Test pack oh test pack…

Sebelumnya saya ingin mengajukan pertanyaan kepada para ibu yang sedang membaca tulisan saya ini. Apa yang Anda harapkan ketika Anda melakukan tes kehamilan dengan test pack? Tentu saja Anda menginginkan dua strip merah tertera di atas test pack Anda. Dua strip merah yang menandakan bahwa Anda positif hamil. Anda mengandung dan akan memiliki anak.

Sama seperti ibu-ibu lainnya. Saya pun menginginkan dua tanda merah itu. Tapi, setiap saya terlambat haid dan saya melakukan uji kehamilan dengan test pack hasilnya selalu negative. Puluhan kali sudah saya melakukan uji kehamilan ini. Dengan berbagai macam merek test pack dan harga yang bervariasi mulai dari yang 2000 perak sampai yang harganya 25000. Semuanya  negative.

Kondisi ini mau tidak mau membuat saya sedikit drop karena ternyata negative lagi, negative lagi.

Memasuki tahun pertama pernikahan kami, perasaan ingin segera punya anak itu semakin membuncah. Sudah setahun nih, belum hamil juga. Dokter kandungan pun mulai menyarankan untuk uji kesuburan. Suami saya pun diminta untuk uji sperma yang mana hal ini membuatnya marah-marah nggak karuan di klinik tempat kami memeriksakan diri.

Suami saya bilang kalau dia hanya mau diperiksa kalau saya sudah diperiksa dan dinyatakan sehat oleh dokter.

Okeh deh, saya terima tantangan dari suami saya. Saya merencanakan kapan akan datang lagi ke klinik untuk memeriksakan diri. Sekitar tiga hari sebelum periksa, saya merasakan badan saya meriang dan lidah saya pahit seperti orang yang sedang sakit. Badan saya lemas dan nafsu makan meningkat. Dalam hati saya berkata, jangan-jangan saya hamil. Tapi, segera saya tepis. Karena saya tidak merasa mual ataupun ingin muntah. Saya juga tidak menginginkan jenis-jenis makanan tertentu atau enek ketika mencium bau tertentu.

Tapi, akhirnya saya membeli juga dua buah test pack dengan harapan bahwa saya benar-benar hamil.

Esok paginya, saya menampung air urine pertama saya kemudian saya mencelupkan alat uji kehamilan tersebut. Lamanya sekitar tiga detik dan hasilnya baru bias dibaca sekitar lima menit setelahnya.

Dengan harap-harap cemas, saya melongok hasil uji kehamilan saya. Dan ternyata ada DUA STRIP MERAH di sana. Saya mengucek-ngucek mata, apa betul saya positif atau mata saya yang rabun. Saya memanggil adik saya dan menanyakan padanya.

“Dek, liat deh ini!!!”

“Aduh, Mbak, gue nggak ngerti lo positif ato negative. Gue nggak pernah pake alat yang begituan.”

Oh Gusti Allah, adikku ini ternyata sangat polos, atau bloon??? Padahal dia kuliah di Universitas Indonesia.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *