Ini, Sudah Ada Isinya Belum ???

Kalimat di atas adalah kalimat yang sering saya dengar belakangan ini. Biasanya orang yang menanyakan kalimat ini bertanya sambil memegang-megang dan mengelus perut saya. Saya pun langsung mesam-mesem. Bukan karena apa-apa. Tapi karena bentuk perut saya yang one pack.

Saya dan suami menikah hampir setahun yang lalu. Hari bahagia itu berlangsung pada Sabtu, 3 Januari 2009. Layaknya kebanyakan pasangan muda lainnya, tentu saja kami ingin segera menimang buah hati yang nantinya akan meneruskan peradaban ini.

Sebulan lewat, bulan mengetuk pintu rumah saya. Datang bulan. Bulan kedua, bulan kembali mengetuk pintu rumah saya. Datang bulan lagi.Bulan ketiga, bulan tak kunjung datang. Mual dan muntah menyergap. Hanya telat 9 hari, bulan datang lagi. Mual dan muntah menghampiri karena masuk angin, Huueeekkk.  Bulan keempat, kerinduan akan lahirnya buah hati makin memuncak. Teman-teman mulai ramai menanyakan.

Tetangga mulai ramai memperbincangkan. Bulan tak kunjung datang. Bulan kelima, bulan tak juga datang. Hati mulai senang. Maka, dilakukanlah tes kehamilan. Hasilnya negatif. Dokter bilang, mungkin belum terdeteksi. Mual dan muntah mulai terjadi. Bulan tak juga datang. Sepertinya hamil.

Bulan keenam. Tes kehamilan yang lebih lengkap.Tak ada janin, tak ada bayi, tak ada kehamilan. Bulan harus dipaksa datang. Dokter bilang ada ketidakseimbangan hormon karena terlalu ingin punya anak. Bulan ketujuh. Bulan kembali datang. Banyak seperti air bah karena tiga bulan dia tidak menyapa saya. Dan selama tiga bulan saya harus mengkonsumsi cyclo progynova, hormon sintetis untuk menyeimbangkan kadar hormon yang berantakan dalam tubuh saya. Sebulan sekali saya harus mengunjungi dokter kandungan.

Sebuah hal yang sangat menyakitkan tentu saja. Karena pasien yang mendatangi sang dokter perutnya melendung semua, hamil. Sementara saya, saya tidak hamil. Saya sakit. Betapa tidak mengenakkan berada dalam kondisi seperti ini. Tapi, saya harus sehat supaya saya bisa hamil, melahirkan, dan mendidik anak saya dengan sebaik-baiknya.

Hampir setahun pernikahan kami, kalimat di atas makin sering terdengar dengan banyak tambahan kalimat di sana-sini.

“Tin, udah isi belum?? Lama banget”

“Udah punya jagoan belum. Yah, nggak jago sih bikinnya!!!”

“Bu Tina belum hamil??? Belum dipercaya tuh sama Allah…”

“Ayo dong, Tin, cepetan punya anaknya. Masa’ keduluan sama si anu. Kan nikahnya duluan kamu. Emang nggak pengen?”

Dan segudang pertanyaan lain. Seorang teman yang gemas menimpali dengan, “Rese’ banget ya orang. Kalo pada pengen punya anak ya bikin aja sendiri. Jangan suka nanyain orang lain udah punya anak apa belum. Pake ngeledek segala lagi. Udah, Bu Tina, nggak usah didengerin. Slow aja. Make yourself comfortable aja!!!” And her words really make me so comfort and protected.

Pada awalnya, saya merasa berat menjalani semua perkataan orang tentang belum hamilnya saya. Saya jadi malas ketemu orang dan berbincang dengan mereka. Karena ujungnya pasti pertanyaan ‘Dah isi???’

Tapi, lama kelamaan saya mulai menyadari bahwa hal ini merupakan hal yang sangat tidak sehat. Tidak sehat bagi badan saya, tidak sehat bagi jiwa saya, tidak sehat bagi kehidupan sosial saya. Saya mencoba memutar ‘ancaman’ ini menjadi sebuah ‘peluang’

Menghindari pertanyaan orang-orang jelas bukan solusi. Saya malah akan memperenggang tali silaturahmi dengan mereka. Semakin memperkecil frekuensi mengajak mereka pada kebaikan. And it’s, absolutely not a good idea.

Saya justru harus semakin membuka lebar pintu rumah saya dan keluar menemui mereka semua. Menyapa mereka dan ketika mereka bertanya, saya akan menjawab dengan, “Belum, Bu. Minta doanya aja ya. Semoga Allah berikan di waktu yang tepat. Waktu dimana saya siap mendidiknya hingga menjadi kebanggaan bagi generasi dan agama ini.” Dengan senyum merekah di bibir. And you know what, itu adalah hal yang sangat melegakan karena mereka pasti menimpali dengan, “Iya deh, didoain semoga cepet punya dede.”

Semakin banyak saya bertemu orang, semakin banyak saya berjumpa dengan pertanyaan yang menyinggung kehamilan saya, semakin banyak permintaan doa yang bisa saya sampaikan. Dan mudah-mudahan semakin banyak yang mendoakan saya.

Saya menanamkan kuat dalam diri saya sendiri bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar kemampuannya. Bahwa Allah memberikan semua ini untuk kebaikan saya. Membuat saya semakin kuat, membuat saya semakin dekat dengan-Nya.

Saya mencoba menggali lebih dalam tentang hikmah dari semua ini. Kuliah saya yang tersisa dua tahun lagi menunggu untuk diselesaikan. Mungkin ilmu saya tentang kerumahtanggaan dan mendidik anak masih kurang, jadi Allah memberikan saya waktu untuk belajar lagi. Saya punya banyak waktu untuk belajar-mengajar dan kembali menulis setelah lebih dari setahun vakum menghasilkan tulisan. Sebuah jalan yang saya yakini bisa menyebarkan banyak nilai kebaikan.

Yang paling penting adalah saya harus terus menanamkan dalam diri saya bahwa Allah Maha berkehendak pada setiap hamba-Nya. Saya yakin Allah akan memberikan keturunan pada kami di waktu yang tepat. Di waktu yang indah. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Seorang teman yang telah menikah 16 tahun tanpa dikaruniai seorang anak pun akhirnya hamil. Yang 10 tahun menikah, akhirnya hamil. Yang 21 tahun menikah, akhirnya istrinya hamil. Nabi Ibrahim pun punya keturunan yang luar biasa, para Nabi dan Rasul setelah sekian lama menikah. Nabi Zakariya yang istrinya divonis mandul pun akhirnya bisa memiliki putra yang seorang Nabi juga, Yahya. Bahkan Maryam binti Imran pun yang tidak menikah bisa memiliki seorang anak laki-laki. Itu semua adalah kehendak Allah, rencana Allah. Yakinilah bahwa rencana Allah itu selalu indah untuk tiap hamba-Nya.

Jangan merasa bahwa Allah tidak percaya pada kita ketika Allah belum mempercayakan anak pada kita. Bagaimana mungkin Allah tidak percaya pada hamba-Nya yang selalu berusaha mendekat pada-Nya?? Allah pasti lebih tidak percaya pada pemabuk, penjudi, koruptor, oknum polisi, oknum jaksa. Tapi toh Allah berikan mereka anak juga. Percayalah bahwa Allah mendengar sebait ucapan lembut yang mengalun dari bibir kita lewat lelehan bulir air mata,

Robbi hablii minladunka dzurriyatan thoyyibatan innaka samii’uddu’aaa

Ya Tuhanku berikanlah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a. (Do’a Nabi Zakariya, QS. 3:38

4 Comments

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *