Pentingnya Komunikasi Dengan Anak

Dulu, sewaktu belum menikah dan belum memiliki anak, saya sering mendengar banyak orang menyatakan bahwa dalam berumah tangga, komunikasi merupakan hal yang sangat penting. Dalam mendidik anak juga. Sering sekali saya mendengar frase yang mengatakan bahwa komunikasi dengan anak itu penting sekali.

Waktu itu, saya bosan sekali mendengar pernyataan seperti itu. Halaaahhh kayak nggak ada hal lain yang lebih penting aja ketimbang komunikasi. Komunikasi kan gampang. Tinggal ngomong aja, selesai. Gitu aja kok repot.

Setelah berumah tangga, ternyata berkomunikasi dengan pasangan tidaklah sesederhana dan semudah yang dulu saya bayangkan. Ada situasi yang jadi bahan pertimbangan. Semuanya menjadi begitu hati-hati. Intonasi suara dan pemilihan kata juga tidak boleh sembarangan. Salah penempatan bisa jadi keliru penafsiran dan akan makin memperkeruh suasana dan menaikkan tensi emosi. Setidaknya itu yang saya alami selama tiga tahun lebih menikah. Dan sampai sekarang, saya masih belajar bagaimana caranya bicara dengan pasangan agar tak salah sasaran.

Dengan anak pun begitu. Setelah merasa bahwa komunikasi memegang peranan yang tak sepele dalam mendidik anak, saya pun sering mengajak anak saya bicara semenjak dia masih bersemayam hangat dalam rahim saya.

Di usianya yang memasuki bulan ke 15, anak saya termasuk anak yang penurut dan sangat kooperatif. Beberapa kali memang dia memberontak dan ngotot bermain dengan hal-hal yang berbahaya seperti gunting atau pecahan ubin. Namun, dengan gaya komunikasi yang tepat dan gaya bahasa penuh cinta yang sesuai dengan usianya, dia pun mengerti.

Tidak mudah memang membangun komunikasi dengan si kecil. Perlu repetisi berulang kali dan konsistensi dengan apa yang kita ucapkan padanya. Saya mempunyai beberapa kata kunci. Untuk permintaan, saya selalu memanggil anak saya dengan pujian misalnya, ‘Anak sholehah, hari ini kita mau mengaji. Yang anteng ya. Boleh bermain dengan teman, tapi yang akur ya. Kalau adek merasa bosen, bilang sama umi ya.’ terus saya peluk dan saya cium pipinya. Biasanya, saya suka memberikan reward mulai dari pujian sampai roti pisang coklat kesukaan anak saya kalau dia kooperatif. Tapi, belakangan ini mulai saya kurangi rewardnya karena saya ingin membangun kesadarannya bahwa anteng dan memperhatikan ketika ada pengajian akan menimbulkan manfaat bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.

Kalau saya melarang, biasanya saya memulai dengan kata maaf. Misalnya, ‘Maaf ya, Nak. Gunting itu tajam. Nanti adek tangannya berdarah. Gimana kalau kita main boneka aja. Nanti adek boleh belajar menggunakan gunting kalau umurnya sudah tepat.’

Biasanya, saya menatap langsung ke matanya dan mendudukkan kepala saya tepat di depan kepala anak saya ketika saya berbicara dengannya. And it’s really works. You have to try it 🙂

 

Anak saya juga pernah ngamuk dan marah. Saya tunggu sampai amarahnya mereda. Setelah itu saya tanya tentang mengapa dia marah. Biasanya dia akan ngomel-ngomel dengan bahasa bocah yang menggelikan. Setelah itu, saya biasanya mengevaluasi apa yang  sudah seharian ini kami kerjakan. Di akhir evaluasi biasanya saya meminta maaf kalau saya punya kesalahan yang menyinggung hatinya dan saya katakan juga kalau saya sudah memaafkannya juga. Kemudian anak saya mencium tangan saya, saya pun mencium tangannya juga. Kami saling berpelukan dan tertawa lagi.

 

Itulah sedikit cerita saya. Melelahkan memang. Namun bahagia rasanya mengetahui si kecil merasakan apa yang kita rasakan dan kita juga mengerti emosi anak. Walaupun sekarang belum terlalu nampak hasilnya, tapi saya percaya bahwa komunikasi yang dibangun sejak dini akan memberikan dampak besar di kemudian hari.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *