematika, bahasa Inggris = SUKSES

Tulisan ini saya baca di beberapa billboard yang tersebar di daerah Jakarta. Tulisan besar-besar yang terkesan mengintimidasi orang-orang yang mempunyai nilai dji sam soe (baca : 2 3 4) dalam subjek matematika dan bahasa Inggris. Dalam hati saya berdoa semoga orang-orang yang sekiranya akan merasa terintimidasi bila melihat tulisan tersebut, tidak melihatnya. Kalaupun mereka melihatnya, saya sangat berharap mereka justru akan membuktikan bahwa kesuksesan bukan hanya milik mereka yang jago matematika dan bahasa Inggris saja.

Ingatan saya kembali ke masa lalu. Masa-masa dimana, kata orang, masa itu adalah masa indah dalam hidup. Walaupun bagi saya, yang indah pada masa itu hanyalah keputusan untuk mengubah haluan hidup dengan berjilbab. Masa itu adalah masa putih abu-abu, masa SMU.

Setiap orang tua tentunya menginginkan setiap anaknya menjadi anak yang berhasil di kemudian hari. Dan untuk mewujudkan itu, mereka juga berusaha sebaik mungkin menyediakan sarana penunjang berupa materiil dan spirituil. Demikian juga yang terjadi pada mama saya. Beliau selalu memberikan motivasi setiap hari agar saya menjadi anak yang berhasil.

Begini yang beliau katakan tiap kali memberikan wejangan hangat pada saya tentang rumus ‘Bagaimana Menjadi Orang yang Berhasil’ :

“Pokoknya kamu itu harus bisa matematika sama bahasa Inggris. Kalo sudah bisa menguasai dua mata pelajaran itu, pasti bisa pelajaran yang lain. Semua itu dasarnya matematika dan bahasa Inggris.” Pada saat itu saya mengangguk mantap. Pokoknya harus jago matematika dan bahasa untuk menjadi sukses. Tidak terlintas dalam benak saya bahwa rumus yang diberikan oleh mama saya adalah rumus yang tidak pernah teruji secara empiris dan klinis. Dan saat itu saya juga tidak menyadari bahwa mama saya kuliah dengan mengambil jurusan ekonomi dengan alasan bahwa beliau tidak jago dalam pelajaran matematika. sungguh realitas yang sangat tidak sinkron.

Akhirnya saya berjuang mati-matian untuk bisa menjadi pelajar yang jago matematika dan bahasa Inggris. Nilainya harus bagus, pokoknya nilainya harus bagus. Sebuah tekad bulat yang membuat saya jatuh dalam ke-matre-an guru bahasa Inggris saya. Nilai bahasa Inggris saya anjlok. Menang samangat doang!!! Tidak begitu parah sebetulnya. Hanya saja, pasti menjadi sesuatu yang sangat memalukan ketika saya yang kala itu mengamalkan rumus ‘Matematika + bahasa Inggris = SUKSES’ harus mengadopsi nilai 6 di raport. Jadilah saya dipanggil ke kantor menghadap guru bahasa Inggris saya bersama beberapa teman.

Setelah negosiasi yang sangat timpang dimana kami hanya mendengarkan tawaran dari sang guru kemudian mengangguk-anggukkan kepala dengan tampang ‘Kasihanilah kami, Bu’, sampailah kami pada sebuah kesepakatan. Kami harus menyerahkan beberapa meter bahan kepada sang guru agar nilai bahasa Inggris kami terdongkrak. Dan dengan merogoh kocek sangat dalam sampai kantong bolong, kami pun akhirnya patungan dan memberikan bu guru kami bahan yang sangat beliau idam-idamkan.

Ketika pembagian raport, bahasa Inggris = 7. Doktrin ‘Matematika + bahasa Inggris = SUKSES’ masih tertanam kuat dalam benak saya. Berlanjut terus dari hari ke hari sampai akhirnya saya masuk jurusan IPA di SMU. Sebuah jurusan dimana saya mulai SEDIKIT menyadari bahwa saya terperangkap dalam sebuah kubangan sempit yang membenturkan potensi yang saya miliki selain, lagi-lagi, matematika dan bahasa Inggris.

Saya kira semua orang akan sepakat bila kesuksesan tercapai karena berbagai macam hal, bukan hanya dari dua subjek yang sering saya sebut-sebut di atas. Seorang manajer dikatakan sukses apabila dia bisa mengatur dan mengelola perusahaan sedemikian rupa sehingga melahirkan benefit yang besar dan mensejahterakan karyawannya. Dan seorang manajer melakukan itu semua bukan hanya dengan cara mengkalkulasi jumlah karyawan atau untung dan rugi saja kan??? Bukan juga hanya dengan cara presentasi melulu dengan menggunakan bahasa Inggris atau selalu mengajak bicara karyawannya dengan menggunakan bahasa Inggris. Tapi dengan ketepatan strategi dan keramahan pada konsumen.

Seorang ibu rumah tangga misalnya. Tentu saja dia dikatakan sukses manakala tidak hanya bisa mengajari anaknya matematika dan bahasa inggris. Tapi juga mampu melaksanakan kewajibannya sebagai ibu dengan mendidik anak-anaknya sebaik mungkin hingga menjadi anak-anak unggulan. Seperti Ibunda Khansa yang dikenal sebagai Ibunya Para Syuhada karena semua anaknya syahid di medan perang hingga selalu tertoreh dalam lembaran sejarah manusia dan diteladani oleh setiap generasi.</p>  <p>Matematika dan bahasa Inggris tentu juga merupakan alat bantu bagi kita untuk mencapai kesuksesan. Tapi jangan sampai alat bantu ini berubah menjadi alat utama yang pada nantinya akan menghilangkan peran piranti lain yang mungkin akan membawa pelakunya pada kesuksesan yang lebih besar lagi.

DR. Amir Faishol Fath, MA. pernah mengatakan dalam satu sesi kuliahnya bahwa seseorang itu dinyatakan sukses kalau KAKINYA SUDAH MENGINJAK SYURGA. Selama dia masih belum menginjak syurga, maka dia belum bisa dikatakan sukses.</p>  <p>Hidup ini adalah sebuah perjalanan dalam meniti sebuah kesuksesan abadi. Maka mengerahkan seluruh potensi kita untuk mendapatkan kesuksesan itu adalah sebuah harga yang harus dibayar. Jangan pernah batasi potensi yang kita miliki. Biarkan dia melesat tanpa batas meraih syurga yang luasnya juga tak berbatas. Wallahu ‘alam.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *