Inilah Kebiasaan Para Shohabiyah

Suatu pagi menjelang siang beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti sebuah kajian muslimah dengan pembicara DR. Nursanita Nasution. Beliau adalah anggota DPR-RI periode 2004-2009 dari Partai Keadilan Sejahtera.

Beliau adalah sosok wanita dengan sejuta aktivitas dengan 7 orang anak. 7 orang anak menjadi menarik karena beliau tetap sibuk sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, termasuk UI.

Ada lagi yang lebih menarik. beliau bercerita bahwa ketika kesibukannya tengah membuncah, mengurusi partai, rumah tangga, sampai menjadi dosen, beliau pernah minta kelonggaran untuk tidak menghabiskan satu juz Al-Quran dalam sehari.

Beliau bertanya pada Ust. Abdul Azis Abdur-Rouf, Al-Hafidz, kira-kira bisa nggak ya kalau beliau tidak menghabiskan satu juz per hari. Ustadz Abdul Azis pun meminta waktu untuk mengecek riwayat-riwayat tentang berapa juz yang dibaca oleh para shohabiyah dalam waktu satu hari. Yah, namanya juga Hafidz alias penghafal Quran, pasti jawabannya harus valid dan bersumber pada riwayat yang shahih.

Dan jawaban yang diberikan oleh Ustadz adalah, “Saya sudah cek, para shohabiyah itu kalau tilawah, satu juz per hari.”

Jawaban yang membuat bu Nursanita langsung bisa menyimpulkan bahwa tilawah per harinya tidak boleh kurang dari satu juz. Anak yang jumlahnya 7 orang dan kesibukan yang bejibun tak bisa menjadi alasan untuk mendapatkan dispensasi soal tilawah ini.

membaca Al Quran seperti sebuah pengobatan yang memerlukan takaran tertentu. tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. demikian juga dengan membaca Al Quran. Ada tenggat waktu yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad Saw untuk mengkhatamkan AL Quran. Bagi umatnya yang menginginkan kebaikan, waktu untuk mengkhatamkan Al Quran ialah antara tujuh hari hingga satu bulan. Dilarang mengkhatamkan Al Quran kurang dari tiga hari. Ada juga hadist yang menyebutkan larangan untuk mengkhatamkan Al Quran lebih dari 40 hari.

‘Aus bin Hudzaifah Ats-Tsaqafi berkata, “rombongan bani Tsaqif datang menemui Rasullah, kemudian mereka berhenti di rumah Mughirah bin Syu’bah, dan Rasullah beristirahat di salah satu tenda milik bani Malik, beliau selalu menemui kami setiap malam setelah shalat Isya. beliau selalu berbicara dengan berdiri hingga pergi, kami banyak berbicara tentang apa yang kami temukan pada kaumnya yaitu kaum Quraisy.

Beliau berkata, ‘keadaan kami tidak sama karena kami kaum yang lemah dan hina, ketika kami pergi ke Madinah, kami selalu bertempur dengan mereka, terkadang menang dan terkadang kalah. Ketika suatu malam yang kami lalui dengan sia-sia, kami datang kepada Rasullah dan saya berkata, “wahai Rasullah, malam ini kami melalui malam yang sia-sia.” Rasullah bersabda, ‘maka sesungguhnya aku selalu membaca satu hizb Al Quran dan aku tidak akan keluar rumah sehingga aku menyelesaikannya.’

‘Aus bin Hudzaifah berkata, ‘aku bertanya kepada para sahabat Rasullah bagaimana cara mereka menyelesaikan hizb hizb Al Quran?’ Mereka menjawab, ‘tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, dan tigabelas malam dan satu hizb yang sempurna.’

Di riwayatkan dari ‘Ustman, bahwa beliau mulai membaca Al-Baqarah pada malam Jumat dan khatam pada malam kamis.

‘Aisyah berkata, “sesungguhnya saya membaca satu juz Al Quran dalam tujuh hari dan saya membacanya di atas ranjangku atau tikar.”

Abdullah bin Mas’ud berkata, “janganlah membaca Al Quran kurnag dari tiga hari, dan hendaknya seseorang dapat membaca satu hizb bacaannya.”

Imam Nawawi berkata tentang mengkhatamkan Al QUran dalam waktu tujuh hari, “perbuatan itu banyak dilaksanakan oleh para salaf.”

As-Suyuthi berkata, “inilah perkara yang paling pertengahan dan lebih baik, karena lebih banyak diamalkan oleh para sahabat dan generasi setelah mereka.”

Catatan: satu hizb=1/2 juz

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *