Daddy at Home

Ada hal yang sangat menyedihkan ketika melepas suami saya pergi bekerja. Setelah sarapan pagi bersama, biasanya si abi langsung keluar menghampiri motor yang sudah hampir empat tahun mengantarnya kekantor. Setelah mencium pipi Hana, dia pun menyerahkan Hana pada saya. Saya dan Hana bergantian menyalami dan mencium tangan Abi. Seringnya, Hana minta digendong abinya lagi dan minta bermain bersama. Namun, abinya harus menolak dengan berat hati karena musti segera berangkat ke kantor.

Keadaan menyedihkan ini menjadi concern saya dan suami. Bagaimana caranya agar abi punya waktu banyak untuk bermain bersama Hana. Karena kalau pulang kantor, pasti capek dan sudah suntuk oleh tumpukan pekerjaan di kantor. Kami harus cari cara agar hak anak terhadap waktu dari orang tuanya tidak terabaikan.

Suami saya pun merencanakan untuk membangun usaha dan secepatnya keluar dari tempatnya bekerja. Setelah itu, dia akan memberikan waktu bermain dan belajar yang lebih banyak bersama Hana. Dan tentu saja adik-adiknya.

Selain alasan diatas, ada beberapa hal penting yang menjadi bahan pertimbangan mengapa saya dan suami memutuskan untuk berwirausaha saja dengan harapan akan lebih banyak porsi waktu untuk anak-anak.

Ini sih hasil obrolan saya dengan seorang teman yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia pendidikan anak. Dan menurut saya, cukup pantas untuk menyebutnya pakar karena keilmuan yang dimilikinya.

Menurutnya, 12tahun pertama kehidupan seorang anak adalah pembentukan karakter dasarnya. Dan, Saudara-saudara, siapakah yang peranannya lebih signifikan dalam proses ini??? Jawabannya adalah sang bapak.

Sangat masuk akal. Mengingat banyak orang besar lahir dari didikan tangan dingin sang ayah. Contohnya adalah Imam Syahid Hasan Al Banna. Masa kecilnya dihabiskan dengan menemani sang ayah yang ahli hadits berdakwah kemana-kemana. Mereka berkendara dengan sepeda. Al Banna duduk manis di belakang sambil mengulang hafalan qurannya sementara sang ayah membetulkan hafalannya. Alm Yoyoh Yusroh yang saya kenal sebagai seorang yang sholehah pun, menurut anaknya, mendapatkan banyak pengaruh dalam hidupnya lewat ayahnya yang seorang ulama.

Ibu Hj. Wirianingsih yang anak-anaknya hafidz dan sangat cerdas pun mengatakan kalau peran ayah sangat penting. Makanya, kenapa banyak kita dapati percakapan dalam Alquran adalah percakapan ayah dengan anaknya. Percakapan Ibrahim dengan Ismail, Luqman dengan anaknya, dan yang lain.

Beberapa hasil penelitian yang saya baca pun menunjukkan bahwa peran ayah sangat signifikan. Mayoritas kriminil di Amerika mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari ayah mereka dan kekurangan waktu dari ayah mereka. Walaupun ibu-ibu mereka baik dan penuh kasih sayang.

Ibnul Qayyim berkata bahwa kehancuran sebuah generasi adalah tanggung jawab ayah. Sebuah pernyataan yang diungkapkan 7 abad yang lalu dan terbukti lewat penelitian ilmiah di masa sekarang.

Nah, masih mau menjadi ayah yang cuma bisa bekerja di luar rumah dan mengatakan bahwa ‘Aku telah melakukan apapun dan kamu harus bertanggung jawab terhadap apapun yang ada di rumah termasuk anak-anak’ sambil menuding ke arah istrinya?? selamat merenung 🙂

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *