Pokoknya minimal 10 juta

Sekitar pertengahan tahun 2004 ada seorang teman laki-laki yang bertanya pada saya. Sebagai informasi, pertanyaannya timbul karena ada seorang teman perempuan kami yang menikah dan calon suaminya memberikan sekitar 25 – 30 juta untuk biaya penyelenggaraan pernikahan.
Pertanyaannya pada saya adalah begini, “Bisa gak ya, Tin, gue nikah cuma punya uang 10 juta.” Pertanyaannya membumbung seiring tengadah tatapannya ke langit-langit.Saya bengong dan langsung nyeplos, “Gila lo ya!!! 10 juta tuh banyak banget dan sangat-sangat-sangat mungkin buat lo untuk nikah dengan uang segitu.”
Tapi, jawaban saya yang setidak-tidaknya menggambarkan bahwa uang 10 juta itu banyak banget dan cukup banget buat nikah tidak mengubah mimik mukanya yang sudah terlanjur meyakini bahwa menikah membutuhkan dana sampai 30 juta.
“Perempuan sekarang kan maunya pesta mewah, Tin.” Tukasnya masih dengan tampang murung.
“Dan masih banyak perempuan sekarang yang mau nikah dengan cara yang sederhana.”
Jawaban saya mengakhiri percakapan kami sore itu.
Sekitar tahun 2007, percakapan tentang biaya pernikahan ini kembali terulang. Di tempat dan waktu yang berbeda tentunya. Percakapan antara seorang gadis berumur 23 tahun, yang mana gadis itu adalah saya, dan seorang ibu yang usia pernikahannya telah memasuki 18 tahun. Sebuah umur yang cukup panjang di tengah fenomena gampangnya kawin-cerai masyarakat Indonesia.
“Adikku yang paling kecil waktu nikah, calon suaminya cuma ngasih 1 juta.
Calon suaminya kan anak yatim, pekerjaannya juga belum tetap. Tapi, kan kita semua mau menjaga agar jangan sampai terjadi sesuatu yang kita semua nggak inginkan. Jadi, pernikahan itu tetap dilaksanakan. Jadi juga tuh nikah walaupun modalnya cuma segitu.”
Ketika umur saya menginjak 24 tahun dan mulai serius untuk menjajaki kehidupan rumah tangga, saya pun akhirnya –mau tidak mau- memikirkan masalah pernikahan. Yang ada di bayangan saya adalah kami nikah di rumah, pelaminan yang sederhana. Makanan yang sederhana tapi enak, banyaknya doa dari undangan dan berkah. Satu lagi, jangan sampai kehabisan makanan. Nggak lucu kan kalau tamunya masih banyak sementara makanannya sudah habis?? Nggak kepikiran juga mau nikah di gedung yang mahal, dengan pelaminan yang spektakuler, pengisi acara Rossa dan MC Olga Syahputra. Definitely not me……
Dan akhirnya, kami menikah juga dengan acara yang sangat sederhana.
Awal 2010 ada seorang temana yang curhat sama saya. Dia sedang bingung tentang rencana pernikahannya. Sebenarnya dia sudah ingin menikah dan calon suaminya juga ingin cepat menikah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan itu.
Saya bilang, “Ya udah, tunggu apa lagi dong???”
Jawabnya, “Nyokap gue nggak mau kalo calon suami gue ngasih uangnya kurang dari 15 juta. Pokoknya minimal 10 juta lah. Gue bingung ni. Gue dah tanya sama calon suami gue, punya nggak dia uang segitu. Dia bilang si belum ada karena dia juga kerja kan belum setahun. Gue bingung nih, Tin….” Tampangnya mulai bete.
Dan sejak prosesnya sekitar bulan november 2009 sampai dengan sekarang, belum ada kepastian apakah teman perempuan saya ini akan menikah atau tidak.
Kalau saya sedang sendiri, saya suka memikirkan lakon-lakon yang barus aja saya ceritakan di atas. Saya suka bertanya sendiri, apa iya untuk menikah saja sampai begitu repotnya, nggak mau kalah sama birokrasi pemerintah yang njelimet.
Kan yang paling penting adalah kehidupan setelah menikah kemudian punya anak, anak sekolah, anak sakit, dan lain-lain. Hal-hal itu yang membutuhkan biaya paling banyak kemudian hari. Walaupun saya belum memiliki anak, banyak teman yang cerita bahwa biaya membesarkan anak di jaman sekarang mahal banget. Apalagi kalo sakit, hoalah…..
Kadang untuk menikah, kita perlu memiliki power tersendiri. Mari kita bagi power ini menjadi dua bagian. Pertama finance power. Kita sebagai perempuan tentu saja tidak boleh santai juga menghadapi pernikahan. Jangan mentang-mentang kita perempuan lantas kita anteng-anteng saja dengan berpikiran bahwa tenang saja, kan biaya pernikahan akan jadi tanggungan suami dan orang tua.
Kita juga harus punya tabungan untuk pernikahan kita. Sehingga ketika suatu saat calon suami kita datang ke rumah orang tua kita dengan uang seadanya dan muka orang tua kita berubah jadi ungu, kita bisa bilang sama orang tua kita, “Ma, tenang aja aku punya simpanan kok. Bisa buat tambah-tambah kalo uang dari si mas kurang.”
Pertama, hal ini menunjukkan kemandirian dan kesiapan kita untuk menikah. Kedua, hal seperti ini tentu saja meningkatkan harga diri kita sebagai anak di mata orang tua.
Power yang kedua adalah mental power.kalau kita tetap ingin melangsungkan pernikahan dan kita nggak punya uang untuk menambal biaya pernikahan yang kurang, terima saja ocehan orang tua kita. Toh, mereka pasti nggak mau malu dengan menggelar pernikahan yang apa adanya dan terkesan kekurangan di sana-sini.
Saya sih bukan tipe yang kalau nggak ada uang maka saya nggak bisa nikah. Karena saya percaya betul kalau pernikahan itu akan membuka pintu rizki. Kan kata Rosulullah, kalau kamu mau kaya maka menikahlah.
Kemudian, nikah itu kan ibadah. Nikah itu menyempurnakan setengah agama. Nggak ada jalan mulus kalau kita mau ibadah. Semuanya pasti terasa sulit. Yang penting kita berusaha. Biar Allah yang menentukan hasilnya.
Dan buat yang belum mau menikah karena kekurangan dana, JANGAN!!!! Menikahlah segera. Karena mungkin pernikahan Anda adalah pernikahan yang penuh berkah sehingga Allah akan mendatangkan kucuran rizki dari arah yang tidak Anda duga.

18 Comments

  1. asalamualaikum,, bu saya fera rencananya saya akan melangsung pernikahan karena saya juga sudah cukup umur dan orang tua saya sudah ingin agar saya menikah dan lagi calon suami saya juga lebih dari cukup umurnya(lebih tua 5thn dari saya)tetapi masalahnya calon saya itu adalah tulang punggung keluarga sehingga tidak dapat memberikan anggaran pernikahan yang lebih, sejujurnya sayapun tidak ingin pernikahan yang mewah seperti teman” ataupun saudara” saya, saya ingin pernikahan yang sederhana tapi lingkungan rumah dan keluarga sepertinya tidak mendukung, sehingga calon suami saya menjadi minder dan akhir” sepertinya ingin mundur! apa yang harus saya lakukan,jangankan 10juta 1juta pun dia tidak akan sanggup, padhal saya cuma ingin menikah karena ibadah kepada allah! umi tolong bantu saya?

  2. wa’alaikum salam.maaf ya agak lama balasnya….habis bantu teman yang baru melahirkan.pfiiuhhh….
    menikah merupakan hal yang umurnya tidak ada batasnya.artinya, tentu setiap kita menginginkan pernikahan yang umurnya panjang sampai Allah kembali mengumpulkan kita dan keluarga di syurga. untuk mengarungi kehidupan pernikahan yang panjang tentu nggak mudah. baik secara moril maupun materiil.ini juga harus jadi pertimbangan.
    kita tidak hanya butuh materi untuk menyelenggarakan pernikahan. lebih dari itu semua, kita butuh materi untuk kelangsungan rumah tangga kita.
    pendapat saya pribadi, nggak masalah kalau pernikahan digelar apa adanya, atau malah yang lebih ekstrem lagi, nikah di KUA dengan biaya hanya 30ribu. tapi, bisakah laki-laki ini menjamin bahwa dia bisa membiayai kehidupan rumah tangga kalian berdua kedepannya??? itu yang jauh lebih penting.
    orang tua tentu tidak rela melepas anak perempuan yang sudah dibesarkan dengan kasih sayang dan susah payah ke tangan laki-laki yang tidak bisa menjamin kehidupan anak perempuannya tersebut kelak.
    calon suami merupakan tulang punggung keluarga, tentu saja nggak masalah. akan jadi masalah ketika dia sudah mempunyai istri tapi semua penghasilannya dikasihkan ke keluarga dan istrinya tidak diberi nafkah. itu baru dzolim namanya.
    saya mau tanya,apakah fera sudah pernah ngobrol dengan keluarga tentang pernikahan seperti apa yang diinginkan oleh keluarga??apa sudah merupakan hal yang pasti dan keluar dari mulut calon suami fera kalau satu juta pun dia nggak sanggup??coba dikroscek dulu ya…..
    saya mendukung fera kalau fera memang betul-betul ingin menikah karena Allah.kalau niatnya sudah lurus, Insya Allah, Allah akan kasih jalan.
    selanjutnya,pertanyaan saya yang diatas dijawab dulu ya.nanti kalau sudah dijawab kita bisa diskusi lebih lanjut lagi….

  3. ya umi saya sudah pernah bicara pada mama dan bapa mereka tidak menuntut banyak untuk seperti apa pernukahan kami nanti mewah atau yang sederhana saja hanya saja sesuai dengan kemampuan calon saya tapi yang jadi masalah adalah basic keluarga besar saya karena saya pun cucu pertama dan anak pertama jadi keluarga saya ingin acara pernikahan yg standar pernikahan tanpa kemewahan tapi tetap sakral dan kekeluargaan, sementara yg saya tau dengan pernikahan yg seperti itu tetap saja harus menggunakan dana! klo untuk pertanyaan yg kedua saya pernah bertanya tentang hal itu tapi jawaban dia hanya berucap ” klo kamu mau menikah dengan aku saat ini aku hanya punya uang segitu aku g bsa janji kan apapun karena kamu tau kondisi aku seperti apa, di paksapun aku ga akan sanggup! Binggung umi saya jadi serbasalah dengan kondisi kami saat ini!

  4. sebenarnya jawabannya ada fera sendiri..kalau ibu perhatikan orang tua fera tidak menuntut banyak. memang semuanya pasti memerlukan dana. ibu belum faham kondisi calon suami fera, apakah benar 1 juta pun tidak ada, ataukah memang kurang berusaha? bagaimana dengan menanggung nafkah keluarga…apakah fera sudah melihat kesungguhannya dalam mencari nafkah??? banyak-banyak berdoa dan istikharah…

    Wahai Dzat yg meneguhkan hati teguhkanlah hatiku diatas agama-Mu

  5. umi calon suami saya adalah anak yatim, dia jd penganti almrhum bapa menjadi tulang punggung keluarga dgn ibu dan 2 adiknya yg msh bersekolah, sementara gajinya hanya UMR jakrta dan harus menbiayai kuliahnya!saat ini calon suami saya hanya memilki uang tbungan 1 juta 5 rtus ribu, saya tau betapa beratnya beban yg dia tanggung sekarang, makanya saya tidak pernah menuntut banyak atas apapun karena saya mengerti betul kondisi dia umi!

  6. klo di cukupkan, insyaalloh Allah akan mencukupkan. yg penting Bapa sebagai wali nikah tidak berkeberatan, fera harus jelaskan kondisi calon suami ke bapa.
    perkiraan biaya KUA 500rb(klo akad dikantor paling 50rb), mahar 500 rb, makan2 utk keluarga+tetangga 1000rb (asumsi fera subsidi 500rb) baju pengantin laki2 pinjem jas aja…klo pengantin wanita bisa sewa atau kebaya jg cukup.

    “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)

  7. alhamdulilah terimaksh umi ats semua saran yg umi ksh buat fera! insyaallah saran dr umi sangat bermanfaat buat saya, dan akan saya coba diskusikan dg calon suami saya! semoga saran dr umi adalah jawaban atas doa saya kepada allah swt! doakan semoga dia benar menjadi jodoh yg terbaik dr allah buat saya umi! amin

  8. askum ummi saya minta tolong penjelasannya
    ummi cukupkah menikah deng modal 5 juta
    tapi saya takut pihak besan tidak mau sefitu maharnya

    saya bekerja di pt tapi belom di kontrak gaji saya 1,3 juta ummi umr

    apakah nikah harus selalu susah dan mahal saya pengen nikah agar tidak berbuat dosa

    1. Insya Allah cukup Pak Yudis…Teman2 saya juga rata2 memberikan dana persiapan pernikahan 5jutaan.bahkan ada ada yang kurang dari 5juta.Ada teman yang sanggup 2juta saja,ternyata lancar kok.malah walimahnya kayak orang nikah dengan biaya 20jutaan.suami saya jg dulu kurang dari 5juta kok 🙂
      Insya Allah…kalau niatnya ikhlas akan Allah mudahkan… 🙂 Pertolongan Allah itu datang dari arah mana saja.nggak akan diduga oleh kita 🙂

  9. asalamualaikum ,,, ibu tina.. saya berencana menikah tahun ini,, tepatnya tgl 12-12-12 tapi saya punya budget cuma 10 juta,,,, gimana caranya ya bu supaya cukup tapi tidak terlalu sederhana… tlng d jawab k email saya.. thanks

    1. waalaikum salam. kategori tidak terlalu sederhana seperti apa ya yang dek ninna maksudkan? konsumsi adalah biaya yang lumayan besar, jadi sangat berpengaruh pada budget…

  10. Assalamua’laikum,,salam kenal ummi,sya mw bertanya,bagaimana ya cara meyakinkan orang tua saya klo resepsi pernikahan sya bsa berjalan lancar hanya dengan uang 10 juta,calon saya hanya bsa memberi 10 juta,sedangkan pihak keluarga saya merasa zaman sekarang serba mahal jd klo uang 10 juta tidak cukup untuk biaya walimah,hanya cukup untuk nikah,karna saya anak pertama jd ortu saya ingin diadakan walimah yg baik tidak kurang sana sini,saya minta solusinya ya ummi,karna saya ingin segera menikah agar terhindar dari dosa,makasih ummi

  11. bu saya mau curhat……
    tiga bulan lalu saya tunangan namun dalam acara tunangan tersebut keluarga laki-laki tidak menentukan hari pernikahan akn berlangsung, acara tunangan ini hany sekedar tukar cincin saja. dan sampai detik ini keluarga laki-laki belum membahas masalah pernikahan, padahal hubungan kita sudah hampir 2 tahun, saya bingung dengan keluarga tunangan saya, masa saya harus mengajak menikah.

  12. assalam mualaikum, ibu saya putri saya langsung saja ke pokok permasalahnnya, calo suami saya bawain uang 10 juta, sedangakn kata kelurga saya yg lain tdk cukup minimal 20 juta, saya pun bingun sama keadaan seperti ini, saya pribadi say ikhlas lilahitaallah kalo di bwain cuma 10 juta utk nikah saja saya terima dan sangat bersyukur, karna saya berfikir diluar sana msh bnyk yg dibawaiin di bwh 10 juta.
    cuma bu yang jadi pertanyaan saya ini, apakah kelurga saya bisa terima saya cuma dibawaiin 10 juta, mama saya setuju kalo dibawain 10 juta ya wlpn gfak akan ada pesta cuma ada selametan ajh, tapi seperti bibi dan pama saya yg lainnya pastri gak akan kasih, bagaimana saya harus yakinnakn mereka dgn 10 juta saya bisa menikah wlpn sedikit saya bisa undang2 teman2 saya.

  13. salam buTina …
    sya Ika… saya seorang mahasiswi sem.4 umur sekitar 20 thn, saya punya pacar umurnya sekitar 26 thn dan kami sudah pacaran selama 2 thn..
    ketika berbicara masalah umur,saya rasa kami mmg sdh cukup mampu untuk bisa melewati masa muda bersama (menikah)…
    pasangan sy adlh seorang anak Yatim bu, sang Ayah sudah sakit2an dan tidak bisa bekerja selama hampir 5 thn dan meninggal 100hari yg lalu semenjak saat itu Dia menjadi tulang punggung keluarganya (ibu dan adiknya) oea dia jg punya kakak yg sdh bekeluarga namun menjengkelkan sekali ketika sering waktu sang kk yg datang meminjam uang namun tak pernah dikembalikan sedangkan pacar saya ini harus menanggung biaya sekolah dan keperluan rumah tangga ibu dn adenya…
    niat awal kami berencana untuk menikah setelah adeknya lulis dr sekolah menengah pertama tahun ini,tetapi tiba2 sang Adek yg egonya cukup tinggi meminta untuk dilanjutkan sekolahnya keakademi kebidanan yg biayanya saya rasa cukup WAH ketika harus melihat kondisi keuangan pacar sy 🙁
    alhasil kami pun berencana menunda pernikahan dan uang tabungan selama ini dijadikan untuk biaya sekolah sang adik… saya ikhlas bu, kemudian berpikir suatu saat nanti adiknya bisa membantu dia untuk merawat ibunya…bnyk org sekeliling yg sering bertanya kapan nikah kapan nikah???????? sy selalu menjawab nanti selesai kuliah!!!!
    terus terang buu,ketika melihat teman2 yg lain sdh menikah saya iri bu…saya mau seperti mereka…
    tapi pacar saya sdh berkata bahwa saya harus menunggu smpai adiknya lulus kuliah dl,setelah itu kami menikah.
    dg alasan dia takut kalau nantinya kami menikah cepat,dia tdk mampu membiayai keluarga kecil kami….
    bu,saya binggung…harus bagaimana?m
    tolong bu.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *