Tinjauan Psikologis Pra dan Pasca Nikah serta Solusi Permasalahannya

Kapan Waktu yang Tepat Untuk Menikah? Mengapa Harus Dalam Usia Tersebut?

MENURUT statistik, rata-rata usia pernikahan adalah 25 tahun untuk wanita dan 27 tahun untuk pria. Usia ideal tersebut mengurangi kemungkinan terjadinya perceraian pada pasangan menikah. Seperti banyak hal lainnya dalam kehidupan, selalu ada waktu yang tepat untuk berbagai hal, pun dalam hal menikah. Menurut sebuah artikel yang pernah dimuat di USA Today, banyak penelitian menunjukkan bahwa semakin dekat usia Anda pada 30 tahun saat menikah, maka kemungkinan berisiko lebih kecil mengalami perceraian.

Persiapan Psikologis apa yang harus dimiliki oleh calon pasutri?

A. Apa Motivasi Menikah?
Menurut seorang konselor perkawinan dan keluarga, ada banyak hal yang memotivasi seseorang untuk melangsungkan pernikahan, antara lain:

  • memperoleh kebahagiaan
  • merancang masa depan bersama
  • memiliki anak
  • hubungan seks
  • lepas dari rongrongan orang tua
  • status
  • kehidupan ekonomi lebih baik
  • keluar dari keluarga yang penuh konflik
  • menyenangkan orang tua
  • mengejar umur

Pernikahan sama artinya dengan mempersatukan dua orang dengan latar belakang berbeda untuk seumur hidup, dimana perubahan akan selalu terjadi dan masalah akan sering muncul, maka dari itu persiapan menuju pernikahan menjadi suatu hal yang sangat penting. Memahami motivasi menikah merupakan salah satu persiapan yang perlu disadari dan dipahami di awal agar nantinya bisa menjadi salah satu pondasi dalam membangun pernikahan yang super dan kokoh.
B. Memahami ada beberapa faktor yang mempengaruhi bagaimana sikap masing-masing dalam menjalani krisis pernikahan yang akan dihadapi.

Kekuatan, Batasan, dan Keintiman.

Di setiap krisis pernikahan menuntut pasangan untuk menyesuaikan dengan situasi. Pasangan yang sehat akan menyesuaikan diri dengan cara melakukan negosiasi ulang yang berkaitan dengan kekuatan, batasan, dan keintiman.
Kekuatan berhubungan dengan proses pengambilan keputusan. Siapa yang bertanggung jawab? Terhadap apa? Siapa yang membuat keputusan di area tertentu? Bagaimana tanggung jawab dijalankan oleh pasangan? Di dalam kehidupan pernikahan terus bergeser dan dibagi antara anda dan pasangan. Yang penting pasangan menyadari hal ini dan bernegosiasi untuk setiap penyesuaian sesuai dengan kebutuhan.
Keintiman bukan semata seksual saja tapi sejabh mana anda berdua dekat secara emosional. Seberapa banyak anda berbagi kecemasan, ketakutan, kesenangan, dan kejutan-kejutan lainnya dengan pasangan anda?
Batasan memberikan gambaran siapa yang terlibat dan siapa yang tidak lagi ■ terlibat dalam rumah tangga anda. Pada waktu yang berbeda di dalam pernikahan anda, anda perlu memutuskan siapa yang diperbolehkan dan siapa yang harus menjauh, sejauh apa orang lain boleh terlibat dan keterlibata sejauh apa yang boleh anda lakukan untuk rumah tangga anda.

Persamaan dan Perbedaan

Kimia cinta dibangun dari prinsip kesamaan. Salah satu alasan mengapa kita sering jatuh cinta dengan orang yang memiliki kesamaan fisik. Kita biasanya lebih nyaman dengan pasangan yang memiliki latar belakang sosial ekonomi sama, memiliki gaya hidup sama, pendidikan yang setara – memiliki pendekatan hidup yang mirip dengan kita. Namun jika masa kecil kita tidak bahagia, kita akan mencari orang yang berbeda dengan diri kita. Makin beda, makin baik.
Apapun persamaan dan perbedaan yang ada antara pasangan kita, pada pernikahan super tetap menuntut pasangan untuk membuat penyesuaian-penyesuaian.

Harapan

Kita perlu menilai harapan pasangan terhadap pernikahan. Mulai dari gaya hidup, mendidik anak, karir, dan hubungan dengan keluarga besar. Harapan yang di bawah sadar kalau perlu juga disampaikan kepada pasangan. Hal ini akan mempermudah anda untuk memahami bahwa pasangan anda juga manusia, punya kekurangan, dll
Harapan yang tidak disadari pasangan seperti tingkat energi fisik dan emosional. Setiap orang memiliki ritme energi yang berbeda dan juga reaksi beda. Demikian juga energi seks. Intinya pada hal-hal yang berkaitan dengan seks, setiap orang unik.
Dalam memainkan perannya, setiap orang juga berbeda tergantung contoh dari ortunya. Demikian juga waktu berinteraksi antar suami dan istri. Kita melihat hubungan ortu kita bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama, berbagi tugas, santai bersama, dan saling ketergantungan. Hal ini perlu dibicarakan dari awal pernikahan sebelum menjadi masalah di kemudian hari.
Kebutuhan emosional.
Kita semua membawa karung emosional ke dalam pernikahan kita. Jika kita tidak pernah belajar untuk menyampaikan kebutuhan kita kepada pasangan kita, maka kita cenderung akan defens, marah atau agresif pada waktu tertentu dan kita tidak mengerti kenapa.
Harga diri rendah. Jika kita menikah dengan orang yang memiliki harga diri tinggi, kita berharap orang tersebut dapat mengangkat harga diri anda yang rendah atau jika kita menikah dengan orang yang sama-sama memiliki harga diri rendah, kita berharap bahwa pasangan kita akan dapat memahami kita dan dapat menyembuhkan diri kita.

C.      Memahami cara kerja otak dan bagian otak mana yang lebih dominan dari setiap pasangan.
D.      Memahami lima area dalam perkawinan
E.      Perbedaan Psikologis pria dan wanita

Antisipasi dan Solusi masalah RT

Untuk bisa mewujudkan pernikahan yang super, menurut Adriana S. Ginanjar, psikolog, ada beberapa keterampilan penting yang perlu diketahui dan dikuasai oleh calon suami-istri, yaitu:

  1. Komunikasi yang efektif,
  2. Ekspresi cinta,
  3. Penanganan masalah
  4. Hubungan seks.

Komunikasi Efektif
Pasangan walaupun menggunakan satu bahasa yang sama, Bahasa Indonesia, namun belun tentu komunikasi mereka bisa berjalan dengan baik. Mereka pasti terpengaruh oleh gaya komunikasi dalam.keluarga mereka sendiri, kondisi emosi dan fisik, dan juga pengalaman sebelumnya. Contoh perbedaan dalam berkomunikasi yang sering terjadi antara lain adalah:
Pria cenderung bicara singkat dan padat, bosan mendengarkan cerita yang panjang, dan ingin selalu memberikan solusi. Sedangkan, wanita senang bercerita mendetil, ingin didukung, namun belum tentu membutuhkan solusi.
Pria lebih banyak bicara dengan melibatkan fakta tanpa perasaan, sedangkan wanita, kebalikannya; melibatkan perasaan serta pengalaman subyektif.
Pemahaman akan bagaimana gaya berkomunikasi serta pengalaman-pengalaman komunikasi sebelumnya dari pasangan, adalah salah satu pondasi dalam menciptakan komunikasi yang efektif. Lanjutannya, adalah saling memahami satu sama lain,
Ekspresi Cinta
Menurut Gary Chapman, setiap manusia memiliki cara mengungkapkan cinta masing-masing. Namun, secara umum, ungkapan cinta itu terbagi ke dalam 5, yaitu:

  1. Words of affirmation (ungkapan afirmasi). Bentuknya antara lain: kata-kata yang membesarkan hati, ungkapan dengan nada suara lembut, permintaan dengan kerendahan hati, atau pujian.
  2. Quality time (waktu berkualitas). Bentuknya antara lain: memberikan perhatian penuh, kasih sayang dan menikmati kebersamaan. Menikmati kebersamaan ini bisa berupa komunikasi timbal balik (saling mendengar dan bercerita) dan melakukan kegiatan bersama (nonton film, bepergian, dll).
  3. Receiving gifts (menerima hadiah). Bentuk ungkapan cinta ini adalah yang paling mudah dipelajari. Contohnya adalah memberi hadiah dan kejutan,
  4. Acts of service (pelayanan). Pasangan tentu memiliki kesibukan atau pekerjaan masing-masing. Bentuk ekspresi cinta ini adalah dengan memberikan bantuan pada pasangan ketika sedang membutuhkan bantuan. Misalnya, suami membantu istri untuk mengurus anak, atau istri membantu suami ketika sedang mengerjakan pekerjaan. Namun pemberian bantuan ini hanya akan memperkuat rasa cinta jika dilakukan dengan senang hati, bukan karena rasa bersalah atau terpaksa.
  5. Physical touch (sentuhan fisik). Sentuhan fisik yang dimaksud disini bukan melulu aktifitas seksual, melainkan bisa hanya berupa sentuhan di pundak, tangan, dsb. Bentuknya antara lain: pijatan, kecupan, menggandeng tangan, mengusap punggung, dll. Konon, ungkapan sentuhan ini sangat efektif dalam mengkomunikasikan cinta.

Bila pasangan memiliki cara yang sama dalam mengekspresikan cinta, hal ini tak akan menjadi masalah besar. Namun jika pasangan memiliki cara yang berbeda, tidak apa-apa. Pasangan tersebut haruslah mulai beradaptasi dengan cara mulai mengungkapkan cintanya sesuai dengan yang disukai pasangannya, ingat! Penekanannya adalah dalam hal menyenangkan pasangan, bukan hanya memenuhi kebutuhan pribadi.

Penanganan Masalah

Selanjutnya, konselor yang juga bergerak di bidang anak autis ini mengutarakan cara menangani masalah dalam pernikahan. Menurutnya, ada 2 masalah yang muncul dalam pernikahan, yaitu masalah yang berulang serta masalah yang bisa dipecahkan.
Masalah yang berulang adalah sebuah masalah yang sudah berulang kali coba dipecahkan, namun tetap saja muncul. Masalah ini juga kadang menimbulkan pertengkaran. Contohnya antara lain: sifat keras dari pasangan, sifat pemalu pasangan, dsb. Penyelesaian masalah ini, menurut Mbak Ina, begitu ia sering dipanggil, adalah dengan menerima kondisi pasangan apa adanya.
Sedangkan masalah yang bisa dipecahkan biasanya tidak memiliki muatan emosi yang besar, seperti masalah pengaturan waktu, mengatur kesibukan, dsb.

Hubungan Seks

Keterampilan terakhir yang dibahas namun seringkah dinilai tabu untuk dibahas secara umum, adalah keterampilan dalam hubungan seksual. Hubungan seksual yang dimaksud disini adalah segala kegiatan, mulai dari bersentuhan, hingga bersanggama.
Keterampilan ini sepatutnya dikuasai oleh setiap pasangan, karena percaya tidak percaya, hubungan seks adalah sebuah aspek penting dalam pernikahan dan nantinya akan mempengaruhi kepuasan pasangan dalam pernikahan.
Lalu, ia melanjutkan materi dengan memberikan beberapa kasus yang pernah ditanganinya. Dalam cerita itu, ditemukan beberapa masalah yang sering muncul, berkaitan dengan hubungan seksual, yaitu:

  1. Frekuensi hubungan seksual tidak sesuai dengan harapan,
  2. Pasangan terlalu pasif,
  3. Tidak puas dalam berhubungan seks, namun tidak berani mengutarakannya,
  4. Kehadiran anak seakan menjadikan hubungan seks menjadi kurang penting,
  5. Perasaan cinta dan gairah menurun drastis
  6. Disfungsi seksual.

Kesimpulan

Ada 3 hal berkaitan dengan pernikahan, yaitu:

  1. Tidak ada pernikahan yang ideal. Setiap pernikahan akan didera masalah,
  2. Kebahagiaan dalam pernikahan akan datangnya dari diri sendiri, yaitu cara pandang pasangan terhadap masalah yang mendera. Jika pasangan melihat masalah sebagai cobaan menuju arah yang lebih baik, mereka (mudah-mudahan) akan bisa melewatinya dengan baik pula,
  3. Kuncinya adalah komitmen satu sama lain untuk tetap berada dalam dan membangun pernikahannya.

Akhirnya, usaha, kerjasama, kejujuran dan keterbukaan dari masing-masing pasangan sebenarnya yang menyelamatkan banyak pernikahan. Cobalah bertanya pada diri sendiri:

  • Seberapa besar sayang anda pada pasangan anda?
  • Sudahkah anda memahami karakter pasangan anda?
  • Sudahkah anda mengetahui dan memahami apa sebenarnya keinginan pasangan anda?

Marilah sama-sama kita berdoa ….
Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrata a’yuun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa
Duhai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi cahaya mata penggembira hati dan jadikan kami sebagai panutan orang yang bertaqwa

Wallahua’lam bishowab
Sekedar inspirasi dan juga nasihat bagi diri dan keluarga saya.
Kutipan Seminar: Dra. Ery Soekresno, Psi

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *