Peran Politik Wanita Dalam Sejarah Islam

Saat ini kata politik masih menjadi momok bagi sebagaian besar masyarakat Indonesia. Stigma bahwa politik itu kotor, keras dan hanya pantas untuk laki-laki masih kuat tertanam dalam benak kita. Ketika para wanita beramai-ramai membicarakan masalah politik, dibagian lain masih banyak anggapan bahwa apa yang dibicarakan itu suatu keniscayaan.

Adapun definisi politik dalam perpekstif islam adalah pengaturan urusan-urasan (kepentingan) umat baik dalam negeri maupun luar negeri berdasarkan hukum-hukum islam. Pelakunya bisa Negara (khalifah) maupun kelompok atau individu rakyat.

Rasulullah Saw bersabda : “adalah Bani Israel, para Nabi selalu mengatur urusan mereka. Setiap seorang Nabi meninggal di gantikan Nabi berikutnya. Dan sungguh tidak ada lagi Nabi selainku. Akan ada para khalifah yang banyak.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra.)

Hadist di atas menegaskan bahwa khalifah lah yang mengatur dan mengurus rakyatnya (kaum muslim) setelah Nabi Saw. Jadi esensi politik dalam perpekstif islam adalah pengaturan urusan-urusan rakyat yang didasarkan kepada hukum-hukum islam. Adapun hubungan antara politik dan islam secara tepat di gambarkan oleh Imam Al-Ghazali “agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (dasar) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang dan lenyap”.

Berbeda dengan pandangan barat yang mengartikan politik sebatas pengaturan kekuasaan, bahkan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dari politik. Akibatnya yang terjadi hanyalah kekacauan dan perebutan kekuasaan, bukan untuk mengurusi rakyat. Hal ini bisa kita dapati dari salah satu pendapat ahli politik di barat yaitu Loewenstein yang berpendapat “ politicis is nicht anderes als der kamps um die macht “ politik tidak lain merupakan perjuangan kekuasaan.

A. Munculnya Emansipasi dari Gerakan Feminisme

Emansipasi adalah kata-kata yang cukup akrab di telinga kita jika yang di bicarakan adalah masalah tentang wanita. Istilah ini semakin populer pada era globalisasi ini, terutama setelah munculnya gerakan Women Liberation atau gerakan feminisme, gerakan perempuan yang menuntut  emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Sedang emansipasi sendiri memiliki pengertian sebagai usaha yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok untuk menuntut persamaan hak-hak kaum wanita terhadap hak-hak kaum pria di segala bidang kehidupan Wanita atau dapat juga diartikan memberi kaum wanita kesempatan bekerja,belajar dan berkarya seperti halnya kaum pria.

Di Indonesia pikiran-pikiran Kartini (sosok wanita yang dikenal sejarah perjuangan Indonesia adalah sebagai pelopor kebangkitan wanita pribumi) di tuangkan dalam bentuk surat-menyurat dan ditemui detail-detail masalah yang harus digugat oleh wanita, tetapi secara umum beliau menghendaki peningkatan harkat dan martabat wanita. Dalam surat-menyuratnya Kartini tidak menuntut hak-hak wanita agar seperti wanita di Barat, namun menuntut hak-hak wanita yang menjadi haknya, selain itu Kartini menganggap bahwa pria dan wanita itu memerlukan satu dengan yang lainnya,saling melengkapi.

B. Perbedaan antara pria dan wanita dalam ajaran Islam dan perpekstif oleh kaum feminisme.

Sering kita dengar dalam ajaran Islam bahwa wanita di ciptakan dari tulang rusuk pria yang artinya sejajar, para wanita ini tidak sama dengan pria melainkan sejajar. Pria memiliki kelebihan-kelebihan yang wanita tidak miliki begitu juga halnya wanita memiliki kehebatan-kehebatan yang mana pria pun juga tidak memilikinya.

Dalam Negara-negara Islam, kaum feminisme menganggap bahwa Islam telah membelenggu hak-hak kaum wanitanya, dengan berbagai macam alasan-alasaan yang dikemukakan sebagai dasar tuntutannya sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Ahmad Dahri (1992) antara lain adalah:

 

  • Masalah Hakikat Wanita

Bahwa perbedaan antara wanita dan laki-laki secara biologis telah dibesar-besarkan untuk menindas kaum wanita dan mereka menuntut untuk diadakan penyelidikan secara ilmiah sampai ditemukannya perbedaan laki-laki dan perempuan secara ilmiah.

  • Masalah seksualitas

Bahwa kaum wanita memiliki kebutuhan seksual sendiri yang dapat dipenuhi tanpa kehadiran laki-laki. Jadi mereka tidak akan tunduk untuk berhubungan seksual jika mereka sendiri tidak membutuhkannya. Mereka mengharapkan bahwa hubungan seksual tidak dipergunakan oleh laki-laki untuk mendominasi perempuan.

  • Masalah Keluarga

Bahwa kepentingan keluarga tidak harus didahulukan dari kepentingan-kepentingan kehendak individualnya. Siapapun bebas untuk mengaktualisasikan kehidupannya masing-masing.

  • Masalah Anak-anak

Bahwa para suami berkewajiban secara bergiliran mengasuh anak (ikut serta berperan ganda). Dalam pola mengasuh anak mereka mengusulkan penghapusan steorotipe bahwa anak laki-laki harus aktif sedangkan anak perempuan harus pasif, dirumah saja, dan bersifat keibuan. Iklim yang diciptakan adalah model kemanusiaan  untuk berkompetisi.

  • Masalah Pekerjaan

Bahwa pekerjaan harus tersedia untuk pria dan wanita sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mereka ingin menghapus pendapat bahwa wanita bekerja hanya sebagai sekretaris, pramugari, asisten peneliti dan pekerjaan lain yang menempatkan wanita hanya sebagai faktor subtitusi saja.

Apabila di perhatikan runtutan-rututan diatas adalah akibat tidak diterapkannya Islam dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah sendiri mencontohkan kehidupannya sehari-haripun beliau membantu isterinya untuk mencuci dan memasak. Ini menunjukan bahwa dalam Islam tidak terdapat pemisahan jenis pekerjaan antara wanita dan pria.

Gagasan pokok dari feminisme sebenarnya adalah bahwa wanita dan pria secara biologis memang berbeda, tetapi perbedaan ini seharusnya tidak boleh diterjemahkan menjadi sebuah penilaian yang tidak adil tentang pengalaman pria dan wanita, perbedaan biologis tidak boleh menyebabkan perbedaan dalam status hukum dan satu hak lebih berhak atas lainnya.

Dalam penelitian lebih lanjut dihasilkan suatu pernyataan bahwa sebenarnya agama adalah salah satu dari sekian sumber yang memicu munculnya feminisme . Agama dianggap sebagai penyulut ketidaksetaraan gender yang telah berates-ratus tahun lamanya terjadi. Berdasarkan hal ini rasanya tidak salah jika feminisme barat dianggap sebagai produk dari dominasi eksklusifitas gender oleh gereja dan diskriminasi yang vulgar antara pria dan wanita serta pengingkaran terhadap wanita dalam konteks hak-hak barat.

Sejarah panjang diskriminasi dan dominasi pria terhadap wanita seringkali bahkan hampir selalu disandarkan pada agama. Agama di jadikan sebagai justifikasi perlakuan bias gender oleh kaum pria. Hal ini secara tidak langsung menimbulkan anggapan bahwa kaum wanita adalah kelas rendahan dan tidak layak mendapatkan bermacam-macam hak bahkan dalam bentuknya yang lebih ekstrem dalam salah satu ajaran Gereja terdapat semacam keyakinan bahwa wanita adalah sumber godaan dan kejahatan.

Gerakan kaum feminisme merespon hal ini dengan niat dan usaha yang kuat untuk menghasilkan emansipasi wanita dari segala jenis pengekangan dan ketidak adilan, tidak heran jika kemudian kesetaraan dalam pekerjaan, status sosial dan politik serta kesetaraan dalam mengurus anak mereka perjuangkan. Mereka ingin keluar dari penjara ketidak adilan yang mengekang mereka selama berabad-abad lamanya. Mereka menghendaki pencarian kebebasan dalam segala hal sekalipun jika kebebasan itu melampaui batas-batas agama.

Adapun mengapa di Indonesia muncul pergerakan feminisme yang sering kita dengar dengan motor penggerak yang diteriakan kaum ini adalah kebebasan Kartini-Kartini muda itu tidak lebih karena peninggalan sejarah dari masa feodalisme yang mana jika kita tilik kembali sejarah Kartini yang hidup dalam keterbelengguan Keraton norma-norma adat Jawa yang saat itu mentabukan jika seorang wanita mendapatkan pendidikan dan hak yang sejajar dengan pria.

C. PANDANGAN ISLAM MENGENAI WANITA

Salah satu tema utama sekaligus prinsip pokok dalam ajaran Islam adalah persamaan antara manusia, baik laki-laki atau perempuan maupun antar bangsa dan suku, perbedaan yang meninggikan atau merendahkan seseorang di mata Allah SWT hanyalah nilai pengabdian dan ketaqwaannya kepada Allah SWT sesuai dengan hadist di bawah ini.

“wahai seluruh manusia,sesungguhnya kami telah menciptakan kamu (terdiri)dari laki-laki dan perempuan dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal,sesungguhnya yang termulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa” (QS.49:13)

Kedudukan wanita dalam pandang ajaran islam tidak sebagaimana yang diduga atau dipraktekan di masyarakat. ajaran islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan yang terhormat kepada perempuan. Muhammad Al-Ghazali salah seorang ulama besar fiqih kontemporer berkebangsaan Mesir, menulis ; “kalau kita mengembalikan pandangan ke masa sebelum seribu tahun,maka kita akan menemukan perempuan menikmati keistimewaan dalam bidang materi dan sosial yang tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di kelima benua. Keadaan mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam berpakaian serta pergaulan tidak dijadikan bahan perbandingan”

Almarhum Mahmud Syaltut, mantan Syeikh (pemimpin tertinggi) lembaga-lembaga Al-Azhar di Mesir, menulis “tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir dapat dikatakan sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan kepada lelaki. Kepada mereka berdua dianugerahkan Tuhan potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan yang menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktifitas-aktifitas yang bersifat umum maupun khusus. Karena itu, hukum-hukum syariat pun meletakkan keduanya dalam satu kerangka. Yang ini (lelaki) menjual dan membeli,mengawinkan dan kawin,melanggar dan di hukum, menuntut dan menyaksikan dan yang itu (perempuan) juga demikian,dapat menjual dan membeli,mengawinkan dan kawin,melanggar dan dihukum serta menuntut dan menyaksikan”.

Banyak faktor yang telah mengaburkan keistimewaan serta memerosotkan kedudukan tersebut. Salah satu diantaranya adalah kedangkalan pengetahuan Agama,sehingga tidak jarang agama islam diatas namakan untuk pandangan dan tujuan yang tidak dibenarkan.

D. Sejarah Wanita Berpolitik Dalam Islam

Islam telah selesai dengan masalah gender. Dalam Islam pada dasarnya semua manusia derajatnya sama baik laki-laki maupun perempuan. Yang membedakan adalah ketakwaan mereka. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah swt dalam al-quran

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” QS. An Nahl [16]:97

Dr. Ahmad Syalabi mengumpulkan beberapa ayat untuk menegaskan bahwa Islam telah menghapus diskriminasi antara laki-laki dan perempuan diantaranya:

Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.” (Al-Isra : 70)

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (An-Nisa :32)

“…para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf”. (al-Baqarah : 228)

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(At-Taubah : 71)

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (Ali-Imran : 195)

Namun demikian Dr.Yusuf Qaradhawi menemukan dalam beberapa fakta pada masa Rasulullah dan para sahabat, bahwasannya kaum wanita dapat berjuang sejajar dengan kaum pria, dari fakta ini nanti akan kita bahas bagaimana keterlibatan wanita dalam bidang politik. Beberapa fakta tersebut antara lain :

  • Perempuan pada zaman dahulu ikut datang berjamaah dan shalat jumat di mesjid Rasuullah Saw. Nabi Saw memerintahkan mereka agar mengambil shaf-shaf yang terakhir, yaitu di belakang shaf laki-laki. Semakin shaff itu lebih dekat ke bagian belakang maka semain mulia karena takut kalau aurat perempuan tampak di hadapan kaum laki-laki, di saat mayoritas  dahulu tidak mengenal celana dan tidak pula ada dinding atau kayu yang membatasi kaum perempuan dengan laku-laki[4].
  • Pada awalnya laki-laki dan perempuan masuk pintu mana saja yang mereka sepakati, sehingga terkadang terjadi persimpangan antara yang masuk dan yang keluar. Nabi Saw pun bersabda “ Alangkah baiknya jika pintu ini dikhususkan untuk perempuan”. Akhirnya mereka mengkhususkan satu pintu untuk kaum perempuan, sehingga sampai sekarang dikenal dengan nama pintu perempuan (baab an-nisa’) .
  • Imam Muslim meriwayatkan dari Umu Athoyah, ia berkata “ Kita dahulu diperintahkan untuk keluar pada dua hari raya, juga perempuan yang dipingit dan yang masih gadis.
  • Aktivitas perempuan juga sampai pada keikutsertaannya dalam peperangan dan jihad. Di antaranya adalah untuk memberikan pelayanan kepada para tentara mujahidin dan pertolongan pertama kepada yang terluka.
  • Dari Ummi Athiyah, ia berkata, “Saya pernah berperang bgersama Rasulullah Saw, sebanyak tujuh peperangan. Saya berada di belakang mereka di perjalanan. Saya membuatkan makanan, mengobati orang-orang yang terluka dan merawat orang-orang yang sakit. (HR Muslim)
  • Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ada enam perempuan dari kalangan perempuan yang beriman dahulu ikut bersama tentara mengepung Khaibar. Mereka ikut memegang anak panah, memberi minum, dan mengobati orang yang terluka. Mereka juga bersenandung dengan syair-syair dan membantu memberi motivasi di jalan Allah. Nabi Saw, juga memberikan bagian ghanimah kepada mereka.
  • Bahkan ada riwayat yang shahih yang menjelaskan bahwa sebagian istri sahabat ikut serta dalam peperangan islam dengan membawa senjata ketika mereka diberi kesempatan untuk itu. Sebagaimana yang dilakukan oleh Ummu Imarah Nasibah bintai Ka’ab pada perang Uhud, hingga Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh posisinya lebih baik daripada Fulan dan Fulan”[10]
  • Kontribusi Wanita Muslim dalam Bidang Seni

Khansa bint Amr dikenal sebagai penyair kondang. Menurut ibnu Atsir, semua pujangga terkenal secara bulat setuju tak ada puisi yang seindah puisi Khansa, sedang Nabi sendiri menghargai bait-bait puisinya. Dari kalangan wanita: Su’dah, Shafiyyah, ‘Atikah, Muridiyyah, Qunila Abduriyyah, Ummu Aiman, Ummu Ziad, dan Kabsah bint Rafi juga dikenal sebagai penyair pada masa Nabi SAW.

Nyaris tak ada perbedaan jenis karir selama kehidupan rasulullah SAW. Bertani, berdagang, bidangkonstruksi, menyamak, pertukangan, pembuat roti, guru, mengangkut barang, suster, perawat, dan pembela pertahanan Negara adalah aktifitas yang digeluti wanita pada masa itu. Tak ayal, secara praktis mereka melakukan kegiatan ekonomi dengan sebenarnya. Isteri para sahabat Nabi SAW berpartisipasi dalam segala aktivitas tersebut dengan ‘restu’ Rasulullah SAW.

  • Kontribusi Wanita Muslim dalam Bidang Hukum/Undang-undang

Banyak terdapat hakim wanita pada awal sejarah Islam. Dalam fiqh, Aisyah juga sama. Ummu Salam juga memilki jabatan hukum. Yang lain seperti Shafiyyah, Hafsah, Ummu Habibah, Juwayriyyah, Maymunah, Fatimah, Zahrah, Ummu Syarik, Ummu Athiyyah, Asma’ bint Abu Bakr, Hailah bint Qanif, Khaula bint Tuwait, Ummu Darda, Atikah bint Zaid, Sahalah bint Suhail, Fatima bint Qais, Zaynabah bint Abu Salamah, Ummu Aiman, dan Ummu Yusuf. Ulama terkenal abad pertengahan, Imam Badrudin Kashani, menjelaskan secara rasional tentang hakim (qadhi) wanita: “Jika seseorang memiliki kapabilitas untuk memberikan testimoni, maka sudah barang tentu ia memiliki kemampuan untuk memberi keputusan hukum”. Demikian pula al-Thabari, wanita secara mutlak dapat memberikan keputusan hukum dalam segala hal. Diriwayatkan, Dawud ibn Hisyam, salah seorang sahabat Nabi, kerap memberikan pelajaran al-Quran dari Ummu Sa’d Jamilah bint As’ad Anshariyyah, anak perempuan As’ad ibn Rabi yang berperang dalam Perang Badr dan syahid dalam perang Uhud. Sebagaimana halnya ibn Atsir, Ummu Sa’d hapal al-Quran dan sering mengajarkan pelajaran secara teratur.

Anehnya deretan nama-nama kerap tidak diperhatikan. Sejak abad kesebelas, tidak sedikit para ulama memberikan fatwa haram atas kasus wanita yang menekuni kerja. Beberapa pernyataan aneh menyeruak bahwa wanita tidak bisa berfikir, dan secara psikologis amat lemah.

Namun pernyataan tersebut irrelevan dengan fakta sejarah. Sebagai contoh, Nabi berkonsultasi dengan Ummu Salamah saat Nabi negosiasi seputar perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat marah terhadap lemahnya terminologi perjanjian tersebut. Ummu Salamah memberikan admonisi dan membantu menenangkan keadaan. Hampir sejajar dengan Ummu Salamah, Fatimah bint Qais sangat mumpuni dalam hal ini.

Ketika Umar wafat, Komite Pemilihan menunjuk Qais sebagai Khalifah selanjutnya. Umar menunjuk Syifa bint Abdullah ibn Syam sebagai administrator sebuah toko di Madinah (di sana terdapat pertokoan besar pada waktu itu). Berdasarkan Allamah ibn Abd al-Barr, Syifa bint Abdullah seorang yang sangat cerdas dan terpelajar. Umar sering mengambil inisiatif untuk menanyakan suatu hal tentang situasi psikologis suatu masyarakat padanya. Wanita pada masa itu bukan hanya memberikan pendapatnya dalam segala macam masalah, tapi juga mengkritik problematika yang dihadapi negara dan turut mengevaluasi serta memperhitungkan sisi praktis suatu undang-undang.

Dari beberapa riwayat yang dikumpulkan oleh Dr Yusuf Qardhawy tadi dapat kita lihat, bahwasannya pada generasi awal Rasulullah dalam momen tertentu terjadi dimana laku-laki dan perempuan beramal bersama-sama di medan amal yang sama. Mulai dari ibadah, menuntut ilmu, hingga peperangan. Dalam masa Rasulullah dahulu kegiatan berpolitik tidaklah seperti sekarang ini, seperti adanya pemilu, parlemen, dsb. Namun bila pemilu adalah suatu sarana untuk memberi pendapat atau kesaksian tentang kepantasan seseorang untuk menjadi pemimpin, maka sesungguhnya hal ini juga telah dilakukan oleh para shahabiyah. Sebagai contoh adalah bai’at aqobah pertama dan kedua dimana beberapa shahabiyah ikut serta pula di dalamnya.

Inna akramakum ‘indallahi atqakum yang artinya sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Dalam kalimat tersebut sama sekali tidak berkonteks laki-laki atau perempuan. Allah tidak pilih kasih dalam hal pahala dan ganjaran, begitu pula Allah tidak pilih kasih dalam hal dosa. Dan dalam hal kewajiban-kewajibannya sebagai hamba termasuk pula kewajiban-kewajiban terhadap agamanya.

Namun demikian Allah swt telah melebihkan sebagian antara laki-lai dan perempuan dalam masing-masing hal yang berbeda sesuai dengan fithrahnya. Di antaranya adalah struktur fisik masing-masing, dan hal ini juga tidak terlepas dari peranan dan tanggung jawab yang diberikan oleh sang Khaliq kepada masing-masing gender, kemudian dari peranan dan tanggung jawab tersebutlah maka terjadi perbedaan sebagian hak dan kewajiban yang diberikan oleh syariat islam. Namun hal tersebut tidaklah mengurangi kedudukan mereka di hadapan Allah swt. Bahkan bila masing-masing berjalan sesuai dengan perannya maka ganjarannya adalah setimpal. Demikian yang dikatakan oleh al-Hadits :

“Sesungguhnya Asma binti Yazid As-Sakar ra datang menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata “Sesungguhnya saya utusan dari sekelompok wanita muslimah di belakangku, mereka semuanya berkata dan sependapat degan perkataan dan pendapatku. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada kaum pria dan wanita, maka kami beriman dan mengikutimu. Dan kami kaum wanita terbatas, banyak halangan dan penjaga rumah. Sementara kaum pria diutamakan dengan shalat jamaah, mengantar jenazah, dan jihad. Ketika mereka berjihad kami menjaga harta mereka dan mendidik anak mereka. Apakah kami bersserikat dengan mereka dalam mendapatkan pahala wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berpaling ke arah sahabat dan bersabda, “tidakkah kalian mendengar ungkapan seorang wanita yang lebih baik pertanyaannya tentang agama daripada wanita ini ?” Sahabat menjawab “Benar wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam” Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda “pergilah wahai Asma, dan beritahukan kepada para wanita di belakang kalian bahwa kebaikan (ketaatan) salah seorang kalian kepada suaminya, mencari keridhaannya dan mengikuti apa yang dia sukai, menyamai (pahalanya) dengan semua orang yang engkau sebutkan.” ( HR Bukhari dan Muslim)

Dengan ketentuan ini sesungguhnya islam telah memuliakan wanita, belum lagi peranan mereka sebagai ibu yang sangat penting dan mulia dalam islam.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *