Tanggung jawab orangtua terhadap anak

1. Memilihkan calon ibu yang baik

Dari Aisyah r.a: “Pilihlah tempat air mani kamu, dan nikahilah orang-orang yang sepadan.”( HR. Ibnu Majah, Daraquthni, dan Alhakim)

Setiap anak mempunyai hak terhadap ayah dan ibunya jauh sebelum dia lahir, yaitu hak untuk memperoleh orangtua yang baik. Jadi kalau anak kita berakhlak buruk, lihatlah ibunya. Kalau ibunya baik, selanjutnya lihatlah bapaknya.

2. Mencarikan calon ibu yang jauh hubungan darahnya

Rasulullah saw bersabda: ” Janganlah engkau nikahi orang-orang yang masih berkerabat, karena anak diciptakan laksana cahaya.”

Hadits diatas terlihat bertentangan dengan QS An-nisa ayat 23-24 serta praktik Rasulullah dalam menikahkan Fathimah dengan Ali, yang harus diperhatikan bahwa hadits tersebut adalah petunjuk dalam mendapatkan kualitas keturunan. Allah tidak menyebutkan dalam alquran mengenai kualitas keturunan, Allah juga tidak melarang mencari jalan yang tidakbertentangan dengan syariat islam. Hadits di atas merpakan petunjuk  yang mudah dalam menghindari kemungkinan terjadinya kelemahan keturunan akibat pernikahan dengan keluarga dekat.

3. Mengutamakan calon ibu yang perawan

Rasulullah saw. bersabda kepada Jabir ketika ia kembali dari medan perang Dzatur Riqa’: ” Wahai Jabir, apakah nanti kamu akan kawin?” Saya jawab: “ya wahai Rasulullah.” Sabdanya: “Dengan janda atau perawan?” Saya jawab: “Janda” Sabdanya: “Mengapa bukan perawan, supaya kamu dapat bergurau dengannya dan ia pun bersenda gurau denganmu?” Saya jawab: “Sesungguhnya bapakku telah wafat saat Perang Uhud, sedangkan beliau meninggalkan tujuh anak perempuan. Karena itu, aku menikah dengan seorang perempuan yang mumpuni, ia dapat mengasuh mereka dan melakukan kewajiban terhadap mereka.” Sabdanya: “Engkau benar, Insya Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam lebih mengutamakan umatnya untuk memperoleh suasana gairah hubungan suami istri yang penuh gairah dan semangat yang tinggi karena sangat besar pengaruhnya dalam mengusahakan keturunan. Lagi pula para janda telah mempunyai kesan pribadi dengan mantan suaminya, besar kemungkinan kondisi kejiwaan menyebabkan kurang meriah/semangat dengan suami barunya.

Adapun Rasulullah memang mempunyai istri yang lebih banyak janda daripada perawan, adalah untuk menjalankan kebijaksanaan dakwah yang memang diridloi oleh Allah.  Jika ternyata terdapat kenyataan khusus sehingga memilih istri janda lebih baik daripada perawan, maka Rasulullah pun membenarkannya.

4. Menghayati fungsi anak

“Harta dan anak-anak itu adalah perhiasan kehidupan dunia…” (QS. al-kahfi 46).

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami); dan jadikanlah kami imam bagi golongan orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al furqon : 74).

Orang tua secara naluri ingin memperoleh anak yang dapat memberikan hiburan dan kesenangan pada dirinya, orang tua semestinya mendidik anak-anaknya menjadi anak shaleh, anak yang mengerti agama. Jadi agar fungsi anak berjalan sebagaimana mestinya-yaitu sebagai perhiasan, penghibur, pemberi kesejukan dan pengangkat martabat orang tua – maka orang tua bertanggung jawab mengenai fungsi tersebut, orangtua wajib mendidik mereka menjadi anak yang shaleh.

5. Memohon perlindungan kepada Allah ketika berjima’

Rasulullah Saw bersabda: “Jika seseorang diantara kamu hendak bersebadan dengan istrinya, maka bacalah: “Bismillah! Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari (anak) yang akan Engkau karuniakan kepada kami. Kemudian jika berbuah dari mereka ini seorang anak, maka setan tidak akan merugikannya selama-lamanya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Kesalehan orangtua dalam berdoa ketika bersebadan mempunyai pengaruh terhadap ruh anak yang akan dilahirkan, walaupun orangtuanya kemudian wafat sebelum sempat mendidik anak-anaknya, pengaruh kesalehan orangtua akan menembus kedalam jiwa anak-anaknya.

“ Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. (QS. Alkahfi 82).

6. Tidak bersikap zhalim dalam menyambut kelahiran bayi perempuan.

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah. Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS. An nahl : 58-59).

7. Bergembira menyambut kelahiran anak.

“Dan Sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.” (QS. Hud: 69)

8. Memberi nama yang baik

Dari Abu Darda ra, katanya: “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kamu sekalian pada hari kiamat akan di panggil dengan nama kamu dan nama bapak kamu. Karena itu, hendaklah perindah nama kamu.” (HR. Abu Dawud)

Memperindah nama adalah memakai nama yang baik, nama yang baik mengandung makna pujian, doa dan harapan dan gambaran semangat orangtua. Nama tidak hanya dipakai semasa hidup didunia, tetapi terus terpakai sampai alam akhirat.

9. Mengaqiqahi

Dari Samurah, sesungguhnya Nabi Saw telah bersabda tentang aqiqah: “Setiap bayi tergadai pada aqiqahnya, disembelihkan pada hari ke tujuh dan pada hari itu pula dicukurlah ia dan diberi nama.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sesungguhnya Rasulullah menyruh mereka (para sahabat) mengaqigahi bayi laki-laki dengan dua ekor kambing setara dan permpuan dengan seekor kambing (HR. Tirmidzi).

Dari Ummu Kurzin al-kabiyah, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah tentang aqiqah. Sabdanya:”Untuk bayi laki-laki dua ekor kambing gibas dan untuk bayi perempuan seekor kambing gibas dan tidaklah merugikan kamu yang jantan atau yang betina.” (HR. Ahmad & Tirmidzi)

10. Menyusui

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al Baqarah :233)

Menurut Ibnu Katsir ayat ini memberi petunjuk agar ibu menyusui anak-anak mereka dengan sempurna yaitu selama dua tahun dan selebih dari dua tahun tidak dikatakan menyusui lagi.

Seorang ibu yang tidak mau menyusui dengan alasan menjaga kecantikan dan keindahan tubuh atau mengejar karir atau kesibukan kerja jelas merupakan tindakan durhaka kepada Allah dan zalim kepada bayinya karena telah menelantarkan kebutuhan anaknya.

11. Mengkhitankan

Dari Abu Ayyub ujarnya: Rasulullah Saw bersabda: “Empat hal termasuk sunnah-sunnah para rasul: khitan, mengenakan minyak wangi, siwak dan menikah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Mengkhitan dalah membersihkan alat kemaluan dari kulit yang menutupi kepalanya.

12. Menafkahi

“Dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma’ruf.” QS. Al Baqarah : 233

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” QS. An Nisa: 34

Kedua ayat tersebut menyatakan bahwa ayah bertanggungjawab mengusahakan nafkah bagi anak-anak dan keluarganya.  Secara ma’ruf maksudnnya mencukupi kebutuhan secara wajar. Jika ayah berlaku kikir, sampai terjadi anak dan keluarga hidup dalam kekurangan, maka ibu dan anak dibenarkan oleh islam untuk mengambil harta suami atau ayahnya untuk mencukupi kebutuhan secara wajar.

Dari Aisyah, bahwa Hindun binti Uthbah berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh Abu sufyan seorang laki-laki kikir. Ia tidak memberiku dan anak-anakku belanja yang cukup sehingga aku mengambil tanpa sepengetahuannya.” lalu Rasulullah Saw bersabda: “Ambillah apa yang mencukupi dirimu dan anak-anakmu dengan cara yang wajar. HR. Bukhari dan Muslim.

13. Memperlakukan anak dengan lembut dan kasih sayang

…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. QS. Al Imran 134

“Sungguh Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan” HR. Bukhari

Beberapa yang diajarkan oleh Rasulullah dalam bergaul kepada anak dengan kasih sayang antara lain: mencium kening anak; memberi nasihat mengenai ajaran-ajaran Allah sebagaiman Luqman terhadap anaknya; berbicara dengan anak sesuai kemampuan nalarnya; melayani permintaan anak-anak untuk menghibur mereka.

14. Menanamkan rasa cinta sesama anak

“Ibarat sesama mukmin dalam kecintaan, belas kasihan dan kasih sayang, mereka adalah bagai sebuah tubuh; jika satu anggotanya mengeluh maka seluruh anggota badan turut merasakan dengan berjaga malam dan demam.” HR. Muslim dan Ahmad.

“Manusia akan tetap dalam kebaikan selama tidak saling mendengki”. HR. Thabrani.

Kedua hadits tersebut dapat digunakan untuk mewujudkan suasana saling mencintai, menyayangi, mengasihi dan menjauhkan diri dari saling mendengki.

15. Memenuhi janji

Dari Abdullah bin Amir ra., ia berkata: Pada suatu hari ibuku memanggilku, sedangkan Rasulullah Saw. pada saat itu sedang duduk dirumahku. (Ibu) berkata:”Kemarilah, saya akan memberimu sesuatu.” Kemudian Rasulullah berkata kepadanya:”Apa yang ingin kau berikan kepadanya?” (Ibu) berkata: ” Aku ingin memberinya sebiji kurma.” Kemudian Rasulullah Saw bersabda kepadanya: “Sekiranya engkau ternyata tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka engkau telah dicatat berdusta.” HR. Abu Dawud dan Baihaqi.

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah Saw, sesungguhnya beliau bersabda: “Barang siap berkata kepada seorang anak kecil “Kemarilah dan ambillah”, tapi kemudian ternyata tak diberikannya apa-apa, maka dia telah melakukan satu kedustaan”. HR. Ahmad dan Abi Dunya.

Dalam hadits ini menegaskan bahwa menjanjikan sesuatu kepada anak dengan maksud membujuk tanpa memenuhinya secara konkret adalah perbuatan dosa. walaupun sekedar melunakkan kemaran anak atau menjauhkan anak agar tidak mengganggu atau memanggil agar anak keluar dari tempat bermainnya.

16. Tidak mengurangi hak-hak anak

17. Mendidik akhlaq

18. Menanamkan aqidah tauhid

19. Melatih anak-anak mengerjakan shalat

20. Berlaku adil

21. memisahkan tempat tidur putra dengan putri

22. Memerhatikan teman anak-anak

23. Mengajarkan Alquran

24. Mengajarkan halal dan haram

25. Menjauhkan anak dari bermewah-mewah

26. Mengajarkan tiga waktu aurat

27. Mengajarkan olahraga

28. Menghormati anak

29. Memberi hiburan

30. Mencegah pergaulan bebas

31. Menyuruh berpakaian taqwa

32. Menjauhkan dari hal porno

33. Menempatkan anak di lingkungan yang baik

34. Memperkenalkan kerabat

34. Mendidik bertetangga dan bermasyarakat

36. Membantu anak untuk menikah

37. Bersabar ketika anak-anak mendapat musibah

38. Mendidik anak menyayangi binatang

39. Menyuruh anak menegakkan amar mar’uf dan nahi munkar

40. Mewasiatkan islam kepada anak

 

Disarikan dari buku : Menjadi orangtua pemandu syurga, Drs. Muhammad Thalib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *