Dampak pengiriman pasukan usamah ke syam

Sekembalinya Nabi Saw dari haji wada’ pada akhir bulan Dzulhijah, di kala kaum muslimin yang berasal dari luar kota Madinah yang ikut mengerjakan ibadah haji bersama Rosulullah telah pulang ke kabilah masing-masing, di kala suasana aman dan tentram telah meliputi seluruh jazirah Arab, dan tidak ada lagi kabilah Arab yang mengganggu kaum muslimin, Nabi mengarahkan pandangannya kea rah utara yaitu arah perbatasan Syam. Nabi ingin agar kaum muslimin memiliki pertahanan yang kuat agar setiap serangan musuh dapat ditangkis dan dilawan dengan mudah dan cepat.
Walaupun sesudah perang Tabuk, tidak ada lagi serangan dari kerajaan Romawi ke Jazirah Arab, Nabi yakin bahwa pada suatu hari nanti Romawi akan mengadakan serangan balasan karena Romawi berpikir kaum musliminlah yang memusnahkan agama Nasrani yang berkembang pesat di Jazira Arab.
Pada bulan Safar tahun 11 H, Nabi mulai mempersiapkan pasukan perangnya untuk dikerahkan ke daerah perbatasan utara guna melumpuhkan kekuatan musuh yang dipandang sangat berbahaya bagi kaum muslimin di tanah Arab. Di samping itu, beliau teringat bahwa Zaid Bin Haritsah yang beliau kirim ke perbatasan utara pada beberapa tahun yang lalu, terbunuh dalam pertempuran Mu’tah.
Dalam tempo singkat, beliau tela menyiapkan tiga ribu pasukan perang yang didalamnya terdapat para sahabat Khulafaur Rasyidin.Nabi memerintahkan mereka supaya berangkat ke Ubna yang terletak dekat Mu’tah untuk memerangi dan menaklukkan penduduknya..
Pada keesokan harinya, Nabi memanggil Usamah bin Zaid supaya menghadap beliau. Setelah Usamah menghadap, Nabi mengangkatnya menjadi panglima perang untuk memimpin pasukan yang akan diberangkatkan itu.
Nabi bersabda,
“Pergilah kamu ke tempat terbunuhnya bapakmu, injaklah mereka dengan kuda. Aku menyerahkan pimpinan ini kepadamu, maka perangilah penduduk Ubna pada pagi hari dan bakarlah (hancur binasakanlah) mereka. Cepatlah kamu berangkat, sebelum berita ini terdengar oleh mereka. Jika Allah memberi kemenangan kepadamu atas mereka, janganlah kamu berlama-lama bersama mereka. Bawalah bersamamu petunjuk-petunjuk jalan dan dahulukanlah mata-matamu.”
Namun, tiba-tiba sakit kepala hebat menyerang Nabi. Pasukan perang belum mau berangkat. Mereka menunggu komando dari Rasulullah.
Keesokan harinya Nabi memanggil Usamah. Beliau menyerahkan bendera kepada Usamah sambil bersabda.
“Berperanglah kamu dengan nama Allah di jalan Allah. Perangilah orang yang kufur di jalan Allah.”
Walaupun demikian, Nabi belum juga memerintahkan Usamah untuk berangkat dengan pasukan perangnya. Sedangkan pasukan perang yang berjumlah tiga ribu orang itu telah siap untuk berangkat.pasukan perang terdiri dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Seluruh kepala kaum Muhajirin dan kaum Anshar tidak ada yang absen menjadi pasukan perang. Usamah sendiri baru berusia tujuh belas tahun pada waktu itu.
Usia Usamah yang muda, melahirkan polemic di kalangan kaum muslimin. Apalagi pasukan yang dipimpinnya terdiri dari orang yang lebih tua termasuk diantaranya adalah para pembesar kaum Muhajirin dan Anshar. Kalau bukan karena kepatuhan mereka terhadap Nabi tentulah pengangkatan Usamah menimbulkan kekecewaan dan rasa tidak puas.
Gonjang-ganjing ini sampai ke telinga Nabi. Nabi marah. Dengan kepala terikat kain dan kondisi sakit, beliau naik mimbar dan berpidato di depan banyak orang.
Setelah mengucapkan puji dan syukur kepada Allah, beliau bersabda,
“Amma ba’du. Telah sampai kepadaku keraguan kalian terhadap keputusanku mengangkat Usamah. Apabila kalian meragukan pengangkatan Usamah sebagai komandan berarti kalian pun meragukan ketika aku mengangkat ayahnya, Zaid bin Haritsah, sebagai komandan perang. Aku sangat menyayangi Zaid dan aku pun sangat menyayangi Usamah. Mereka berdua adalah orang-orang baik. Maka, sudah sepantasnya kalian pun memandang baik terhadap mereka berdua.”
Semua orang tertunduk mendengar ucapan Nabi. Bagaimana mungkin mereka meragukan Usamah sementara Nabi begitu mempercayainya.
Pada waktu pasukan perang kaum Muslimin sudah berada di luar kota Madinah dan tengah menanti komando dari Nabi, tersiarlah berita sakitnya Nabi. Mereka tidak berani kembali ke Madinah sebelum ada perintah.
Beberapa pendapat mengemuka. Ada yang berpendapat bahwa sakitnya Nabi tidak boleh menghalangi jihad ini. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka seharusnya pulang saja ke Madinah.
Sakit Nabi semakin parah. Hingga beliau wafat, pasukan perang pimpinan Usamah ini belum mendapatkan penjelasan tentang nasib mereka. Terus maju berjihad atau kembali ke Madinah yang sedang berduka karena wafatnya Nabi.

KEPUTUSAN KHALIFAH ABU BAKAR RA. UNTUK TETAP MENGIRIM PASUKAN USAMAH
Setelah Nabi wafat, kaum muslimin berbeda pendapat tentang nasib pasukan Usamah. Sekelompok kaum muslimin berpendapat bahwa pengiriman tentara Usamah ke Syam adalah berbahaya dan mengkhawatirkan. Sebab, pada saat itu kota Madinah sendiri mendapat ancaman serbuan dari kaum yang murtad.
Namun, Abu Bakar memiliki pendapatnya sendiri. Pasukan itu harus tetap dikirimkan bagaimana pun situasinya. Simpul keputusan yang telah dijalin oleh Nabi tidak boleh dilepaskan dengan alasan apa pun.
Ketika para sahabat dengan gencar menganjurkan agar Abu Bakar menangguhkan saja pengiriman Usamah, dia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melepas simpul yang telah diikat oleh Nabi saw., meskipun burung menyambar kami dan Madinah dikerumuni binatang buas. Walaupun anjing-anjing menyeret kaki Ummahatul Mu’minin, sungguh aku akan tetap mempersiapkan pasukan Usamah bin Zaid ke tujuan semula.”
Sebetulnya ada pendapat yang ketiga. Pasukan tetap diberangkatkan namun panglimanya diganti dengan yang lebih tua dan berpengalaman. Mengenai ini, Abu Bakar pun tidak bergeming. Apapun situasi dan kondisinya, perintah Nabi harus tetap dilaksanakan. Para sahabat pun akhirnya mematuhi keputusan Abu Bakar.
Abu Bakar maju ke tengah-tengah pasukan untuk menyampaikan pesan agar bertakwa kepada Allah dan bersabar tatkala berhadapan dengan musuh. Abu Bakar berkata, “Janganlah kalian berkhianat, janganlah curang, janganlah bertindak secara berlebihan, janganlah membunuh anak kecil, orang tua renta, dan wanita. Janganlah memandulkan pohon kurma, janganlah membakarnya, janganlah menebang pohon yang berbuah, dan janganlah membunuh kambing dan sapi kecuali untuk dimakan. Kalian akan melintasi kaum yang menyuguhi kalian dengan aneka makanan. Jika kalian menyantap makanan demi makanan, bacalah basmalah. Segeralah berangkat dengan membaca basmalah.”
Khalifah Abu Bakar juga turut mengantar dengan berjalan kaki sementara Usamah menunggang kuda.
Usamah berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah! Silahkan Anda naik kendaraan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki.”
Jawab Abu Bakar, “Demi Allah! Jangan Turun! Demi Allah! Saya tidak hendak naik kendaraan. Biarlah kaki ku kotor mengantarmu berjuang fisabilillah.”
Kemudian Khalifah mendekat kepada Usamah dan berkata, “Jika engkau setuju, biarlah Umar tinggal bersama saya. Izinkanlah dia tinggal untuk membantu saya.” Usamah pun menyetujuinya.
Usamah berhasil kembali dari medan perang dengan kemenangan yang gemilang. Mereka memperoleh harta rampasan yang banyak, melebihi apa yang menjadi dugaan banyak orang. Orang-orang pun berkata, “Belum pernah terjadi suatu pasukan kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh dan membawa harta rampasan perang sebanyak yang dibawa pasukan Usamah.”

DAMPAK PENGIRIMAN TENTARA USAMAH
Langkah yang diambil oleh Khalifah Abu Bakar tidak menyertakan alasan lain selain memenuhi wasiat Rasulullah. Di tengah kondisi Negara yang carut marut akibat murtadnya kaum muslimin dan pembangkangan terhadap perintah membayar zakat, Abu Bakar tetap berkomitmen untuk memenuhi perintah Nabi.
Dan lihatlah buah yang dipetik oleh kaum muslimin karena ketaatan terhadap perintah Nabi Saw. secara internal, pengiriman pasukan ini berhasil mengalihkan perhatian kaum muslimin dari masalah-masalah yang bersifat intern yang rentan menimbulkan perpecahan. Kemenangan tentara Usamah memperkokoh kembali persatuan kaum muslimin.
Pihak asing yang akan menyerang kaum muslimin pun berpikir seribu kali untuk mnginvasi. Logikanya, Abu Bakar tidak akan mungkin mengirim pasukan dalam jumlah yang besar keluar kota Madinah jika keamanan dalam negeri tidak terjamin. Kaum kafir berfikir bahwa keamanan kota Madinah pastilah sangat ketat sehingga Abu Bakar berani memberangkatkan pasukan Usamah.
Selepas kemenangan Usamah, Abu Bakar menstabilkan kondisi internal dan secara penuh menguasai Arab. Abu Bakar memerintahkan para Jenderal Islam melawan kekaisaran Romawi dan Persia. Abu Bakar menginstruksikan agar kedua Negara adidaya tersebut diperangi dalam waktu yang bersamaan walaupun dua Negara itu merupakan Negara adidaya dengan angkatan perang yang kuat dan ditunjang dengan wilayah yang luas.

IBROH/PENGAJARAN
Beberapa pengajaran yang dapat diambil dari pemberangkatan pasukan Usamah ke Syam diantaranya adalah :
1. Komitmen Abu Bakar yang tetap tinggi terhadap perintah Nabi walaupun Nabi telah wafat. Perintah Nabi untuk mengirim pasukan Usamah dilaksanakan walaupun banyak yang menentang, membuktikan loyalitas Abu Bakar yang tinggi. Padahal, setelah Nabi wafat banyak kaum muslimin yang murtad dan tidak membayar zakat dengan dalih kalau Nabi telah wafat, maka loyalitas terhadap Islam sudah tidak dibutuhkan lagi. Loyalitas inilah yang sepatutnya ada dalam diri kaum muslimin agar Islam kembali bangkit dan Berjaya.
2. Ketaatan kepada perintah Nabi akan mendatangkan keberkahan. Terbukti dengan diraihnya kemenangan besar dan diraihnya harta rampasan perang yang banyak oleh pasukan Usamah.
3. Kemenangan Pasukan Usamah membuat gentar musuh-musuh Allah dan kaum muslimin semakin percaya diri untuk melakukan penaklukan-penaklukan wilayah mulai dari Romawi, Persia, sampai dengan Irak.
4. Kapasitas kepemimpinan seseorang tidak hanya dilihat dari faktor usia. Di usia yang baru 17 tahun, Usamah telah membuktikan kualitasnya sebagai panglima perang yang berhasil.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *