Cinta

Suatu hari ada seorang teman yang bertanya kepada saya tentang apa itu cinta. Saya jawab, cinta itu adalah cinta. Cinta tidak memiliki kata ganti. Cinta tidak terartikan. Mengartikannya hanya membuat cinta menjadi sempit. Cinta tidak terdefinisi. Mendefinisikannya hanya membuat cinta menjadi picik.

Secara ilmiah, ada alasan kenapa cinta tidak dapat didefinisikan. Celestine N. Bittle dalam bukunya, Logic: The Science Of Correct Thinking, menjelaskan bahwa ada beberapa kaidah yang harus dipenuhi supaya suatu kata dapat didefinisikan. Dan, cinta tidak memenuhi kaidah-kaidah tersebut. Bukan karena cinta adalah suatu hal yang kerdil, maka dia tidak memenuhi syarat untuk didefinisikan. Bukan. Justru sebaliknya, cinta adalah sesuatu yang sangat megah dan agung. Dengan demikian, mendefinisikannya hanya akan membuat makna cinta menjadi berbatas.

Yang saya tahu, cinta adalah ketulusan. Cinta adalah keindahan. Cinta adalah kerelaan untuk berkorban demi sesuatu yang jauh lebih mulia. Tidak ada cinta yang membuat sengsara. Tidak ada cinta yang membuat seorang pemuda nekat bunuh diri lantaran ‘ditolak’ seorang gadis. Atau, lantaran putus hubungan dengan kekasihnya.

Mereka yang melakukan hal-hal tidak terpuji atas nama cinta, sesungguhnya tidak mengerti apa itu cinta. Tak pernah ada cinta yang menyakitkan. Kalaupun ada, itu hanya dalih untuk membenarkan suatu perbuatan. Sebab, pada dasarnya cinta itu indah. Karena itu, apabila cinta telah dijadikan alasan atas kesengsaraan seseorang, itu bukanlah cinta. Itu adalah keegoisan diri sendiri. Seorang budayawan Amerika Serikat memperkenalkan istilah lain ketika seseorang sedang jatuh cinta, Grow In Love. Bertumbuh dalam cinta. Secara harfiah istilah ini memberikan arti yang positif, yaitu bertumbuh. Berkembang. Melakukan hal-hal yang positif. Membuat sang pecinta lebih kreatif, lebih inovatif, dan sebagainya. Istilah yang sering kita gunakan selama ini, Fall In Love. Jatuh dalam cinta. Dengan menggunakan istilah Grow In Love, budayawan ini berharap orang yang sedang kasmaran akan punya banyak aktivitas positif. Bukannya sibuk mengkhayal dan berfantasi saja.

Namun, cinta tak melulu hadir dalam bentuk yang indah dan membuat hati berbunga-bunga. Kadang kala cinta hadir dalam bentuk yang lain. Dalam bentuk musibah yang menguras air mata. Dalam bentuk bencana yang meluluhlantakkan harta benda yang kita miliki. Tsunami, banjir, longsor, dan banyak lagi. Ada yang bilang bahwa itu semua adalah tanda peringatan dari yang Maha Kuasa. Ya, betul juga. Namun, kalau kita selisik lebih jauh lagi, tanda peringatan adalah salah satu bentuk dari apresiasi rasa cinta juga.

Coba kalau bencana tidak datang bertubi-tubi di Indonesia, pemerintah tidak akan mencoba memberikan peringatan dini akan bencana yang akan datang. Kalau tidak ada pesawat yang jatuh, pemerintah tidak akan melakukan penertiban udara terhadap pesawat-pesawat yang nekat terbang dalam kondisi cuaca buruk. Jika tak ada kapal tenggelam karena gelombang tinggi, pemerintah tidak akan memberikan informasi secara terus-menerus sepanjang hari kepada masyarakat tentang kondisi terkini laut Indonesia. Jika banjir tidak melanda daerah-daerah yang hutannya digunduli, pemerintah tidak akan serius menangani masalah penebangan liar dan reboisasi atau penghijauan hutan kembali. Selain itu, banyak bencana lain yang membuat manusia berpikir untuk mengadakan perbaikan.

Contoh lain tentang kemegahan dan keagungan cinta akan kita dapati pada tindak-tanduk banyak tokoh dunia yang melegenda. Muhammad bin Abdullah, sang panutan umat muslim sedunia. Besar cintanya pada Sang Khalik membuatnya tak pernah gentar menghadapi musuh-musuhnya. Meski, dia harus meregang nyawa di setiap perang dan pertempuran yang dipimpinnya. Mother Theresa yang berjuluk Ibu Kaum Papa. Betapa besar cintanya pada kaum miskin di jagat ini. Nobel perdamaian yang didapatnya tak akan pernah sebanding dengan besar cintanya yang ditabur bagi umat manusia. Sir Bob Geldof yang baru-baru ini memperoleh gelar doctor honoris causa atau doktor kehormatan dalam bidang hukum sipil dari Newcastle University. Gagasannya untuk membuat konser besar bertajuk LIVE 8 yang berisi seruan kepada Negara-negara kaya yang tergabung dalam G8, untuk membantu Negara-negara miskin di benua hitam, Afrika, adalah bukti cintanya pada umat manusia. Banyak contoh lain yang akan membuat kita berdecak kagum akan kebesaran cinta mereka pada kemanusiaan dan kehidupan.

Mengapa cinta mereka begitu besar dan punya andil yang cukup signifikan dalam perubahan dunia?? Jawabannya, karena mereka semua mengerti betul apa itu cinta. Mereka memaknai cinta dengan setulus hati mereka. Mereka menyadari bahwa cinta termurni dating sebagai akibat dari kecintaan mereka yang begitu dalam kepada Tuhan. Ya, akar cinta yang paling murni adalah cinta kepada Tuhan. Jadi, jika kita ingin mengubah dunia ini menjadi dunia yang lebih baik dengan cinta kita, hal pertama yang harus kita lakukan adalah cintai Tuhan sepenuhnya.
Belajarlah pada cinta agar kebahagiaan bukan milikmu seorang. Belajarlah pada cinta agar air matamu bernilai firdaus di mata Sang Khalik. Belajarlah pada cinta agar nyawamu tak mati sia-sia. Belajarlah tentang mulianya hidup dan agungnya kebaikan pada cinta. Well, selamat memaknai cinta!!!…..

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *