My Beloved Daughter

Sudah lebih dari sebulan saya absen menulis. Suatu hal yang sangat tidak baik tentunya. Karena keberhasilan hanya milik mereka yang produktif. Sekarang, saya mulai menulis lagi. Mencoba mencari inspirasi dari hidup yang saya jalani dan membagikan pada siapa saja yang membacanya.

Hari ini putri pertama saya, Hana Fathiya Siswandi, berusia tepat 31 hari. Hana lahir pada hari Senin, 15 November 2010 pukul 14.57. saat dimana jamah haji sedang melakukan wukuf di Arafah.

Sesuatu yang lazim dialami oleh para ibu yang akan melahirkan adalah MULES. Ya, saya juga mengalaminya ketika akan melahirkan Hana. Orang bilang, kelahiran anak pertama biasanya akan memakan waktu yang cukup lama. Ya, betul. Hana lahir hari Senin dan saya sudah merasakan mules sejak seminggu sebelumnya.

Merasakan mules selama seminggu ternyata tidak berbanding lurus dengan bukaan leher Rahim. Selama seminggu bukaan leher Rahim hanya satu cm. Minggu pagi saya kembali ke rumah sakit, masih bukaan satu tapi mulesnya sudah teratur. Karena sebelumnya hanya mules palsu atau his palsu. Biasanya mulesnya tidak teratur dan kalau dibawa beraktivitas mulesnya hilang.

Saya masuk kamar bersalin untuk observasi selama dua jam. Ternyata sampai dua jam kemudian, tepatnya pukul 8 pagi, bukaan hanya bertambah 0.5 cm. Karena bukaan yang begitu lama dan saya sudah mengalami kontraksi yang cukup hebat, akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan induksi 24 jam kemudian, tepatnya Senin jam 8 pagi.

Saya pun masuk ruang perawatan. Mules tetap jalan. Jam dua siang saya memanggil bidan jaga karena kontraksinya semakin sakit. Ternyata, setelah diperiksa bidan, bukaannya sudah bertambah menjadi 2 cm. Saya mengucap syukur. Mudah-mudahan tidak perlu induksi.

Pukul 8 malam, kontraksi yang terjadi semakin bertambah hebat. Saya pun kembali memanggil bidan jaga untuk minta diperiksa. Alhamdulillah ternyata sudah bertambah 0.5 cm.

Malam itu saya lalui tanpa tidur karena kontraksi yang semakin bertambah hebat. Saya terus berdoa mudah-mudahan bukaan leher rahimnya bertambah. Saking sakitnya, saya sampai sholat sambil tiduran dan suami saya yang membasuh muka, tangan, dan kaki saya. Karena rasanya memang sudah sangat sakit.

Tepat jam 8 pagi hari senin, saya masuk kamar bersalin. Setelah diperiksa bidan, ternyata bukaan leher Rahim hanya 2.5 cm, tidak berubah sejak semalam. Akhirnya, induksi siap dilaksanakan. Saya pun siap-siap mental. Karena, banyak yang bilang kalau mules karena proses induksi itu lebih sakit. Bidan pun mengingatkan bahwa efek dari induksi adalah kontraksi yang sangat sakit. Jadi, saya diminta untuk siap mental dan fisik. Jangan lupa untuk terus berdoa pada Allah.

Sebelumnya, suami dan saya harus menandatangani surat persetujuan pengambilan tindakan induksi. Isinya adalah berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi selama proses induksi.

Kalau sudah menghabiskan dua botol infus dan bukaan leher Rahim belum mencapai 7 cm, maka akan dilakukan operasi Caesar. Kalau bukaan sudah mencapai 7 cm tapi detak jantung bayi melemah dan kekurangan oksigen, maka akan dilakukan operasi Caesar juga. Saya hanya bisa berdoa pada Allah agar proses induksi ini berhasil dan tidak ada operasi Caesar mengingat efek sampingnya yang sangat tidak enak.

Satu hal yang membuat saya cukup tenang dan terus bertekad untuk melahirkan secara normal adalah pernyataan bidan yang memeriksa bahwa otot leher Rahim saya sudah lembek. Sehingga kemungkinan induksi untuk berhasil sangat besar. Dan memang betul, ketika jarum infus mulai disuntikkan, tepat pukul 8 pagi, saya langsung mulai merasakan kontraksi dan mules yang sangat hebat.

Pukul 9.30, bidan datang dan memeriksa. Alhamdulillah sudah bukaan 4. Semuanya berjalan sesuai jadwal, kata bidan. Saya lihat bidan, Linda namanya, mulai mempersiapkan kendi untuk tempat ari-ari atau plasenta. Perlengkapan untuk melahirkan seperti gunting dan teman-temannya pun mulai dipersiapkan.

Detak jantung bayi dan asupan oksigen terus dipantau. Saya tetap berusaha tenang agar bayi dalam kandungan saya, yang juga sedang berjuang bersama saya, tetap dalam kondisi yang siap lahir normal.

Untuk menguatkan diri saya, suami saya selalu berkata pada saya, “Sebentar lagi, Mi. ayo tarik nafas yang panjang biar dedenya cepet lahir.”

Pukul 12 siang bidan kembali memeriksa saya. Alhamdulillah sudah bukaan 7. Semua berjalan sesuai rencana. Bidan pun mulai memasang penyangga untuk kaki pada ranjang bersalin yang saya tempati. Dokter mulai datang dan memeriksa keadaan saya. Detak jantung bayi tetap normal dan asupan oksigennya tetap terjaga. Untuk mempertahankan kondisi yang baik ini, saya diminta untuk tidur miring kiri agar kepala bayi cepat turun.

Pada bukaan 7 inilah juga saya mulai merasa kebelet ingin buang air kecil. Namun setelah diperiksa bidan, tidak ada urine dalam kandung kemih saya, kosong. Kata bidan itu adalah kepala bayi yang sedang berusaha mendesak untuk keluar.

Pada bukaan 8, dokter datang dan memecahkan ketuban. Saya merasa ada cairan hangat deras mengucur. Dalam hati saya berdoa mudah-mudahan sebentar lagi si jabang bayi yang sangat dinanti-nantikan ini segera lahir.

Dokter bilang kalau ada rasa ingin buang air besar jangan dituruti. Itu adalah kepala bayi yang mendesak untuk keluar. Ya, tentu saja saya sudah mengetahuinya dari buku-buku yang say abaca. Tapi, melakukannya di ruang bersalin ternyata adalah sesuatu yang sangat berat. Belum lagi rasa kantuk yang tak tertahankan.

Pada bukaan 9, rasa sakit dan perasaan ingin mengejan semakin menjadi-jadi. Tapi saya semakin berusaha menguatkan diri. Dokter tengah bersiap-siap memakai jas dan sarung tangan. Saya semakin tenang. Berarti sebentar lagi proses persalinan anak pertama saya akan berlangsung. Posisi tetap tidur miring kiri yang mana membuat rasa kontraksi menjadi semakin sakit. Tapi harus dilakoni agar asupan oksigen tetap terjaga dan kepala bayi semakin turun.

Tak berapa lama, bidan mulai mempersiapkan ranjang persalinan. Dokter sudah duduk di hadapan saya. Saya diminta untuk mengangkat kaki. Suami saya tetap mendampingi dan membantu menarik kaki saya agar bayi semakin terdorong keluar. Kancing pakaian atas saya sudah dibuka semua, begitu pun bra-nya. Ini untuk memudahkan proses inisiasi menyusui dini yang segera dilakukan setelah bayi lahir.

Rasa sakit mulai hilang ketika dokter mengatakan, “Nanti kalau mules, tarik nafas panjang, tahan sebentar, terus ngeden yang kuat ya. Kan udah diajarin cara ngeden yang benar waktu ikut senam hamil kan??”

Dokter terus menuntun saya untuk berdzikir diantara jeda antar mules. Saya nggak berpikir apa-apa selain ngeden yang kuat dan bayi saya harus segera keluar. Saya kangen dan ingin cepat memeluknya.

Di tengah proses ngeden, dokter sempat-sempatnya bertanya pada saya, “Kemarin pas USG perkiraannya berapa kilo ya??”

Saya menjawab dengan suara yang bergetar, “Ttttiiiiggggaaaa, Ddoookkk!!!”

Dokter berkata lagi, “Oh. Kayaknya gede ini bayinya.”

Nggak apa-apa, Dok. Yang penting bayinya cepat keluar.

Akhirnya, setelah melewati proses ngeden yang panjang, saya pun melihat dokter mengangkat bayi saya ke atas. Saya takjub melihat tangan dan kakinya yang meronta-ronta. Si kecil langsung diletakkan di dada saya. Saya langsung memeluknya. Dada ibu adalah thermoregulator yang paling baik untuk bayi. Dan setelah bidan menyedot lendir yang ada di mulut dan hidungnya dengan alat khusus, bayi kami pun menangis dengan keras. Merdunya……

Sambil mencari puting ibunya, bidan mengarahkan kepala bayi agar suami saya bisa mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga bayi kami.

Rasa mules dan sakit berhari-hari hilang sudah. Saya pun sudah tidak merasakan kantuk lagi. Saya hanya bisa mengucapkan syukur yang tak habis-habis pada Allah. Sesuatu yang menakjubkan baru saja terjadi. Dokter pun menjahit bekas ephisiotomi karena bayi yang lewat hasil USG diperkirakan hanya 3 kg ternyata lahir 3.5 kg. saya nggak peduli mau dijahit berapa, yang penting, saya sedang bahagia.

Setelah semuanya rapi. Darah sudah dibersihkan. Saya sudah ganti baju dan makan siang yang kesorean. Setelah itu saya langsung pindah ke ruang perawatan dalam waktu kurang dari satu jam.

Naik kursi roda??? Big No No!!! Jalan lah… biar cepet sehat kata bidannya…….. dan ternyata memang tak terjadi apa-apa. Bekas jahitan hanya linu sedikit. Tapi, tetap sehat dan siap untuk mengasuh dede…..

5 Comments

  1. Mba tina,selamat atas kelahiran putri pertamanya semoga menjadi anak yang sholehah.Amiin.Salam kangen dari teman-teman .kpn masuk kuliah lagi?

  2. Mba..saya jg lg kontraksi nih,sambil nunggu wktnya melahirkan, saya browsing aja,nyari2 ilmu biar lahiranya bs normal n lncr.doanya aja ya..bbrp jam lg anak saya jg insy bs lahir dg selamat..sehat, normal..amin..

  3. Buat Mbak Evoy…Selamat berjuang yaaa…Pasti bisa melewati saat-saat yang nggak akan pernah terlupakan ini 🙂
    Anak ke berapa, Mbak??
    Jangan lupa Inisiasi Menyusui dini ya…. dan ASI Eksklusif selama 6 bulan.
    Kabar-kabari ya kalau dah melahirkan 🙂
    SEMANGAT ya, Mbak……..

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *